Pohon Tidak Selalu Tumbuh ke Atas

Mulai sekarang pengusaha Startup mesti hapus prinsip disruption terlebih dahulu, berpandang sewajarnya saja, tidak perlu serakah untuk menjadi canggih, tidak perlu beradu “semakin banyak semakin terbaik” atau “semakin murah semakin beruntung”.

Dari jurnal Harvard Business Review, era “Move Fast and Break Things” sudah berakhir

“Aku ingin melihat para pengusaha menyadari membuat produk “virtuous” *berbudi luhur memang memperlukan untuk tumbuh lebih lambat dari mereka yang sudah sebaliknya”

Ya produk berbudi luhur, murah senyum sesuai hatinya, mengembangkan apa adanya sesuai keahlian pengusaha itu sendiri, banding meraup seluruh kategori yang tidak memberikan kompetisi secara sehat. Pelakunya prinsip “growth”, siapa penyusunnya?, Venture Capitalist, aku pernah membahas sebelumnya tentang VC. Ingin menambahkan, Venture Capitalist hanya mau terima balik “segalanya harus menang”,

Masalah Startup di sini

“Mengindahkan bahwa solusi tercepat instan akan menggantikan pemain bisnis lama, dengan harapan budaya layanan baru, pasar akan rakus, tidak menyangkut masalah etika agar pengguna tetap melekat di bidang kesehatan, industri dan industri yang kritis”

Asal growth bisa bicara tumbuh banyak, di akhir cerita setelah pengguna membayarnya bukan peduli mereka, transaksi jadi rasa peduli mereka, demi kuantitas dengan perhatian – perhatian kreatif agar pengguna tetap berada di lingkaran mereka, makanya startup perlu jadi produk berbudi luhur.

Berarti selama ini kunci disruption salah?

Disruption tidak masalah, penulis mengedepankan AI juga, Startup dengan kumpulan rumus Algoritma harus pandai juga memberi alasan, kesimpulan dan jujur juga, untuk kembali ke bahasa manusia, awam. Seandainya saja seorang dokter mengaitkan analysis pasien dengan kecerdasan buatan dari Startup AI dan dokter tidak percaya dengan hasilnya?, bagaimana pihak konsumen akan percaya?

Salah satu Kasus algoritma AI menerjang keluarga di Inggris, seorang anak bunuh diri karena sosial media, dari BBC, orang tuanya menyebut “Instagram-lah yang bantu membunuh anak-ku”

Kembali ke jurnal tadi, apa bisnis kamu menumbuhkan ekosistem di mana inovasi berkembang?, bukan menumbangkan?

Gambaran Disruption sekarang, siapa yang paling murah dia pemenang, siapa paling banyak fiturnya dia pemenang?, Yang kena pembeli terlalu lemah dengan promosi harga tak masuk akal, pembeli ga punya kerjaan, atau pembeli tak punya uang. Hampir semua perusahaan digital mengikuti cara seperti ini, saling memonopoli, mengambil seluruh ladang kecil dan aku bertanya, apakah ini kompetisi sehat?

“Siapapun yang ingin menang, pakai curang atau tidak, tetap harus menang”. Gambaran kompetisi ini, agar bisnis tetap akal sehat, satu – satunya regulasi pihak otoritas, kasian juga para pengusaha kecil. Jadi ingat Warren Buffet, “orang sukses berbisnis punya ketegasan tidak mengikuti apa yang keramaian bicarakan”

Pikirkan pohon dekat rumah-mu, tumbuh tanpa orang sadari, kala-nya sudah besar dan tumbuh buah, tergantung pula perhatian-mu dengan pohon tersebut, belum tentu orang yang merawatnya menyiram-nya mengambil sukses perjalanan pohon itu, tapi seseorang dari belakang justru memanfaatkan tinggi pohon itu berlebih – lebihan, siapa kira menjadi lambat akan memberi keuntungan konsisten lebih?, lagi pula “Pohon tidak selalu tumbuh ke atas”

Melanjutkan akal sehat kompetisi, beralih ke artikel lama The Atlantic, Bagaimana belanja online membuat kita semua kelihatan bodoh, memperpanjang teori perusahaan Boomerang yang pernah di bahas jurnal sebelumnya.

Manusia melihat harga murah di produk tak terduga nilainya, bikin gairah dan siapa saja yang memegang bisnis ini, apalagi retail pandai menciptakan gairah tersebut. Sekarang di belanja online, ketika semua aktivitas internet mu menjelang transaksi terbaca (semestinya disadap), setiap pembeli akan dipasang harga sesuai kepribadiannya, Google mungkin mengetahui history browser-mu dengan kisaran harga sekian untuk membeli sesuatu dan iklan akan muncul dari prediksi berapa modal-mu untuk membeli ini.

Apa masalah dampak ini? – konsumen diperlakukan sebagai eksperimen data yang mereka kumpulkan, sejak Internet meluncur komersial. “Tapi di dunia nyata bukan eksperimen terkontrol”

Kelainan sistem jual beli sini, bagi economist yang melihat perlakuan corporate terhadap harga, permainan-nya bisa berjangka luas, pagi sore malam punya performa variasi menentukan harga, sama cara bisnis penerbangan, ada titik dimana kapan harga naik tetap pembeli menginginkannya dan ada momen murah tetap pembeli menginginkannya.

Pemain retail satu sama lain berperang harga, siapa yang salah satu memberi persepsi terhadap harga, salah satu akan jatuh cepat sementara.

“Naik turun ini membuat konsumen kena bodohnya dengan bayar lebih jika mereka tetap yakin kalau mereka bayar sedikit, terus cari – cari harga spesial dan diskon yang percaya khusus untuk mereka. Ini jalan terbuka untuk retail dan economist mengambil cawan suci-nya”

Memanfaatkan kekuatan dan kelemahan manusia bernafsu sesuatu, harga bisa memanipulasi, selagi data ingin membuktikannya. Jadi akal sehat kompetisi ini, apa era modern big data ini Manusia lebih emosional terhadap harga atau kata – kata emosional?

Kolumn Mading

Naik daun produk solusi “No Code” – Product Hunt

“Ada bisnis atau pengusaha punya jalan untuk mensewa pengembang, membuat kepentingan platform-nya, karena opsi “No Code” sudah banyak, ini lebih cepat dibuat dan perawatannya pun juga terjamin. Kita biasa mengira jalan susah yang hasil terbaik, kadang itu betul. Namun produk “No Code” sudah maju duluan, agak ketinggalan juga pake cara lama”. Penulis founder Product Hunt, Creator akan memanfaatkan kreatif solusi untuk keuntungan bisnis dan promosi diri, more people will become makers.

Benar MSG sangat buruk bagi kamu? – Serious Eats

Ini di luar kategori, apa yang kamu makan apapun di luar 24 jam terakhir, yakin terkandung MSG. MSG pertama kali ketemu di Jepang, ilmuan Biochemist Kikunae Ikada, penasaran apa yang membuat kaldu khas Jepang, dashi memberi rasa kuat, ternyata terkandung glutamic acid, kandungan MSG dari rumput laut.

Di tahun 1990, Aji-no-moto menyebar luaskan MSG di seluruh Jepang, hingga China pengaruh kuat-nya. “Orang sensitif MSG, akan pusing, wajah merasa bengkak, mati rasa di dada dan lengan, dosis MSG berlebih juga merusak sel tubuh binatang dan menganggu fungsi normal hormon, belum pasti jangka panjang di Manusia”, lebih baik hindari saja.

Tetap maju dengan menjadi tidak efisien – Farnam Street

“Menjadi salah tidak masalah, selagi itu jalan menuju tiket sukses, walaupun ga sempurna di sekarang. Efisien hanya untuk lingkungan statis, ketika lingkungan itu berubah, efisien mudah jatuh, kenyataan-nya lingkungan ini sudah berubah, kalau saja seseorang tidak efisien, dia fleksibel, belajar hal – hal baru, beradaptasi di tempat baru, tak masalah lingkungan apapun terjadi dengannya”


Silakan kritik, suggesti-nya dan ada tambahan revisi -> firsraf@kicikku.com

Tags: , , ,

%d bloggers like this: