A Watch Can Just Listen A Podcast

Just idea, not commercial.



My main challenge in this idea, it doesn’t develop with integration of Smartphone. It must be fully analogue concept which people around don’t discover his innovative elements, can listen a podcast.

While you need to take a subscription in every channel, this watch must be connected an embedded software in computer first to fill the podcast feed. Maximum with 10 podcast channels, and those would be updated with built-in connectivity, not quite sure what kind of type in it, Wi-Fi or embedded Nano SIM Card. This might be taking courage in this development. For audio output, it just support with wireless headphone, contain with Bluetooth connection.



If i have a dream as product designer, this product will be my first choice, it’s really simple thought, but a complex personal. It would indicate with aesthetic of vintage concept, it should force our thinking that watch is full of secrets featured, ‘The daily stories behind analogue’. An experience which brings people when they feel lonely and there are recorded stories isn’t consciousness to catch and you will present it as a magical.

If this watch is fully digital interactions, with a dashboard. It just become easier, no adventurous in their mind, there is no conflict stories which their hands can expose by themselves playfully and it should be contrary experience than what we consumed everyday in screen-based devices.

Dua Bulan Setelah Menghapus Akun Facebook

Tidak ada pengaruhnya jika masih bersangkutan dengan internet, Facebook hanya sebagian kecil sebagai inisiatif untuk meminimalisir penggunaan internet.


Facebook, sebuah budaya internet sendiri yang diakui sebagai media sosial untuk melakukan interaksi bersama siapapun, keluarga, teman lama, mencari teman baru dan pandangan bisnis. Pengalaman inovasi ini sudah ku alami semua di Facebook dan yang ku dapatkan hanya membuang — membuang waktu, lupa dengan prioritas sendiri.

Aku tidak mengerti apakah keputusan ini termasuk rugi atau beruntung. Rugi, karena aku sudah menghindari momen, inspirasi dan cerita dari teman — teman lama Facebook. Beruntung, karena lebih fokus dengan produktivitas ku dan lebih asyik dengan apa yang ku lakukan dan juga berkarya.

Ini pun bukan terlalu menjadi pikiran mengenai Facebook, bahkan tulisan jurnal ini sudah menjadi kepribadian ku, bahwa inovasi internet tidak selalu menang dalam mengambil dampak positif terutama di bagian kehidupan ku, hanya sekedar eksperimen.

Eksperimen itu berlangsung lama dan akhirnya selesai, ketika aku tidak mengerti kenapa Facebook tidak memberikan hasil terbaik terhadap Facebook Page dari Blog ku, Kicikku. Uang yang selama ini aku keluarkan, untuk memperlihatkan ke dunia dari cara spesialnya, tidak memenuhi ekspetasi. Investasi ku hanya berakhir dengan angka — angka abu data dengan angka ribuan impressive. Namun, tidak ada respon yang aku dapatkan. Ketika itulah, aku mulai ragu dengan Facebook, perusahaan yang menjadi kepercayaan utama dari belahan dunia internet manapun, ternyata hanya sebuah ilusi. Inilah awal dimana aku mulai suka mengkritik kehidupan internet, walaupun bidangku terus memikirkan ide dalam teknologi.

Petualangan keyakinan meragukan ini berlanjut, ketika menemukan Blogger Steve Pavlina yang menyadari Facebook beserta sosial media lainnya mudah memanipulasi mentalitas kita, gak kalah beda dengan pengaruh televisi, setelah membaca artikel demikian, besoknya tanpa berpikir dua kali, langsung ku putuskan menghapus akun Facebook, beserta akun pribadi.

Sebenarnya, kalau pintar menggunakannya, membagi waktu dengan baik, Facebook bukan jadi masalah. Tidak termakan dengan cerita kehidupan sosial seseorang agar tetap berpegang teguh dengan mimpi dan prinsip, konsisten dengan jalan sendiri. Ini lebih dari sosial media, semua bisa terpengaruh dengan penuh kejutan.

Inilah, mulai sekarang bagaimana agar internet tetap merefleksikan diriku sebagai apa adanya, belajar hal baru, mencari inspirasi bertahap, masih banyak cara lain daripada menghabiskan waktu di Facebook

Kenapa Diriku Menulis Blog?

Menulis blog, salah satu caraku bermain main dengan ide.



Menulis blog seperti api kecil perlahan lahan menguasai daerah sekitar objeknya menjadi panas atau istilah gampang ‘Sedikit demi sedikit, lama — lama menjadi bukit’. Ini adalah masalah waktu, di mana kita mencari prinsip sebuah petualangan, prinsip yang terhubung dengan kegemaran, prinsip untuk belajar banyak hal. Inilah isi dari ruangan menulis Blog.

Gayaku sekarang kenapa diriku menulis blog, bagaimana mengeksplorasi imajinasi ku dan bermain main dengan ide. Walaupun misalnya, ada sebuah ide yang ingin aku kerjakan tapi tidak memiliki bahannya, inisiatifnya bukan itu satu — satunya cara, aku bisa terapkan ide tersebut dalam cerita tulisan blog.

Api kecil ini tidak bisa sekedar menjadi api besar, jika api ini tidak memiliki inisiatif sendiri untuk mengambil energinya, juga ada yang malas, api kecil harus belajar ribuan cara untuk menarik perhatian energi akan dominannya menjadi besar, walaupun perjuangannya tidak didasari atas hal apa pun.

Bahkan sekalipun tidak memiliki ide, aku menulis apa saja yang lewat dari pikiran ini tanpa maksud lagi memperhatikan gaya tulisan, Lama kelamaan dari suatu titik di setiap tulisan ada pertanyaan yang bisa ku kembangkan ide baru lagi.

Perasaan penuh ketidakpastian, sering mengkritik diri sendiri jika tidak percaya, perfeksionis kadang meragukan ku untuk memberikan lebih terbaik dan mencoba berpikir bagaimana pembaca akan mendapatkan dampaknya. Hingga sebenarnya tidak ada yang baca tulisan blog kamu, namun konsistensi ku terus mengujiku untuk tetap berkarya.

Di sini aku seperti merekam imajinasi sendiri dan rekaman tersebut dipublikasikan lewat internet, sehingga orang mungkin akan memperhatikan, dalam pengalaman dan juga eksplorasi diri. Walaupun bidang yang ku tuju teknologi dan desain, berkat tulisan blog ini saja, aku bisa menghubungkan pembelajaran lainnya, seperti menghubungkan dunia desain Fashion bersama teknologi.

Tentu bukanlah hal mudah dan waktu terus menghantui. Internet benar menjadikan kebanggaanku telah melahirkan budaya menulis blog dan internet juga musuhku atas produktivitas. Pengendalian diri dalam mengungkapkan ide harus diperhatikan lagi, terutama kualitas, kadang aku memarahi diriku sendiri, antara argumen waktu dan manajemenku ‘Kenapa aku harus membuat hal kecil ini dan menghabiskan waktu selama satu minggu?’. Perasaan ini bisa saja menjatuhkan ku, karena, tapi ini aku anggap menjadi perjalanan ambisi.

Hampir sama dengan seorang seniman, seniman memiliki dunia sendiri dan kebanyakan orang belum tentu berselera dunianya, seniman pun belum bisa mengendalikan emosi untuk mempertahankan dunianya dan buruknya diam — diam orang mengejek dunia seniman tersebut.

Blogger juga demikian, gila penyesuaiannya, belum tentu apa yang kita promosikan, bagikan, orang akan menikmatinya. Link yang diklik, apakah mereka penasaran atau sekedar lihat — lihat. Suasana seperti yang melayakkan dengan seniman, karena apa yang kita lakukan, itu bagian api — api kecil yang terus berusaha menjadi kobaran api besar, tanpa henti bereksperimen, kadang berhasil, dan juga kebanyakan gagal. Rasa takut ini lah jika dipilah blogger terus menantang dirinya, percaya dengan apa yang mereka buat, kepercayaan tersebut bisa saja menumbuhkan api besar, untuk dijadikan sebagai senjata memanaskan mimpi besar.

Ini berdasarkan apa yang ku dapatkan selama menulis blog, juga termasuk motivasi aku.

Ekspetasi blogger berperilaku seniman yang aku dapatkan terbilang sedikit, angka ‘sedikit’ ini justru tidak kelihatan, padahal sebenarnya banyak, mereka orang — orang terkenal yang sudah menulis buku, seniman, musisi, bahkan blogger yang tidak sama sekali mengharapkan imbalan dari internet.

Bagian lainnya dengan Blogger berangka ‘banyak’ justru ini lebih kelihatan terkenalnya, sekedar mengikuti cita rasa yang menggairahkan, sensasional, pengunjung dibikin penasaran, hingga orang bertahan di blog mereka dan melupakan prioritasnya. Kebanyakan berisi Pop Culture dan janji menggiurkan.

Semua bebas berkarya apa saja dan memperlihatkannya, tergantung pengunjung, pembaca memilih lebih lengket dengan bagian mana.

Between Love Letter and Email

“Your Bae, Your Love and Your Best”



Persuasive in the art of romance for the living of digital age. That’s what I have come to my creation when related with relationship. Email is the most communicative invention on the internet than what social media tried to win it.

It’s different atmosphere where do you have a chance to show your moment in him / her, you are being like writer just especially romantically for it. Or manipulate the words to get a richness of expression. When I’ve read some letters by famous inventors and artists, like Albert Einstein from Brain Pickings’s curation. It makes me take as inspiration how wonderful it is, if this playground of romantic writing form with email.

Obviously, short message and chatting are a short notice to care each other, there is no aesthetic behind it. But when there would be exciting moments in romances writing, email is your extraordinary reflection in love letter. I’m trying to innovate from benefits from digital age consuming. And this step, it might risk your mind for thinking deeply how your feeling can show writing in each other could explode every expressions.

References:

Albert Einstein’s Love Letter by Brain Pickings — https://www.brainpickings.org/2015/07/27/albert-einstein-mileva-maric-love-letters/


Firas Rafislam is tech strategist, designer, instigator in developing tech experience for inner and outer digital biz or business prospective, he’s also passionate discovering idea in design thinking and lastly curator of ideas. He was Freelance iOS Developer. Kicikku is his collective experimental ideas and essays platform.

Studio on The Floor


Aku sering mendengar, apa yang membuat seniman menjadi inspirasi untuk orang — orang yang menikmatinya adalah dibalik kerja proses dan lingkungannya.

Jadi merasa seperti seniman. Dan ini suasana ku selama berburu ide. Ya, lingkugan studio ku selalu berubah setiap semesternya dan kali ini di lantai.

Produktivitas dan manajemen kerja ku masih jauh dari sempurna. Misalnya, aku ingin menulis tulisan blog terbaru, itu membutuhkan tiga sampai satu minggu, belum ditambah dengan gambar ilustrasi, itu wajib, karena aku orang yang senang dengan visual. Untuk proses menulis, aku terapkan secara manual terlebih dahulu di buku tulis, tapi anehnya ketika mau ketik di komputer, justru menulis versi baru, jadi tulisan manual tadi sekedar menjadi referensi, kalau sudah mulai frustrasi tinggal ambil beberapa kalimat dan lanjutkan natural. Menulis memang susah, penuh dengan manipulatif komunikasi dan konsistensi bertahap.

Untuk koleksi buku, aku sering membeli buku pemikiran desain, seperti yang terkenal Change By Design dari Tim Brown, terus The Best Interface Is No Interface dari Golden Krishna, selain itu buku hubungan inovatif teknologi dan bisnis dan juga beberapa majalah mengenai Media Art. Bisnis sebenarnya bukan sebagai fondasi utama ku, karena teknologi dan desain punya koneksi kuat dengan dunia bisnis, jadi ikatan ini mengalir mengikuti alur. Namun, buku tidaklah cukup menjadi referensi ku, ya jawabannya apalagi selain internet.

“The only art I’ll ever study is stuff that I can steal from.” — David Bowie

Startup, Bukan Sekedar Berilusi

Dari yang kecil terlebih dahulu hingga menjadi besar nantinya dan bukan menjadi kecil melulu.



Bisnis teknologi sedikit berguncang ke bawah, terutama untuk para pemain digital. Kenapa demikian?, ada kecanggungan di mana mereka mungkin menerapkan ide terbaiknya dalam hal inovasi, walaupun mulai kelihatan manfaatnya, sekarang pertanyaan besarnya adalah bagaimana mereka memanfaatkan pemanfaatan inovasi tersebut?

Dunia ku selalu memandang inovasi terkini teknologi, hingga analisa untuk kesempatan ke depan dari pandangan bisnis, namun dunia seni seperti Media Art dan eksploritas desain juga demikian. Menikmati teknologi sebagai hal — hal eksperimental dan ketidaksempurnaan karyaku sendiri. Membuat ku ingin terus belajar hal — hal baru. Namun, hal ini tidak menunjukkan ketertarikan ku dengan dunia Startup.

Karena aku selalu menanyakan diriku sendiri dan merasakan hal aneh, seolah — olah aku memprediksi Startup akan selamanya menjadi Startup, jika tidak bermain lebih dalam lagi penerapannya, akan terasa datar performa bila belum bisa menuju ke tingkat berikut permainan bisnisnya. Akan seperti toko kecil di antara toko — toko kecil lainnya dalam suatu Pasar, bukan gedung — gedung tinggi di kalangan elit. Anggap saja pasar imajinatif ini dunia digital, rata — rata hanya seperti menjual pernak — pernik, sembako dan kebutuhan pokok lainnya. Kalau untuk gedung — gedung tinggi tadi, mereka menjual produk — produk di kalangan pilihan, hanya teman bisnis dengan negosiasi berkala, orang — orang Startup setidaknya masih bisa bermimpi untuk meraih seperti mereka. Inilah hal aneh yang ku rasakan dari dunia Startup.

Penghuni gedung — gedung demikian, aku bisa mencontohkan perusahaan seerti Mercedes-Benz, Boeing, Rolls Royce atau Pertamina. Tantangannya adalah?, Mereka tidak berpikir seperti Startup, itulah kenapa tingkat mereka sudah jauh lebih dari Startup, tapi cara mereka memulainya seperti Startup namun tahap bertahan dan mengembangkan performa bisnis mereka tidak berlaku lagi dengan Startup.

Okelah, buat mereka Startup bersifat komunitas, non-profit, open source dan lainnya, itu tidak masalah bagi yang tidak ingin menjadikannya sebagai mesin uang atau belum berekspetasi untuk menjadi lebih besar. Selain bidang E-Commerce, jangan terlalu termakan dengan cerita kesuksesan Facebook, Google, Amazon, Uber bahkan Gojek, mereka sudah memegang kunci pintu — pintu potensi bisnis digital. Jadi, aku merasa bisnis digital bukan hal yang spesial lagi. Dan hal lainnya, E-Commerce memang agak sedikit menjanjikan dalam hal ini, tapi aku menyadari bukan lagi sebuah Inovasi dari dunia digital, itu sudah menjadi ide yang baru saja disambut hangat dari segudang dunia bisnis.

Visi Jack Ma, pemilik Alibaba Untuk Masa Depannya – Source: Bloomberg Gadfly [https://www.bloomberg.com/gadfly/articles/2016-11-01/jack-ma-goes-to-hollywood]

Jack Ma, pendiri dan pemilik Alibaba Group lebih yakin membuat perusahaan Film seperti Hollywood, daripada membangun Startup baru. Bahkan dia perlu berpikir dua kali untuk maraknya inovasi Virtual Reality. Ya, karena dia masih melihat ketidakjelasan bagaimana menghasilkan uang dengan kecanggihan teknologi sekarang untuk aspek bisnis

Kembali ke cerita imajinasi pasar digital tadi. Ternyata ada toko yang sedang naik daun, bahkan sudah membangun gedung dan pabrik sendiri, toko — toko tersebut ternyata beda dari toko yang lain, membuat inovasi dengan penuh kejutan, bukan disadari apa yang orang butuhkan, akan tetapi inovasi diluar pemikiran pasar dan orang — orang sekitarnya, ketika itulah toko tersebut menjadi pusat perhatian banyak orang, bahkan konsumennya tergila — gila menggunakannya, karena mereka menganggap sebagai pengalaman baru.

Tidak semuanya tergantung dari referensi potensial, relativitas pasar ternyata bisa membangun kategori baru dan justru ingin menikmati keunikan baru. Katakan GoPro, Oculus atau perusahaan yang sedang asyik membangun Drone. Ini baru namanya kejutan spesial dari kehidupan Startup, bukan karena mereka memiliki originalitas ide, mereka ingin mencoba lain daripada yang lain. Dan mereka sudah membangun kunci dan pintu sendiri, sekalipun mereka membangun potensi baru, bahkan pemain besar merasa minder dan ingin ikut serta dalam kompetisi. Selain itu, jelas bagaimana performa bisnisnya berjalan.

GoPro jelas mesin uangnya berjalan dari menjual kamera, Oculus jelas menjual alat VR. Pemain Startup harus tergantung dengan diri sendiri, seperti seorang seniman, seniman memiliki prinsip sendiri. Jangan memikirkan ego, kompetisi atau menang kalah dari permainan. Karena itu yang membuat kita destruktif atas konsistensi perjuangan Startup, sehingga apa yang mereka kembangkan menjadi tidak jelas dan akhirnya terus memiliki posisi Startup.

Begini, daripada bingung kenapa Startup punya dinamika tidak menjanjikan untuk masa depan jangka panjangnya, semua berawal dari keyakinan terhadap hal — hal sekitar atas persepsi ide, mungkin saja dari pembicaraan orang — orang sekitar, atau sensitivitas karena ada yang melenceng dan seharusnya memiliki solusi dari pandangan visi kita. Bukankah begitu, dunia Startup?, hal kecil yang tidak dibesar-besarkan akan tidak sengaja menjadi dampak yang besar. Pandangan lain pun, ilusi yang aku maksud, tentu sebagai tahap proses yang panjang untuk membangun sedikit demi sedikit menjadi nyata dalam berbisnis antara saling memberi untuk menguntungkan sesama.

Jika tidak, mendingan membangun Startup menjual tempat tidur yang jelas produknya dijual dan keuntungan bagaimana daripada Startup yang menjanjikan dunia digital sebagai fondasi untuk menciptakan hal inovatif, tapi sampai sekarang tidak bisa memberikan keuntungan balik.