Sedikit Pilihan, Banyak Kualitas

Kita ini tanpa sadar terus ditimpa – timpa oleh lingkungan modernisasi, tak pernah berhenti, di mana di satu sisi yang sukses harus menyangkut tumpukan uang, di satu sisi sukses harus berarti harus menumpuk berapa banyak followers-nya.

Memiliki satu brand terkenal, kelihatannya wajib, biar kelihatan terkenal-nya. Harus langganan satu layanan, demi kesenangan belaka. Jadi di lingkungan seperti ini, hanya satu kembali ke titik awal caranya, yaitu bagaimana manusia mengendalikannya?

Tidak sekedar mengendalikan, tapi manusia di tangan digital mudah kemana – mana tahu tidak konsekuensi-nya, padahal di rasa depan memang nyaman menikmatinya. Semakin sedikit pilihan, semakin banyak kualitas. Perhatikan lagi, kenapa Internet dengan mudahnya diakses, mudahnya itu kita beredar kemana – kemana, berharap minta – minta sesuatu, pengemis di antara pengemis minta satu sama lain. Tumbuhnya, platform Internet sekarang ada dua kecenderungan baru cara berinovasi,

1. Inovasi karena kesadaran, kesadaran bahwa alur cerita konteks teknologi berada di jalan yang salah, pemihak sini lebih memikirkan kemanusiawi, non-profit dan realistis penjualan.

2. Inovasi karena pertumbuhan, rata – rata konsep bisnisnya sama di bagian ini, perbedaannya siapa yang berani mengambil resiko di antara lain dan di sini hujung – jujungnya mengambil jalan Monopoli.

Pemikiran menjadi pengusaha Internet, mungkin harus terbiasa menjadi pengusaha retail di antara toko – toko lainnya, daripada pemikiran seperti pengusaha minyak Aramco Arab Saudi. Sayangnya kalau seandainya pemikiran kita seperti pengusaha retail, manusia di asli-nya saja belum tentu lewat di tempat kita, apalagi di Internet. Hebatnya, suasana serba instan Internet, hanya tertuju ke satu niat “How to get money”, tumbuh beranak tergantung passion masing – masing, asal “How to get money” terjawab. Ni para pemimpi independen dan individualisme yang merasa, kesuksesan akan berada di tengah pagi Cafe mahal sambil menikmati kue dan Espresso. Buktinya?, ada yang terjawab ada yang ga.

Semakin mudah, semakin tidak terkendali

Kasus perubahan konsumsi dari era inovasi sekarang, jatuh di atas tanggung jawab generasi Millennial, kolumn dari The Cut “Apakah Millennial belajar untuk menjadi dewasa” – “Tumbuh dewasanya kita, diikuti dengan pesan GrubHub, di tengah meja properti WeWork, sambil menunggu barang dari Amazon. Pura pura nongol di Tinder cari suami / istri baru” Hawa hawa artikel kritik cara anak muda beranjak ke dewasa, apa kita salah beranjak seperti raja, daripada di tengah tengah naluri bertahannya manusia. Selalu didorong dengan pilihan pilihan tersebut, seakan manusia memang sudah menyerah atas pengendaliannya.


Apple Music diam – diam tumbuh lebih besar dibanding Spotify di pasar Amerika – Recode

Mengutip laporan dari Wall Street Journal, bahwa Apple Music sudah mencapai angka tertinggi 28 juta pelanggan, dibanding Spotify 26 juta di pelanggan untuk di pasar Amerika sendiri, dari sumber tak bernama. Rencana bertahap untuk menjual layanan industri lainnya.

Apple mengambil titik lemah pengguna iPhone, kekuatan rantai ekosistem-nya. Ngapain kemana mana lagi, kalau Apple menawarkan layanan langganannya, tinggal dihidupkan saja tagihannya, kamu sudah dapat apa yang sesuai kualitas Apple sama kan.

VSCO gugat PicsArt karena eksploitasi aset filter mereka – TechCrunch

Secara logis, aku lebih memihak ke VSCO. Sekaligus pengguna, VSCO memang mendedikasikan produk mereka untuk terus meracik filter di prinsip hati perusahaan digital foto ini. Kalau baca surat gugatan mereka, panggilannya “VSCO Scientist”, istilah serius-nya berlaku. PicsArt, penerapan produknya beda, lebih memilih konsep zaman trendy sekarang, karena VSCO lebih ke sisi aesthetic seni-nya. Bisa jadi PicsArt ingin membongkar kode kode hak cipta-nya VSCO diam – diam, kecemasan agresif mereka.

Do you really need a car? – Idler Magazine

Ini dari kiblat Inggris, negara Eropa ga masalah punya mobil atau ga, karena penduduk lokal mereka memang cari yang sejuk, sepi dan masih menghargai peninggalan para petuah-nya. Ada fakta penting di sini, 80% pengguna mobil di UK, statusnya masih bayar utang.