Lebih baik ga lakukan apa apa

Penulis dari Jepang, salah satu karyanya terinspirasi dari keseharian dirinya pergi ke sebuah toko Retail kecil, seperti Minimarket, untuk membeli kebutuhan makan dan minumnya, dia takjub dengan penjaga toko tersebut, bertahun tahun dia menjaga toko tersebut, hingga realitas nasibnya akan terancam berakhir, karena kebanyakan orang sudah serba online kebutuhan grosirnya. Cari tahu nama dia, tulis di Internet “Convenience Store Woman”

“Sebuah intimasi terjadi, ketika satu bertemu satu lainnya di satu tempat”, pernah dengar istilah ini di belahan Internet mana, mempelajari Internet, semakin ingin menghindari ambisi Internet. Efektivitas semakin cepat, semakin juga orang malas. Semakin orang menghindari emosi dari emosi orang lain, semakin orang memalsukan emosi-nya.

Artikel dari NYTimes membuktikan krisis “Intimasi”, kebiasaan pemilik Cocktail atau Cafe akan tahu siapa pelanggan biasa yang datang setiap hari, setiap minggu, “Baru kelihatan kamu, dari mana kamu” “Dinas pekerjaan, pesanan biasa ya!”. Bayangkan saja film – film America, diri tokoh utama-nya selalu merefleksikan apa yang terjadi di tempat nongkrong langganan-nya, “Messy man, you looks noisy in your problem” “Just give me my scootch”.

Aku iri dengan orang – orang klasik di atas, karena kebetulan bisnisku banyak ke digital, sangat langka bagiku untuk menikmati momen tersebut, setidaknya tahu mana yang seharusnya “inovasi” datang, di mana seharusnya inovasi digital ga perlu datang.

Internet ga bisa berikan apa itu “Intimasi”, mereka bicara skala, di tengah tengah universal, yang tidak ada batasannya, apalagi Startup yang mengesampingkan ide untuk kebutuhan kita, aku tidak menyadari juga orang yang berada di kalangan “teknologi informasi”, mungkin digital sendiri bisa membawa komunitas menuju “intimasi”, namun intimasi butuh batasan, bukan universal, ada partisipasi manusia empat mata atau lebih.

Daripada mutar balik mutar balik ide potensi bisnis kota, ada kalanya lebih baik tidak melakukan apa apa. Atau karena satu perusahaan bisa, karena yang lain juga melakukannya, apa berarti kita mesti juga melakukannya.

Mungkin “diam”, tidak melebihkan “agresif”, kembali naluri manusia-nya, kembali di mana dia seharusnya, dimana Intimasi seharusnya. Jika lebih memilih tidak “diam” karena “Semua-nya harus digital”, naluri manusia tidak bisa diprediksi, ego merasa benar, atau memikirkan diri sendiri.

Seiring perkembangan, bukankah ini semestinya jalan berdarah darah untuk membuka erat erat ide original kualitas yang kamu miliki, memperjuangkannya dengan pakaian kotor, bergerak cacat sampai orang terkejut. Daripada berjalan sempurna membawa jadian, bikin publik manja terikut – ikut arus.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.