Milton Glaser “Konsumsi tak Terhingga”

Desainer legend Milton Glaser berulang tahun yang ke-90, dia memberikan pelajaran ke kita semua bagaimana merayakannya. Tidak ada yang spesial baginya, dia lebih menikmati di depan meja gambarnya, bekerja seperti sehari – hari.

“Cara apa lagi merayakan 90 tahun selain bikin otak tanpa istirahat ini bekerja?”

Di sini aku tidak mau merayakan ulang tahunnya, betul Milton Glaser tidak punya kata ‘Pensiun’ di kamus-nya, dia ingin lebih terus belajar hal baru, walaupun tak bisa sebesar ambisi kalangan muda katanya. Menurutnya, Pensiun itu naluri bagi orang – orang kalangan industri perusahaan, bukan untuk seniman dan pelukis.

Aku ingin membahas salah satu essaynya, tentang pengaruh pekerjaan dia sebagai Illustrator dan realitas budaya sekarang, judulnya Dark and Light  – The Strange Case of the Decline of Illustration.

Sedihnya pelajaran dari datangnya era TV ada di satu prinsip, endless consumption.

Dia khawatir orang – orang Amerika sana, tidak bisa membedakan mana realitas, sudah dipengaruh kuat oleh adiksi virtual reality dari televisi, dunia hiburan dan advertising. Aku juga mengkhawatirkan anak muda Indonesia, berjam – jam di warung kopi, sambil pegang hape melintang. 

Milton Glaser menulis essay ini sebelum datang Internet dan Smartphone,

Sel – sel yang ada di badan kita sudah diprogram untuk merespon cahaya. Aku menganggap kebiasaan otak seperti ini akan mematikan natural reseptors kita.

Maksudnya Otak ini tidak responsif lagi

Dia juga mengkritik bagaimana publik sudah kehilangan idealisme-nya, muncul era Fotografi lebih berkesan, karena bisa menangkap realitas. Kebetulan Milton Glaser juga seorang Illustrator, dia merasa industri fantasi menggambar sudah kehilangan minat.

Milton Glaser berpikir panjang, untuk generasi depan termasuk aku. Kita kehilangan sensasi untuk bergerak produktif, terpengaruh konten dunia hiburan di mana – mana, ini pelajaran bagiku. 

Kalau kamu merasa ego, biarkan anak – anak muda itu jatuh di lubang buaya-nya sendiri, terlalu asik sensasi viral, hiburan di depan layar sangat gampang, menghambur uang kemana – kemana. Kamu sendiri ber-ide seperti orang Eropa, bekerja seperti orang China.

Ini termasuk motivasi ku. Jiwa muda ku seharusnya tidak bisa mengeluh karena hanya pekerjaan, tapi kakek tua 90 tahun mencari – cari waktu ingin terus bergambar dan bekerja, “Ini soal tujuan-mu kemana, bagiku mengajar yang telah memperkaya kehidupan-ku”