Ga Semua Tergantung Venture Capital

Venture Capital hanya fokus growth ke depan-mu dan ekspetasi demi uang kembalian, daripada mencari jati diri bisnismu sendiri.

Terinspirasi dari tulisan New York Times tentang pesan para pengusaha Startup untuk Venture Capital: Get Lost

Ya aku ga pernah ketemu orang – orang Venture Capital bagimana, tapi aku pernah membaca tulisan orang Venture Capital juga menerapkan di jurnal ini, garis besarnya ga jauh dari growth team.

Erin Griffith bercerita kehidupan para founder bagaimana mereka bisa berdiritanpa pengawasan Venture Capital dan peringatan tidak semua startup bisa mengikuti prinsip VC.

“Di setiap unicorn, tak terhitung startup yang tumbuh terlalu cepat, membakar uang investor dan mati – kemungkinan tidak perlu. Business plan startup di desain untuk optimis menjalankannya sebisa – bisanya dan uang memperkuat jalan tersebut gagal atau sukses. Sosial media dipenuhi cerita para perusahaan di bawah tekanan hypergrowth, dihantui “toxic V.C.s” atau dipaksa untuk menaikkan nilai venture capital”

Masalahnya identik membangun Startup harus tergantung oleh Venture Capital, tak bisa kalau kamu jualan di toko buah segar setiap hari, ga jauh beda untuk bisnis online jual buah sama, karena “bisnis online” berarti harus ke Venture Capital?, tren ini tidak boleh terbiasa untuk mindset para pengusaha selanjutnya, sebelum genahkan lingkungan bisnismu hingga pasar kejam ini menerima-mu.

Dari artikel seorang Venture Capitalist sendiri, tak kelihatan bicara growth. Startups butuh mensyukuri modal untuk mencapai setiap goal besar kecil, akan terlalu bermasalah kalau modal tersebut hanya fokus untuk growth at any cost.

“Venture Capital bukan sistem buruk, tapi ini berbahaya”. Venture Capital memang bermanfaat untuk memenangkan ambisimu dari modal customer sendiri. Sayangnya sering digunakan distraction untuk kebiasaan buruk, ekspetasi terlalu berbahaya dan pemikiran dangkal yang menjatuhkan startup.

Bacaan lainnya dari penulis – kebetulan Eric Paley bekerja di Founder Collective, dengan sistem Capital berbeda, dari TechCrunch, tahap demi tahap apa yang VC inginkan dan apa yang pengusaha hindarkan.

Salah satunya, VC butuh millar dollar yang masuk menjadi dua tiga kali lipat keluar dan founder ga perlu masuk ke sistem asumsi logika mereka. Karena kalau udah skala dan kuantitas besar bermain seperti ini, di permainan ini, kebanyakan deal VC lebih banyak beresiko untuk founder daripada investor.

Berarti ini peringatan berbisnis zaman sekarang, bukan berarti melarang suara Venture Capital, ini soal apa tangan bisnismu berada di orang yang tepat untuk memberi modal?, ini termasuk kategori mengambil resiko. Walaupun rasanya Venture Capital berada di titik sedikit tinggi, karena kita biasanya mengajukan proposal bisnis modal kepada mereka, demi godaan finansial untuk mencukupi kebutuhan.

Ada waktunya untuk bisnis-mu tetap berada di prinsip, ada waktunya untuk bermain sehat, bukan dari suntikan Venture Capital, ada waktunya kepercayaan tanpa keegoisan untuk memanfaatkan VC. Kita berbisnis bukan berjudi, sok tahu duluan untuk masa depan sebelum menjalankan petualangannya, ke-makan keserakahan deal jual beli aset sebelum sukses di perjuangkan, Capital hanya uang, bukan rahasia keberhasilan ke depan.

Jadi berita – berita membosankan sebagian Startup dapat round dari VC, itu uang hanya numpuk, tanggung jawab juga numpuk, hilang diri sendiri, terpaksa mengalah kalah, di jual murah, terus pulang ke rumah.
Kamu mungkin harus mengikuti prinsip bisnis Jessica Lessin, di perusahaannya The Information, jurnalisme tech langganan berbayar, dia tidak tergantung Venture Capital, khawatir akan luluh kualitas untuk pembaca, keuntungan naik ga campur aduk ke pihak lain.


Jika kamu tahu sistem Venture Capital, berikan apa yang salah dari jurnal ini, kritik, suggesti atau feedback -> firasraf@kicikku.com