World Economic Forum Terdengar Kalangan Corporate

World Economic Forum, siapa yang mendengar diskusi mereka?, orang – orang mereka saja, apa yang mereka bicarakan?, masalah dunia, terutama “global growth ekonomi melambat”,

para pemimpin dunia dan pengusaha internasional menganggap ekonomi dunia lambat, karena growth. Jadi sangat berbeda, orang menengah ke bawah sudah puas hari ini dan besok makan enak sambil nonton TV dengan konglomerat kelas atas khawatir satu tanda tangan di atas kertas jadi pikirannya berhari – hari, bisa kehilangan aset.

Acara di pegunungan Swiss ini, seolah mereka adalah orang tepat untuk membetulkan masalah dunia, menyebut masalah tergantung dari umum saja, misal “Airbus mengancam Brexit akan menghapus komoditas pekerjaan di Inggris”, “Diskusi utama kenapa China ekonomi-nya lagi lambat sejak finansial krisis-nya”, para pemimpin tersebut berbicara akan melihat data, kontribusi mereka tergantung balik keberuntungannya. Sekali – kali berada di suara bukan dari pihak corporate.

Setiap tahun sudah kewajibannya, World Economic Forum panggilan wajib untuk eksekutif tak terhindar, entah siapa yang menyelenggarakan atau mendanai acara ini, ritual para penikmat bisnis dunia bertukar ide.

Pesawat – pesawat pribadi berdatangan, media media televisi ambil pemandangan gunung, eksekutif berkumpul di Cafe mewah sambil menikmati Wine dan makanan pembuka, “Aku melihat ada sisi regulasi merendahkan produksi-mu, terutama Climate Change, perusahaan ini masih berjalan lancar, ku cover dengan aset $50m untuk buka produksi di negara berkembang gimana?, mereka royal dengan penggunaan produk-mu ini, ini sekretaris ku sudah bawa kontrak, trader sudah siap terima telfon ku, Analyst tidak bisa berharap lagi di negara Eropa seperti ini.”

Mengkhayal orang bisnis di WEF negosiasi-nya begitu lah, entah betul atau ndak, makanya pengaruh mereka hanya terdengar di lingkaran buatan mereka sendiri, terlalu jauh untuk orang awam mendengar cerita mereka. Tapi salah satu pengaruh perlu kamu dengar, para pemimpin dunia seperti Jepang, China, Afrika Selatan dan Jerman mempermasalahkan pengawasan global di industri teknologi. Tapi China mungkin ambisi-nya ingin posisi pemimpin Internet di dunia.

Ketika China ingin pertukaran informasi dunia berada di tangan mereka “Suatu universal sistem jaringan informasi”, Jepang mengalokasikan keberadaannya di hadapan dunia untuk Olimpiade 2020, Eropa masih belum sampai kesana, padahal essay kemarin sudah berjanji, setidaknya bisa mulai dari Airbus.
Aku belum sanggup dapat referensi dari Eropa selain BBC tentang krisis global kopi hutan, mungkin belajar bahasa “Jerman” bisa membantu.


Kolumn Mading

Never Tweet – NYTimes

Artikel ini termasuk berpengaruh untuk ku, selalu menahan untuk Tweet yang tidak penting, tapi exciting, merasa harus pikir dua kali, pantas ga ini jadi tweet selanjutnya, di depan orang bahkan ga exciting. Opini ini mengingatkan Twitter dengan jurnalisme Amerika saat ini, mungkin kebiasaan jurnalis sana. Kata – kata kita dianggap murahan banding pandangan yang kuat. Ini pelajaran untuk sabar, untuk hilang dulu sebentar bikin kejutan.

Jangan sampai momen tren K-Pop bikin gue tweet tak jelas.

Zuckerberg Berencana Gabungkan Message Whatsapp, Instagram dan Facebook – NYTimes

Tiga restoran nama berbeda, satu dapur sama. Tak lama akan menjadi satu restoran sama, yaitu Facebook. Jadi apa definisi netizen memperhatikan gerakan distribusi ini?, akan membuka komunikasi pesan di antara platform “nama” berbeda. Target proyek selesai awal tahun depan.

Goal-nya ingin men-otomatis kita: Selamat datang di dunia penyadapan – The Guardian

Cara baru kapitalisme menguasai, caranya gampang, tawarkan seluruh inovasi suatu perusahaan menjadi gratis bikin orang ketagihan dan tak terlewatkan, hingga tak sadar, kebiasaan dan data pribadi-mu menjadi produk untuk dijual. Ini pandangan orang Inggris, Eropa setempat lebih agresif soal regulasi data daripada Amerika, GDPR menurutnya sudah jalan bagus. “Digital teknologi sudah terbagi dua: yang menyadap dan tersadap”

Ironi Virgil Abloh – The Fashion Law

“Seniman menkopi seniman lain, hingga nemukan jati dirinya”, Virgil Abloh termasuk seniman demikian, tapi para pemerhati karya-nya mulai sadar untuk pertama kalinya pemilik Off-White mengambil terlalu banyak inspirasi dari seniman lainnya. “Tidak ada yang bisa menolak kekuatan Abloh di pasar modern, tapi juga ini sudah susah untuk melepaskan potensi antara perlakuan desain-nya sendiri dengan milik lain, dan di sini ironi bersama-nya”

Advertising sedang krisis, tapi bukan karena marketing tidak berhasil – Rory Sutherland

“Setiap orang yang berada di bisnis tahu cara advertising berhasil karena kreativitas, tapi fakta dan map yang ada di tangan mereka membuat mereka ambil jalan nyaman-nya saja. Selagi mengedepankan ekonomi efisiensi, skala daripada faktor psikolog.”. Tidak ada istilah instan untuk membuat advertising berhasil, untuk menjadi pemenang harus berada di lingkungan anti-kompetisi, ubah pola pikir agensi untuk tidak tergantung kekayaan data apa yang harus dilakukan, sekali – kali belajar jadi salah tanpa fakta dan logika.


Silakan kritik, suggesti jika ada kesalahan -> firasraf@kicikku.com