Membeli Waktu Kosong

Bertani di pagi hari, bersajak sambil nikmati bekal istri di pendopo tengah tengah sawah, waktu tidak perlu menganggap kami, hanya khawatir hasil panen kami akan terjual di kebutuhan orang pasar sana, mau beli ini itu ujung – ujungnya tidak berguna. Pulang dari Sawah, sebentar duduk bersandar di depan rumah, nikmati matahari terbenam, saat begini manusia belah sana ikut juga ga menikmati teater alam ini?

Artikel dari NYTimes “Kamu melakukan sesuatu yang penting saat kamu tidak melakukan apapun”, Opini seorang penulis, tentang prinsip kerja. Ketika semua orang ingin membahas mengaku kreativitas, ternyata kreativitas berasal jauh dari kata – kata “produktivitas”, hal – hal yang ku pelajari, “Menjadi bosan, istirahat, membaca, dan kembali ke realitas manusia”

Ini memang tidak kebetulan saat kita berlomba lomba mencari bahasa lebih baik dalam produktif (bukti saksi dari para maniac untuk menjadi lebih baik Marie Kondo, teknologi, bebas dari teknologi). Kita semua kesusahan seimbangkan antara bermain dan kerja, kedua – keduanya kunci untuk kehidupan lebih baik. Waktu kosong, ketika dibiasakan benar, bisa saja menyadari kita kenapa pekerjaan selalu di prioritas pertama.

Aku perlu mengerti dulu membosankan diri, waktu lagi stress-nya pekerjaan, tinggalkan saja, waktu kelamaan santai di tengah tengah bosan, kembali ke kerjaan. Kalau bosannya ke Internet terus, belum tentu bisa fokus ke kerjaan lagi. Maknaku mengerti “Waktu kosong”

Sedangkan asumsi manusia sekarang apalagi budaya Corporate, kamu harus lahir untuk memproduksi sesuatu agar kelihatan orang lain, jika tidak, kamu ga berguna. Berarti kita dalam krisis, bekerja penuh. Krisis memikirkan orang lain, empathy, apalagi waktu bermain. Krisis, kreativitas selalu identik dengan bekerja dan produktif.

“Waktu kosong” sangat luas, zaman-nya banyak pilihan sekarang, dari aktivitas nonton hingga streaming Youtube untuk santai, itu bukan termasuk “waktu kosong”. Kalau kamu pergi ke taman, bawa buku dan pen, menulis jurnal tidak jelas, sambil nikmati “Espresso”, lupakan pekerjaan, ini baru “waktu kosong”. Kembali ke zaman di mana Leonardo da Vinci hanya punya kayu, buku, pen dan pemandangan sekitar.

Apa yang kita tidak punya sekarang, justru awal bagus untuk membosankan diri. Tak lama lagi, tangan-mu ingin membuat sesuatu.

Siapa yang santai dalam pekerjaannya banding kamu, bagaimana jika ternyata dia lebih kreatif ? – Pikir dua kali, mungkin dia bangga jadi Petani.