AirAsia Indonesia tegas menarik data jual penerbangannya dari para unicorn traveling, semakin tersebar, semakin murah nilai-nya lah. AirAsia sebagai penerbangan harga terjangkau, punya muka tak mau tergantung dengan bisnis lain.

Jadi ingat, waktu lagi nongkrong di Starbucks, depanku ibu – ibu menghadap ke depan sambil memegang iPhone-nya, lagi cari tiket AirAsia, nampak App-nya warna merah kuat milik AirAsia, berkaitan direktur AirAsia Indonesia atas ketegasan ini “Customer kami pintar, mereka pesan lewat layanan kami sendiri.”

Kolumn Mading

Kenapa layanan Customer Service Buruk? Ini Menguntungkan – HBR, Perusahaan menampakkan Customer Service sebagai pendekatan mereka, di lain cerita asal pelanggan tidak minta uang kembali, karena layanan buruk, perusahaan harus tahu cara berasumsi mengakhiri argumen pelanggan, dengan standar nilai khusus balik pelanggan, pendeknya jadikan repot. “Inilah alasan perusahaan yang paling benci di Amerika, paling banyak menguntungkan, dan kenapa tetap saja customer service mereka paling frustasi”.

Alasan kenapa aku ga percaya dengan apps layanan manajemen apapun, dari essay The Ringer, apalagi masalah finansial, tidak akan ada hasil jelas dari dampaknya, walaupun sehebat apa para istilah Startup ‘solusi efektif’. Justru mereka memanfaatkan emosi masalah kita, kadang masalah lebih melampiaskannya cari solusi di App Store, kebiasaan Millennial sekarang, menjadi keuntungan untuk sistem langganan Apps.

Jual beli bisnis data, membentuk baru sistem kapitalisme? – Artikel dari The Baffler mempelajari garis besar Kapitalisme mengambil inspirasi method teknologi, sebagai pesan penyampaiannya pengubah struktur sistem dunia dan budaya, inovasi dan solusi, yang membuat kalangan publik ini sudah terpengaruh dengan ketergantungan para raksasa tersebut.

“Sistem layanan kesehatan dikuasai Apple lebih baik daripada punya Google?, antara bayaran mahal dengan perlindungan privasi, gratis bocor di mana – mana, mencegah kapitalisme kita perlu membuang perilaku modifikasi, perlukah kita punya pilihan untuk memilih antara mereka?”

Penulis membahas sejarah Shoshana Zuboff, seorang Scholar mendedikasikan puluhan tahun mempelajari bisnis teknologi, keberagaman informasi data dan evolusi kapitalisme, dalam buku terbarunya, The Age of Surveillance of Capitalism. “Surveillance Kapitalisme berburu dan men-otomatis pikiran kita”.

Gimana ‘Sim City’ meninspirasi generasi perencana kota, LA Times – Seingat main ini, sering terlilit utang, terlalu serakah bangun infrastruktur. “Bagi siapa yang ingin jadi perencana kota, Sim City perkenalan bagus untuk masuk industri. Siapa bermain akan mengerti apa yang salah dan benar dari game ini. Bagi yang terlalu masuk permainan dari awal hingga akhir, mungkin pikir Sim City hanya game untuk membangun kota. Dari mencerminkan dunia luar, Sim City bisa mengubah hiburan menjadi ideologi”

Kalau perumahan kamu punya pemandangan indah, bunga bersusun, menarik perhatian para pemakai Instagram, apa rasanya dilewati orang ramai terus? – Perumahan lokal di Paris dari CityLab, penghuni Rue Cremieux sudah sakit melihat para Influencer, tempat shooting, pemotretan. Mereka memutuskan ingin pasang pintu blokade tertutup setiap minggu dan siang hari. Mungkin, tidur siang mereka diganggu suara kamera, atau musik jalanan.

Perumahan lokal di Paris dari CityLab, penghuni Rue Cremieux sudah sakit melihat para Influencer, tempat shooting, pemotretan. Mereka memutuskan ingin pasang pintu blokade tertutup setiap minggu dan siang hari. Mungkin, tidur siang mereka diganggu suara kamera, atau musik jalanan.

Menjelang Airbnb masuk industri perhotelan, tahap pertama-nya membeli perusahaan HotelTonight, dari Quartz, yang sudah akrab pasar hotel, HotelTonight terkenal dengan pilihan hotel minimum di setiap kota, penginap tidak perlu pusing di antara ratusan pilihan, serta tawaran terbatas-nya. Ini masalah bagi kompetitor seperti Booking.com dan Expedia, karena bisnis ini ku rasa  80% lebihnya hanya promosi.

The Sharing Economy dari dulu Memang Scam *penipuan, OneZero, Ga mengira kan, masa depan yang terus memandu cara berinovasi ini dengan “Sharing Economy”, artikel ini memandu ini adalah ilusi ideologi para corporate, anggap saja Jakarta dari dulu memang macet bahkan sebelum budaya sharing ride datang, tambah si “Unicorn” bermunculan berarti sama saja menambah kemacetan, harganya memang lebih murah dari taksi, tapi kita lupa dengan sharing sesungguhnya, naik bersama dengan puluhan orang di satu transportasi publik. “Para pemain teknologi suka sharing, karena pelanggan yang menggerakkan sharing, tinggal selipkan bon di mesin otomatis buatan mereka”

Posted by:Firasraf

Based on Indonesia, designer, iOS Developer, and Art Books Dealer