Perubahan Iklim Menulis

Apa yang akan ku bahas selanjutnya mulai dari akhir Januari ini, ada pengaruh baru, berusaha menghindari cerita Corporate Silicon Valley,

walaupun aku membahas dunia bisnis, aku perlu belajar juga untuk menyimpang, maksudnya menyimpang mengambil sisi “ringan-nya”, aku ingin tulisanku ada sedikit bumbu dari literasi. Menulis saja ga gampang untuk selanjutnya, apalagi pikiran susunan literasi.

Bercerita pasangan kakek nenek menjalani toko grosir puluhan tahun juga bukan bisnis kecil – kecilan, bangun pagi tepat waktu, siapkan sarapan untuk kakek, siapin jualan toko untuk kebutuhan lokal sekitar, sore malam sudah termakan istirahat. Bukan bisnis kecil, kalau kebanyakan orang melihatnya itu bisnis kecil. Bandingkan dengan karir menulis di Internet, kelihatannya bisnis kecil cuma menulis, siapa kira kita di tengah – tengah miliaran tulisan setiap hari published, makanya KICIKKU dalam Bahasa Indonesia, memperkecil lingkaran, peduli lokal dan berbeda dari lain.

Kita sudah berada di lingkaran menjadi berbeda itu sudah sangat krisis. Pengusaha sekarang terlalu fokus menjadi nomor satu di mayoritas, daripada paling terbaik di industri-nya. 100 sudah cukup, 1000 juga cukup

Aku nemukan serial drama Jepang, di sini belajar lokal, tontonan-nya tenang relaks, Kodoku no Gurume, ceritanya sederhana, seorang businessman selalu berburu restoran ketika dia lapar setelah sebelum bertemu client-nya.

Kodoku no Gurume

Tapi lebih dari itu selama dia menikmati makan siang-nya, dia seperti mengulas makanan, perasaan hatinya sedang bernarasi bukan sekedar kalau ini enaknya, lihat cara dia melahapnya, selalu ada kalimat untuk memuji, terkejut di setiap penasaran-nya, pesan juga tergantung dengan perutnya.

Sekalian bisa mempelajari budaya Jepang, cara sopan masuk restoran, memulai mengakhiri santapan dan kebiasaan sana, bekal untuk kalau rezeki-nya bisa ke sana. Drama ini mengikuti sukses-nya awal dari komik. Ada pelajaran kehidupan lokal, bayangkan pengusaha kuliner sana hanya hidangkan tiga empat meja dengan puluhan menu pilihan, yang jalankan dua tiga orang dan lokal sangat menikmati bisnis-nya?,

kebiasaan ku suka membanding – bandingkan, apakah pengusaha internet lokal bisa ditemukan seperti cara orang penasaran lokal sesama lokal lainnya?, dari mulut ke mulut mungkin, budaya kota orang Jepang mereka jalan kaki sekitarnya untuk menemukan sesuatu baru, siapa yang penasaran, berani mencoba, berani konsekuensi gagal, dia pemenangnya. Perkotaan Jepang bisa memberikan kejutan orang lokal sendiri, hanya karena jalan kaki dan penasaran.

Seandainya Internet tidak ada Search Engine, apa pengguna-nya bisa mencari tahu di mana kepuasan selanjutnya, tersesat dulu atau nyaman dulu?, banding suggesti mengendalikan kepuasan-mu, itu sedikit manja bagiku. Sama juga hanya tinggal di tengah kota, ingin cari burger terenak, ujung – ujungnya McDonald, mungkin ada burger lebih enak dari itu, kalau ga dicari ke ujung lokal, nyerah lem-nya udah kuat lengket ke McDonald.

Tontonan adiktif penghilang stress Kodoku no Gurume, kalau kamu ingin nonton cari saja di website bajakan favorit-mu, di Netflix mungkin juga ada.

Dari Amerika ke British

Ku akui referensi tulisanku kebanyakan dari belah Amerika, bagaimana kalau metik dari Inggris, setidaknya aku tahu beberapa, Mathematician terkenal Hannah Fry publik figur sains di BBC. Atau Columnist membahas behaviour bisnis, Rory Sutherland, terus ada nasehat kreatif dari Dave Trott dan majalah favorit Monocle.

Kemarin ketemu blog baru, blogger pengalaman 25 tahun british trader, bisa belajar menulis finansial dan perumpamaannya di sini, Polemic Pain’s . Terus mantan jurnalis Financial Times, John Authers, sekarang nulis kolumn di Bloomberg, lumayan referensi tambahan jadi pemerhati market global.

Sama – sama punya kekuatan pengaruh di Internasional, tapi Amerika lebih memimpin kalau kamu pertama kali mencari sesuatu bahasa Inggris. Konten dari Amerika selalu keluar lebih banyak dari Inggris, tahu Wall Street Journal, belum tentu tahu Financial Times, padahal orang kreatif Inggris tak sekali Sherlock Holmes. Jadi pandai – pandai gali bisikan orang lokal.

Berkunjung ke London sekali kali cari pandangan dari Eropa udara segar, nampak bis merah dua tingkat di tengah finansial distrik-nya, Amerika sesak ikatannya sudah terlalu kencang, kebiasaan-ku sudah lengket di pengaruh kuat orang – orang sana, China belum tahu di mana awal referensi-nya, kota Shenzen katanya potensi ini, tapi ada pelajaran bagus dari Xi Jinping tentang literasi, terlalu rajin baca buku dan sejarah, akhirnya idealis komunis-nya tercapai.

Tags: ,

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: