Essays

You are currently browsing the archive for the Essays category.

Facebook, pengalaman terindah masa – masa sekolah, ingin kenalan dengan cewe tanpa ketemu langsung, melihat kumpulan foto cantiknya, sudah merasa kenal sendiri, zaman SMA masih tergantung Facebook, tidak ada kekhawatiran privasi, justru ingin nunjukkan kalau aku cowo begini yang cari – cari perhatian dari kamu, zaman SMA masih belajar romansa.

Read the rest of this entry »

Tags: , ,

Apa yang akan ku bahas selanjutnya mulai dari akhir Januari ini, ada pengaruh baru, berusaha menghindari cerita Corporate Silicon Valley,

Read the rest of this entry »

Tags: ,

Obat kuno China, terlupakan paling efektif sembuhnya, di zaman modern, obat China hanya buat orang – orang yang penasaran mencoba daripada konsultasi dokter. Penjualnya biasanya seorang kakek bersama anaknya, tidak perlu bahelo bagus, suasana oriental,  tumpukan rempah berkantong besar berserakan belum dikemas oleh kakek.

“Ada obat panas demam ga?”, tanya ke sang kakek “ada, tunggu bentar”, cari – cari di antara loker – loker kecilnya juga kaleng kacanya, ketemu terus bawa plastik kecil dengan rempah – rempah hasil buatan resep penerusnya “Ini masukkan ke air panas saja, minum pagi malam, seperti minum teh”, “Berapa?”, “10 ribu”

Entah berhasil atau ga itu obat, sudahlah kuno, tidak sadar lupa bahwa dunia sudah berubah, tidak pernah mati di tengah – tengah pasar

Sayangnya pasar selalu mengikuti apa yang bikin orang tertarik, bukan orang tertarik dengan pasar

Kalau buah sudah tidak laku di pasar, berarti orang tidak mau beli buah lagi, terus pasar tidak lagi menjual buah. Asal itu orang konsisten jual buah juga tahu prinsip, walaupun sehari sepi, dia tahu “Nyesal kalau orang kalau ga beli, selama ini hari – harinya berarti ga sehat dengan manis buatan”.

Jadi menganggap bisnis di era menjatuhkan lain itu salah, butuhnya keberagaman di antara kita, apalagi bisnis jual beli. Nyatanya orang melakukan sama dan lain melakukan sama berulang – ulang mengikuti yang pertama sukses duluan, pikirannya mau besar, lebih memilih di antara sekumpulan rusa sama rusa lainnya sambil dikejar Cheetah.

Bukan berarti kalah dari kesehatan modern sekarang, memang toko obat kuno China ga mau kemana – mana, besar atau kecilnya, yang penting bisnis keluarganya ga mati, jika ga ada seorang kakek biasanya tak peduli gaya pakaiannya berjualan, sekumpulan orang terkecil yang peduli percaya akan cari kemana lagi obat toko China.

Kekuatan keberagaman pasar, sekecil apapun itu bisnis tanpa mayoritas orang bicarakan, pasti ada sekecil orang peduli dengan minoritas bisnis tersebut.

Tags: ,

Pergi ke Jepang hanya ikutan viral, terkenal karena nikmati kualitasnya, Tokyo, Kyoto. Pergi liburan cuma demi sosial media, keluar negeri kalau hanya kepentingan bisnis terasa langka, tanpa orang dekat perlu tahu. Hebatnya lokal Indonesia pergi ke Jepang, bukan main permintaannya, berarti kita memang makmur selama ini.

Beda antara ikan tuna dan ikan tongkol, satu dari belahan Jepang satu dari belahan Indonesia, bedanya Jepang suka makan mentah dan Indonesia suka makan pedas atau goreng. Samanya jarang yang makan kepalanya. Sashimi dan Wasabi, kepedasan paling asing dari dedaunan khusus di Jepang, ga jauh beda restoran mewah hidangkan menu seni jengkol.

Nelayan ikan tuna saja cerewet, daging ga berlemak restoran tak terima, daging berlemak maunya jual mahal, waktu mancing dua kali lipat. Restoran dan menu ikannya tahu customer mereka punya kesesuaian demi kualitas, bukan menghidangkan langsung makan, mood diskusi teman minum ala barat, cara lambat industri kuliner menulis hidangannya.

Apa yang terasa aneh, harga mahal, selalu membuahkan cerita tak biasa bagi mereka, drama untuk menyenangkan customer, drama bagi yang punya prinsip, drama karena memiliki nilai lebih untuk siapa yang menikmatinya, hanya karena ikan tuna berlemak.

Kebiasaan kita ke luar negeri sudah mulai berbeda karena ikan tuna terkesan keren daripada ikan tongkol, tiket terbang semakin murah semua orang bisa naik pesawat, Instagrammu ga boleh ketinggalan dari teman yang sudah pernah ke sana. Egois lebih nampak dari empati, nafsu dari stress lebih nyaman dengan Ayam daripada ikan. Ujungnya pesawat terbang juga selalu butuh minyak avtur walaupun harga murah.

Singapore Airlines, penerbangan paling terbaik sedunia, profit tenggelam gara – gara harga minyak tinggi, masalah biasa setiap komersial. Ambisi penerbangan belum sejauh electric car dan baterainya, avtur masih makanan sehari – hari, entah siapa jual tiket mahal, siapa jual murah, semua sama – sama gunakan avtur harga sama.

Sekarang ingin menjadi siapa, ikan tanpa daging ikannya, ikan berlemak, orang miskin kaya sama – sama nikmatinya, tinggal siapa yang merasa lebih mengenang?

Tags: , ,

Kenapa Singapore Airlines salah satu penerbangan termahal di dunia?

Bandingkan penerbangan lain Emirates, Korean Air, All Nippon Airways, mereka juga berasal dari negara hebat, standar kualitas akomodasi sama, standar keselamatan sama, sama – sama punya banyak pesawat raksasa, kenapa satu ini paling mahal?

Apa karena ini jembatan bisnis internasional?, penduduknya hanya keluar masuk luar negeri, standar hidup tinggi, Singapore Airlines menyesuaikannya?

Merah dan biru, kiri dan kanan, hitam putih, murah dan mahal, selalu ada pasangan.

Kedudukan atasnya, Singapore Airlines merasa kesepian penumpang kelas ekonomi, penerbangan lain punya lebih murah dari setiap negara menuju Singapura.

Bicara mahal, berarti ada alasan mahal?, bukan anggota pasar murah di depan dunia, siapa lagi mewakili pasar mahal selain Singapore Airlines?, bahkan rajanya.

Pasar mahal menunjukkan daya tarik sendiri, pasar murah identik mayoritas dan popularitas angka tinggi. Pasar mahal merasa bermain jangka panjang, merasa berbeda dari lain, merasa obsesi sesuatu ‘unik, kreatif, mewah, istimewa’, merasa “kalau ingin mewah dan paling nyaman naik pesawat, di sini tempatnya”. Pesawat lain juga tujuan sama, tapi siapa bangga kalau naiknya Singapore Airlines, inikah kekuatan mahal?

Eksis kekuasaannya di atas kawanan murah, hawa penumpang mahal lebih berkharisma menunjukkan kekuatan daripada penumpang pesawat murah.

Padahal logika mengatakan mayoritas akan memilih harga murah, kenapa lebih memilih harga mahal?, karena murah bukanlah prinsipku.

Tags: ,

Kenapa orang memancing bersama temannya selalu sedikit egois, tidak terima kalah ketika temannya lebih baik mendapatkan ikan?

Di antara kita, entah itu posisi kita berada di kiri atau kanan, di satu danau, sama – sama punya alat pancing sama, sama – sama berbagi bait-nya, akhirnya si ‘dia’ yang dapat paling banyak ikan besar. Kenapa demikian?, apa mancing selalu tergantung dengan keberuntungan dan melihat teman telah kalah secara tidak sadar.

Siap – siap tidak yakin terhadap diri sendiri, merasa ego, lupa maju dan fokus, tak mau terima hasil apa adanya.

Eksistensi baru muncul, besoknya, yang merasa kalah sedikit egois dengan alat pemanggil ikan secara instan di pasang di pancingnya, teman yang kemarin menang tidak tahu masalah ini, dia merasa agar hari ini baik baginya ataupun temannya.

Tentu saja teman tersebut akan menang karena inovasinya, tak lama lima menit kemudian alat itu berhasil menangkap ikan besar, tiga menit kemudian temannya pun juga mendapatkannya ikan sama.

Sang pemancing tidak biasa merasa aneh?, kenapa dia juga mendapatkan sama?

Ternyata alat itu tak hanya memanggil suara saja, tapi mengumpulkan kawanan ikan dalam satu lingkaran, sama – sama menang, mereka pun senang pulang tangkapan masing – masing.

Besoknya mereka mancing lagi dan terus mendapatkan kenikmatan terus – menerus ini, hingga temannya berkata ‘Kenapa kita benar – benar tak pernah merasakan ini sebelumnya?, daripada exciting begini terus, kita lupa rasa bosan dan sabar lagi’

Khawatir dengarnya ‘Iya ya, ini mungkin keuntungan kita laut telah menerimanya’. Temannya memilih berhenti ‘Pulang duluan ya, kelihatan basi, ga ada cerita2 di depan pemandangan lagi’.

‘Oke lah, silakan’ teman tak biasa ini merasa ga enak dan tetap lanjut saja, ‘daripada berbuat kesalahan dan gagal kenapa aku harus bersikap egois seperti ini?’ tiba – tiba pemancing ketiga datang curiga ‘Kenapa ikan – ikannya selalu datang ke tempat kalian di alat Scanning, apa kalian ada yang menggunakan pemanggil suara ikan?’

‘Ga ada’ dua – duanya menjawab, ‘Jelas ini ada yang ga beres’, boleh saya cek alat mancingnya masing – masing, ‘Ini kamu’. Jadi selama ini kamu pakai alat itu?, terkejut dia, pantes aja kita dapat enak – enak terus dari kemarin’.

Pemancing ketiga berseru, ‘Maaf ya untuk kalian berdua, tidak ada salahnya kalian pakai alat ini, ini daerah baru, masih sepi, belum ada turis seperti kalian memanfaatkannya, berhasil tidak selamanya enak, justru pahit akan di hadapan orang lain, pikirkan turis baru exciting datang untuk mancing dan orang desa sekitar, mereka pun ingin jadi pemenang juga, lagian kalian sudah menang bisa ketemu pemandangan ini’.

Menjadi pemenang memang gampang, lagian siapa yang mampu nahan naluri kekalahan?

Tags: ,

Apa arti Craftsmanship?, penjual atau retail yang menjual barang mementingkan kualitas daripada kuantitas, dengan kemampuan dirimu yang tak bisa diikuti oleh orang lain, termasuk kerajinan tangan dan barang – barang obsesi yang satu – satunya ada di tempat kamu.

Sayangnya Ecommerce sekarang hanya bicara growth dan cerita instant sukses, hingga kebanyakan orang harus buka toko di tempat mereka, ujung – ujungnya jejeran pasar hanya jualan Case Smartphone dengan aksesoris kamera.

Craftsmanship enaknya bicara ke Fashion, isi dengan packaging indah, mereka lebih jual kepercayaan gaya lokal, punya nilai keindahan, desainer dari spesialis grafis hingga web, UX ikut senang berkontribusi visi mereka, sama – sama saling berinvestasi antara aset dan human capital.

Kalau mau bicara bisnis Ecommerce tanpa Craftsmanship, ciri – cirinya mereka lebih mementingkan perhatian kamu selama di Internet serta data kebiasaan kamu, daripada mementingkan ‘Kita perlu mencari penjahit berbakat untuk desain produk terbaru ini?’

Yang sudah punya Craftsmanship, Ecommerce adalah teman bisnis onlinemu. Yang punya kemampuan Ecommerce belum tentu punya ide istimewa seperti kamu.

Pemain Blibli, Tokopedia, Bukalapak dan lainnya cukup mereka berperang satu sama lain karena kategori mereka sudah terlalu umum seperti belanja di Supermarket sedang mencari perhatian – perhatian harga murahmu dan cashback. Karena kalau sudah bicara kualitas, realitasnya memang mahal.

Kemampuan bertangan bersenimu akan membedakan Ecommerce lain daripada yang lain, inilah masa depannya. Ketika kamu ingin memulai, hasil kerajinan tanganmu lebih menjual berjangka panjang daripada rusuh hanya melihat target bulanan selanjutnya di jangka pendek.

Ketika hasil Craftsmanship mu siap komersial,

  1. Temukan bahwa orang sekitar kita selalu punya berbakat bisnis online, minta bantu mereka bahwa kamu yakin dengan hasil tanganmu perlihatkan ke publik. Selalu ada keseimbangan antara orang ‘berbakat’ dan orang pandai ‘menjual’.
  2. Atau kamu orang punya bakat bisnis sebagai Ecommerce antara mengambil supply barang berseni atau Niche dengan menemukan pasarnya.
  3. Desainer lokal berbakat di mana – mana, ternyata mereka juga sedang mencari orang seperti kamu, sebuah harmoni pertemanan untuk saling memberikan ide untuk konsep brandnya juga media visualnya, cari referensi contoh di butik Fashion seperti Visvim atau liputan orang – orang Monocle.
  4. Bisnis ini punya aroma kreativitas retail, di sinilah apa yang kamu cintai akan dicintai oleh calon pembeli baru dan lama kelamaan akan membentuk pasar baru.
  5. Developer Web lokal juga berbakat di mana – mana, ini tugas sang desainer untuk mengoperasikan dari konsep belanja produk hingga halaman utama.

Jangan bicara soal masa depan Ecommerce, kalau komunitas rakyat saja belum tahu di mana resep sebenarnya untuk menjalankan kemewahan bisnis ini.

Contoh bagus, Ecommerce tas ini bernama Bembien oleh mantan orang Vogue Yi-Mei Truxes dan kecantikan brandnya memanfaatkan bambu.

Bembien

BEMBIEN

Tags: ,

Sore hari, suasana ramai toko elektronik di pusat kota kecil, radio masih mewah di waktu itu, membuat seorang ini bersama kerumunan wajah kenal dan salah satu pendengar kelihatan terinspirasi membelinya, kebetulan dia punya usaha Cafe untuk properti menarik pelanggan.

Besoknya Cafe pembeli ini ramai, kumpulan anak muda bergaya rapi meluangkan waktunya menikmati kopi, selagi acara radio favorit belum mulai, walaupun sudah mulai playlist acak sudah diputar dengan pelengkap speaker booth besar sambil mengontrol suaranya, pelanggan menikmati pembicaraan, yang sebelumnya pemilik ini tidak pernah senang seperti ini sejak radio ini terbeli, tak semuanya tahu tentang Cafe ini, toko barang elektronik jauh dari seberang jalan masih ramai, karena masih di pusat kota.

Tiba – tiba penyiar radio berseru ‘Hari ini kami kedatangan lagu baru dari artis rekomendasi baru untuk pendengar semuanya, kalian akan menyukainya’, lagu ini menyentuhnya apa yang anak muda ini lakukan berkumpul di jajaran di dinding sambil menari tak sengaja, tidak ada salahnya Cafe ini merasakan momen kegembiraan dari orang – orang lokal sebelumnya belum kenal, sekarang laki perempuan saling memandang mata ‘Jika kamu yakin aku bisa berdansa, ayo maju!’, siapa yang mengajarkan insting seperti ini. Musik Jazz menggema, merasa ada yang ingin memberanikan diri, yang berhasil lah menjadi pusat perhatian di antara anak muda masih yang ingin menunggu giliran, mungkin waktu hanya menunjukkan sore.

Dan di antara keramaian ini , seorang penulis kritik Jazz sambil menikmati Espresso dan menulis beberapa lembar dengan ekspresi berpikir, ya gayanya sedikit tua, menggunakan kemeja polos dan celana kain, menutup ekspresi sebenarnya menginginkan tulisan berikutnya, tak semua seniman baru menjadi perhatiannya, jika mayoritas anak muda ini berhasil mengambil karya musisi ini, “kenapa tidak ikut menyuarakan?”

Berakhir menjelang malam, Siaran musik sudah melewati jam batasnya, penulis ini keluar dari Cafe sendiri langsung kembali ke rumah, langsung menelpon ke phone booth, memasukkan berapa koin, ‘Ya mungkin aku dapat tulisan selanjutnya, artis baru Jazz ini baru menggetarkan hati Cafe langgananku, malam ini akan ku tulis nuansa lagunya, besok aku akan mencari tahu musisi ini, gimana?’ ‘Oke, cari tahu bagaimana gaya musisi ini dan buat tulisan terdengar lagunya’ kawan editor menyetujuinya.

Setelah kembali ke rumah, penulis Jazz ini hanya memanfaatkan apa adanya selain terlalu berharap alat pemutar piring hitam, flat apartemen sempit dipenuhi dengan buku dan lembaran kertas menumpuk serta bagian rapinya, koleksi piring hitam di jajaran raknya pemberian dari editor dan Label. Menyempatkan duku ke dapur untuk memanggang ikan Makarel, hampa ruangan bersisa suara teriakan orang entah darimana, suara kumpulan anak muda saling menyalahkan.

Keterbatasan dia hanya fokus dengan ambiens pertama kali mendengar musisi perdana ini, alangkah indahnya jika mendengarnya lagi, alangkah indahnya jika kenangan sekali dalam sehari ini bisa menuliskan harmoni untuk kritiknya, alangkah indahnya kesepian yang dianutnya terbiasa untuk menulis. Jadi perlahan – lahan dia mempekerjakan tulisannya lewat suara mesin tik yang ditekannya, sambil menunggu rasa penasaran artis ini dengan musik berulangnya kembali besok, tak lupa minuman soda.

Mengisahkan diri paginya, menuju Cafe langganannya kembali dengan koran harian sepasang secangkir kopi, kesepian dirinya juga mengefek kesepian Cafe ini, bukan suatu saat untuk memberontak sebuah ide, tapi pandangannya merasa musisi ini sudah cukup memuaskan komunitas muda di sini, apakah kritik harus mencari sensasi ketertarikan, atau inilah suasana literasi mendengar lagunya, ‘namun Jazz tidak istimewa di lingkaran siaran radio, hanya sesi khusus untuk orang – orang malam menikmati kegairahannya’, anggap saja dia demikian berpikir seperti ini.

Bisakah orang seni lebih suka menyusahkan suasananya daripada menerima inovasi untuk memperpendek waktu, semua orang suka serba instan, bagaimana jika penulis Jazz ini lebih suka terdengar kompleks untuk tulisannya daripada tergantung dengan orang lain?, kebebasan berseni tidak berpihak kemanapun, apalagi ketergantungan kita dengan ‘popularitas dan viral’ adalah hal tak terhindari di masa modern sekarang, seolah ide ambisi semakin tumpul dan sempit kesempatannya.

Sehingga yakin, penulis akhirnya menyerahkan tulisan ke editornya, editor ini percaya setiap gaya masing – masing penulis, ruangan emosi sang kreator. Hari sudah sore, penulis Jazz mengulas kembali memasang telinganya di waktu musik Radio terdengar, lagu ini pun terulang, kali ini komunitas anak muda tidak agresif dibandingkan dengan kemarin, penulis ini berkesimpulan

“Bukankah permintaan mereka ingin mengulang, ternyata serapan mereka penasaran di antara antara calon musik monumental lain yang sedang menunggu, jika tulisan ini pun berasal dari kegairahan sehari, ujung – ujungnya berakhir menjadi daun di antara daun terlupakan.”

Besoknya artikel sang penulis terbit di media koran harian kerjaannya, tanpa harus mengetahui sang musisi, tidak ada ledakan reaksi di mana – mana, bacaan tersebut hanya narasi halus untuk menghibur diri penulis juga pandangan kritik untuk musisi, tidak mengharapkan banyak, selain kritik tersebut hanya untuk menulis.

Mencukupi apa yang sudah terjadi, durasi lagu berakhir, berakhirlah situ ceritanya. Jeda sehari, seminggu atau sebulan, terlalu sering mengambil langkah akan memicu keserakahan. ‘Cari – cari perhatian’ ketika egois menjadi musuh.

Apa seni atau produksi, komersial manapun mengerti sebuah keterbatasan?, seandainya Twitter tidak memiliki komentar dan Retweet, apa kita perlu pengakuan dari orang lain, sedangkan penulis Jazz ini hanya ingin menulis, hanya pengawasan dari Editornya, tidak ada yang membahasnya di bagian kantornya, tidak ada yang mengunjungi meja kerjanya, bahkan tak terpikir apa suatu saat mungkin ada orang luar sana tak diketahui menyukai tulisannya, tapi penulis lebih memilih cukup untuk fokus dengan eksplorasi musik berikutnya.

Batasan apa Jazz sepiring melodi piano bolak balik dan suara drum disiplin merendahkan posisinya tanpa henti hingga piano, sang pemimpin hanya menggairahkan kebebasannya. Tidak melihat di mana letak ‘sukses’ dan ‘gagal’, sang penulis mengerti ini jalannya, biarkan orang yang tertarik mengikutinya, Jazz bukan mencari apa yang orang butuhkan, yang ingin pemirsa dengarkan apa.

Daripada berprasangka atau iri, lebih percaya diri sendiri main sederhana.

Seandainya saja di rumah penulis kritik Jazz ini sudah ada pemutar musik, mungkin dia tidak percaya dengan apa yang ditulisnya, tidak akan sesuai gaya tulisannya sendiri, karena lagunya akan diputar terus sampai tak memiliki kenangan terlama, dia akan lebih egois tanpa berinteraksi kawanan di toko elektronik atau langganan pinjaman dan Cafe tempat dia nongkrong sebagai observasi. Mengerti keterbatasan adalah hal istimewa untuk menemukan alternatif tak terduga, bahkan tak tersadari.

Tags: ,

Ide ini datang sesuai alurnya, komunitas pengguna platform visual ini sudah terbukti membuahkan hasil transaksi secara tidak formal. Anak perusahaan Facebook ini memanfaatkannya, walaupun Facebook sendiri sudah jatuh, punya produk jangka panjang dan pertumbuhan cepat di Instagram, Facebook harus berkontribusi lebih.

Read the rest of this entry »

Tags: ,

Aku salah, kolumn perdana ‘Suite’ sebelumnya banyak mengumpulkan platform dengan typography – typography mewahnya. Dan SSense berada di posisi terbalik, mereka menantang dengan merendahkan diri sebuah desain, desain hanya susunan elemen dan konten pemimpinnya.


Ini termasuk favoritku, terkesan pertama kali mengunjung, ku kira website ini hanyalah publikasi fashion biasa, ternyata fondasi bisnis mereka Ecommerce.

Mereka menunjukkan narasi menulis Fashion, riset pasar dan laporan trending adalah tulisan komplikasi yang wajib orang fashion ku ketahui.

Pertanyaan ku selanjutnya?, sebagai pemuka Ecommerce fashion, mereka memilih tidak memiliki platform mobile app, walaupun sudah di bisnis ini sejak tahun 2007, kaca pembesar jenis apa untuk menjadi identitas Fashion sendiri?,  platform keberagaman dari Kanada.

Kalau dari Kanada, berarti SSENSE berhasil menyampaikan pesan industri ini, sebagai jembatan untuk berkolaborasi dan menyinari suara – suara terkecil, walaupun mereka menjual koleksi brand mewah, bedanya ini cara mereka memanjakan.

Kalau Fashion bukan untuk mendefinisikan seksi, cantik atau charm, apa yang fashion kontribusikan?, di tambah dengan teknologi terbiasa mindset ‘sempurna’, cepat dan instan. SSENSE lebih suka turun ke jalan, mencari hal bersifat kontemporari, gaetkan ke koleksinya, sekiranya tahu ini akan lambat untuk menjadi ‘terpercaya’ brand, dan kunci mereka antara kolaborasi juga sharing sebagai konsistensi mereka.

Lebih enaknya dari mulut ke mulut.

Menghidupkan Menulis Jurnal Fashion

Apakah jurnalisme dan seni menulis Fashion terancam?, pertanyaan yang salah untuk orang di bidang ini, bahkan aku harus menjauhkan benar – benar kata ‘Fashion’, sebelum mengerti apa realitas industri ini. SSENSE menapresiasi menulis jurnal Fashion dari proses seorang desainer, pengaruh seni lainnya dan juga inspirasi konsep tak terduga.

Daripada merekomendasi, SSENSE justru merendahkan, berada satu suara sama desainer, jika desainer memberanikan di zona resiko, SSENSE menadaptasikannya, daripada pembaca berada di konsep sama. Kontroversial, menjijikkan, hingga di luar pemikiran bahasa halusnya.

Belanja lebih berat, hanya seni meringankan, menapresiasi mendengar cerita, seperti riset pasar dari pengalaman orang – orang terpilih. Jika kamu penasaran cara mereka membangun literasi tentang pakaian, baca mulai dari tulisan Research Market.

Kebetulan Editor-In-Chief nya SSENSE juga pemilik majalah Fashion 032C, Joerg Korch. Bukan kejutan kalau tanggung jawabnya dari dia, jelas gaya editorialnya penuh pengecualian.


Kami ingin persembahan dengan sistem Typography yang membosankan tak enak dilihat awalnya, hingga kamu lihat betul, sesuatu memunculkan dirinya sendiri. – Eric Hu, MantanKreatif Direktur SSENSE

Apa Hubungan SSENSE sebagai desain teknologi?

Melanjutkan mention Typography ku di awal paragraf, SSENSE salah satu Typography hanya rendahan di atas prioritas konten, sebagai tujuan visual komunikasi, biarkan konsumen menikmati cerita daripada teralur dengan kesan desain, tapi secara tidak sengaja SSENSE mengajak ini alur komponen baru. Belajar dari Eric Hu, yang sebelumnya punya studio desain internet fokus di platform Fashion Nothing in Common, dan sejak aku menulis hingga paragraf ini, sekarang dia menjadi desain direktur Nike.

Eric Hu, termasuk petikan Typography bisa dari sedernana, tidak aset mahal, yang biasanya diremehkan dan mendorongnya sebagai adaptasi baru.

Homepage

Adidas Wang

Website – SSENSE

Tags: , ,

« Older entries § Newer entries »