Untung Bisnis Mood Orang; Keraguan Screen Time dan Antisosial

Kenapa menulis bisnis teknologi enak kiblat Apple, Google, Facebook, Amazon dan teman – teman raksasa lainnya?, pertama mereka orientasi bisnis ekonomi teknologi ke depan untuk pasar global, terlalu besar untuk tidak tersentuh oleh kritik, tangan paling depan untuk mengubah inovasi dunia.

Sekarang aku ingin bicara “nasib” mereka, tanpa mereka jurnalis tech, termasuk KICIKKU tidak akan bisa membahas pandangan berbelit – belit seperti ini. Ada yang salah?

Jika aku merasa jurnalis tech, mesti obsesi lokal yang benar menerapkan teknologi, “Misalkan ramah lingkungan sistem untuk kolam lingkungan ikan lele dengan penerapan bla bla bla”, ini juga termasuk orientasi ekonomi, potensi bisnis baru dan efektivitas kerja.

Suara seperti itu memimpin kreativitas, jadi apa masalahnya sekarang? – Justru hal sekecil tadi berdampak besar untuk orang sekitar, sering dilupakan, mereka tidak punya pengaruh kredibilitas, kekuatan, ajang kompetisi hanya beri sekedar piala, bisnis inovasi mau-nya trigger sesuatu tak terhingga, investor maunya produk berstandar value + brand, jauh untuk lokal uji coba rumahan dan tetangga, terjual global dan cita – cita teknologi konsumen sudah terbawa arus sensasi, perhatian, hiburan agar orang kembali terus.

Referensi pertama, artikel awal tahunan dari Monocle kenapa bisnis yang dianggap serius memanfaatkan mood konsumen-nya

Ketika bisnis memanfaatkan mood orang untuk menyelesaikan masalahnya, hanya untuk menjadi “Happy”. Artikel awal tahun dari Monocle, era Smartphone sebagai media psikolog, solusi kejiwaaan manusia, apa ini termasuk bisnis yang serius?

App meditasi menjadi perhatian orang, sebagai teman fitur memenangkan diri, mungkin pengguna harus bertanya lagi ke dirinya, tidakkah mereka memanfaatkan kelemahanmu? – berlangganan bulanan hanya untuk menjadi “Happy”. Bisnis kreatif zaman baru, seperti sosial media menghilangkan bosan-mu, semakin bosan, semakin kamu tenggelam di sana. Karena ini pengembang memang serius berbisnis, momen di mana kamu sedih, jomblo atau frustrasi, mereka solusinya.

Ada hubungannya ketika kamu merasa berlebihan

Membaca surat kabar Casey Newton The Interface, tentang keraguan antara konsumen Smartphone dan untuk menjadi lebih baik, dia juga pun mengutip dari Wired, tapi apa yang dijelaskan Casey menanyakan penggunaan Smartphone masih samar – samar pengaruh aktivitas kita – “reconsidered”

Bullying, salah satu pokok diskusi sensitif

“bullying ternyata masih terjadi di dunia offline, ini yang tersembunyi hingga online membicarakannya. … (42% terjadi di Instagram)”

Data yang selalu mengaitkan konsumsi “Screen time” dan “bullying” memang sengaja tidak dipisahkan, agar kita mengaitkannya juga. Casey Newton menegaskan data screen time “setiap hari main game, nonton tv, pakai internet di rumah” tidak ada kaitannya pengalaman konsumsi digital anak zaman sekarang. Sebagian besar, ini dikaitkan dengan penggunaan Smartphone, se-akurat apapun statistiknya belum bisa merefleksikan efek pengaruh ke psikolog.

Satu sisi Smartphone juga bermanfaat untuk kalangan remaja sekarang, kurang-nya seks bebas, obat – obatan terlarang, kalangan remaja lebih suka melampiaskan lifestyle-nya di antara sosial media dan komunitas-nya. “Aku tidak yakin apa data ini benar – benar menjawab pertanyaan yang kita inginkan – atau ahli riset belum dapat pertanyaan benar” – dari kesimpulan jurnalis The Verge ini.

Penjelasan artikel Wired, proses ilmuan antara dampak positif screen time dan negatif tidak beri kepastian praktikal pengaruh screen time dan “Apa yang riset lakukan tidak akan menutup buku mempertanyakan efek teknologi. Justru, lebihkan keinginan nuansa pertanyaan tersebut”

Menurutku, ini terlebih lagi ke pilihan kita, karena mayoritas Smartphone sudah melekat, tidak ada baginya untuk mereka untuk mempedulikan pertanyaan well being tersebut, apakah opsi dari kanan lebih baik dari kiri?, itulah prinsip-mu.

Seandainya saja memang penggunaan sosial media dan adiktif Smartphone sudah berulang kali dapat peringatan tentang keburukannya, bisa saja kita berhenti dulu sejenak mencoba-nya, merasa lebih baik, tinggalkan, biasa aja?, lanjutkan.

Kolumn Mading

The Antisocial Network – Logic Mag

Ini suara dari orang yang mengerti komunitas seni atau DIY menyebutkan, Facebook tidak membawa komunitas-nya semakin dekat, justru menghancurkannya. Salah satu kutipan pemilik organisasi

“Ini hanya persepsi Facebook, justru membuatmu malas, telah tertelan jelas Facebook ingin kamu melakukan sesuatu, kamu pikir kamu mendapatkan sesuatu bahwa kamu berkomunikasi, tapi kamu sebenarnya hanya performing komunikasi, teater komunikasi ”

Gitu cara kerja sosial media, kelihatannya bicara di forum diskusi, tapi bukan anggapan ini naluri manusia bicara langsung dan sosial media sudah berhasil menggantikan budaya conversation.

“Apa yang komunitas sebarkan apalagi sekecil acara-nya akan kena bakar sistem algortima, apalagi mereka yang tidak bayar iklan. Namun, para independen DIY berharap menggunakan taktik hampir sama bekerja sama dengan corporate booking seperti Eventbrite dan Ticketfly, ternyata lebih lancar bersama Facebook.”

Akhir kata, produktivitas alat digital tidak semuanya menghancurkan. Yang pasti “Kita harus pandai melawan kenyamanan dan pastikan kita yang menggunakan digital tools dan bukan digital tools memanfaatkan kita, jadi soal membangun aktivitas, cari saja tempat lain” bukan Facebook.

Standar berita launchku

Motorola rilis kembali Razr, hp lipat terkenalnya, harga $1500 – WSJ

Kabarnya kesan mewah, akan produksi 200 ribu unit pertama dulu bersama partnernya, Lenovo juga Verizon untuk bagian Amerika. Ini lagi tren-nya hape zaman dulu dibangkitkan kembali, suasana nostalgia-nya. Kalau ini juga bisa membawa gaya vintage-nya tanpa android, aku beli.

Dan Nike meluncurkan sepatu pintar, Nike Adapt BB

Sebagai inisial luncur, Nike memilih basketball, menurutnya gerakan atlet-nya lebih experience untuk dibaca, daripada menjelaskan tekniknya, perumpamaan ketika pemain menggunakan Nike Adapt BB, sepatu akan menyesuaikan tekanan kaki inginkan dan membuatnya nyaman sesuai energi yang dikeluarkan.

Misal, mungkin cara nyamannya akan berbeda ketika kamu sedang pemanasan atau sedang lari sambil melompat tinggi, tergantung input dari preferensi app.

Koleksi Skateboard Supreme terjual lelang – Sotheby

Kolektornya Ryan Fuller, sudah mengoleksi sejak 2008 – mengumpulkan dari beberapa negara. Supreme sendiri memang terkenal budaya commerce skateboard-nya, sering berkolaborasi seniman lokal. Baca tulisannya selagi Sotheby peduli sejarah Supreme.


Jurnal hari ini gratis, langganan KICIKKU Memberships untuk jurnal selanjutnya dan past. Penulis masih terlalu muda, mohon feedback, komen dan masukannya -> firasraf@kicikku.com