Orang Ga Peduli Merek Mu; Spotify Bukan Perusahaan Musik

Butuh bertahun – tahun merek *brand untuk menguasai pikiran manusia ini, tidak bisa Coca – Cola, walaupun minuman soda bergula berjualan murah ini bikin orang – orang beli besoknya setelah melihat iklan, mereka perlu pesan berjangka panjang, walaupun tiga enam bulan, bahkan satu tahun berikutnya ingin minum soda, peminum akan tahu lebih memilih Coca – Cola.

Sekarang digital terlalu membanggakan teknik – teknik jitu, sosial media, web banner, email, ini belum tentu bisa berikan emosi. Sejak inilah aku jadi tertarik belajar iklan industri mulai dari sejarahnya dan orang – orang berumur dalam industri.

Jurnal ini hari ini memberikan argumen – argumen besar tentang kesalahan modern sekarang dan siapa orang – orang yang patut harus kamu ikuti, pandai membaca realistis ini.

Merek tidak bisa bekerja sesuai implikasi-mu, Memulai dari kolumn lama dari Financial Times, ‘How the Mad Men lost the Plot’, jurnal sebelumnya aku juga membahas Mad Men, tapi belum membahasnya.

Mad Men, drama tv series tentang agensi periklanan di masa – masa zaman ‘golden’-nya, kalau kamu nonton serial ini, kamu akan tahu betapa kritiknya cara kerja mereka, hanya demi kata – kata slogan, mereka merasakan di mana emosi-nya, meriset pasar bukan berdasarkan engagement, likes atau comment, mereka memecahkan misteri setiap bisnis dalam jangka panjang client-nya.

Mengambil kutipan dari professor Bryon Sharp dari Australia, tentang bukunya How Brands Grow

“Kalau kamu sekarang bekerja di bawah naungan merek. Pertama, kamu ga akan bisa menaikkan nilai pasar brand kamu dengan menargetkan pengguna pertama – tugas wajib digital media sekarang. Pengeluaran marketer hanya untuk pelanggan mereka sendiri dengan email dan web banner sangat buang – buangan”

Prof Bryon mengaitkan program loyal kurang kuat untuk brand, merek sukses harus pandai mencari orang yang tak mengira tentang itu, yang tak pernah ketemu sebelumnya, atau orang yang sudah lama ga beli dan benar lupa, di situlah titik merek bisa cari perhatian ketika memang mereka akan siap membelinya, ini langsung otomatis ke pikiran kita.

“Periklanan, kata Sharp, paling efektif ketika itu tidak merasa coba dan mengajak, tapi hanya membuat kita ingat merek pada titik pembelian.”

Kata – katanya agak membingungkan, penafsiranku, walaupun kita menjual sesuatu, bagaimana iklan bisa membawa sesuatu tersebut menjadi puncak ada saatnya untuk membeli?

Iklan paling efektif ga menjual, tapi bikin orang beli

Contoh lanjutan dari perusahaan Coke, “Iklan Coke memungkinkan kamu beli Coca – Cola tahun depan dengan proporsi kecil, sebuah dorongan sangat kecil sehingga kamu hampir pasti tidak akan menyadarinya, itulah kenapa orang – orang bilang periklanan tidak efek bagi mereka. Tapi hal kecil bisa menumbuhkan jutaan kaleng terjual”

Asumsi Marketer suka berimajinasi bahwa mereka akan membeli brand menempel di pikiran kita itu salah, konsumen lebih suka cara pintas daripada di antara cari keputusan ribet. Data menunjukkan bahkan orang biasanya beli di satu brand tiba – tiba pindah kompetitor brand lain jika itu terjadi lebih mudah dan murah di hari itu.

Penasaran bagaimana jika aku membuat iklan, apakah itu sifatnya menyinggung, apa itu kata – kata yang tidak ada sama sekali kaitannya dengan produk, iklan hanya membuat brand semakin menarik duduk di tempatnya. Dan orang, pembeli biasa bukan fans dari brand, “engagement” jadi unik itu ga ada artinya,  walaupun orang follow atau like belum tentu mereka klik.

Mengenai Follow, aku perkenalkan empat penulis yang harus kamu ikuti nasehatnya. Mereka sangat berlawanan dengan ahli sosial media, konsultan digital dan julukan – julukan teknik lainnya.

Dave Trott, Salah satu orang Inggris paling tua di industri periklanan, banyak menulis motivasi kreatif dan nasehat yang kamu belum tentu bisa dilakukan di dunia digital ini. Tulisannya banyak mengaitkan dengan sejarah, cerita biografi menjadi pelajaran untuk pembaca.

Bob Hoffman, Adcontrarian – Tulisan jurnal sebelumnya aku pernah memetik dan artikel dia, sering mengkritik budaya digital iklan, konsep salah sosial media yang menyesatkan mayoritas bisnis sekarang dan tulisannya ga nahan – nahan. Artikel terbarunya tulisan paling serius kenapa iklan online ga bisa membentuk brand –

“Iklan yang dicari – cari atas pribadi orang, obsesinya digital advertising, jadi ga semua orang bisa menikmatinya karena interest pemirsa, menjauhkan kita mengetahui apa brand yang bisa diterima di sisi kita”

Ad Aged – Ini kalau kamu sudah nyaman baca dua penulis di atas, di sini dia juga banyak menyinggung masalah modernisasi iklan, tapi lebih halus cara pandangnya, juga inspirasi iklan yang dia kumpulkan, pengalaman dia selama di industri.

Dave Dye – Beliau lebih membahas karya para tokoh – tokoh pengaruh di iklan, juga

membahas seniman dan fotografer. Website ini yang banyak memberi sumber cara menjadi copywriter, membaca rekaman podcastnya selama di industri, terus mengikuti contoh – contoh tulisannya.

Mark Ritson – Profesor Inggris yang suka menyalahkan prinsip sosial media, dengan analisa risetnya, perlu juga kamu membaca pandangannya secara detail mewakilkan penulis – penulis di atas, salah satunya Gary Vynerchuk salah, salah tentang Marketing.

Hebatnya mereka saling kenal dan saling mendukung setiap cover masing – masing.

Kolumn Mading

Penjualan Laptop Q4 turun termasuk tahun lalu – Gartner

Lenovo menggantikan posisi pemimpin pasar dari HP, secara pertumbuhan hanya Dell mendapat positif. Penjualan tahunan pasar PC global turun 1.3 persen dari 2017. Salah satu faktor, “Musim liburan bukan lagi patokan penjualan tinggi untuk pasar PC”

Kenapa Spotify Bukan Lagi Perusahaan Musik – Cherie Hu, Medium

Agar Spotify bisa menjadi Netflix-nya Audio, mereka tidak bisa menumbuhkan bisnisnya hanya dengan musik, tapi segala bidang yang berhubungan dengan “Audio Experience”. CEO-nya menerima seluruh kreator yang berhubungan dengan Audio, pengguna tinggal langganan saja.

Pertanyaan dia, apa nasib para musisi akan kelihatan rendah dari loyalitas streaming?. Yang aku suka dari ide Spotify, mencampur adukkan Podcast dengan Musik dalam satu playlist dari algoritma-nya, jadi seperti radio. Kembali ke kondisi pertanyaan tadi, jadi Spotify menganggap konten musik hanya hiburan uang sampingan?

Brands memodal 200 milliar US Dollar untuk Influencer ber-followers fake – Retail Gazette

Parahnya reaksi ulasan positifnya juga otomatis dari akun bot


Jurnal hari ini fokus menyadari bukan saatnya bicara brand tanpa iklan menarik menciptakan brand, yakinlah ada yang lebih baik daripada mayoritas ikuti, silakan kritik kesalahan, suggesti -> firasraf@kicikku.com

Apple Mabuk China juga Sukses Retail dari Skate

Penduduk China langka tertarik lagi membeli iPhone terbaru, mereka merasa tidak butuh lagi, mending uangnya untuk pergi libur lagi, itu mindset konsumen China yang bikin lemah untuk Apple.

Minggu ini pasar dunia membicarakan kelemahan Apple karena China dan ekonomi global juga terkena dampaknya Domino Effect. Apa yang bisa kita pelajari dari sini?

Di China ga ada efeknya bagi penduduk memilih antara Android dan iOS, karena sama – sama harus pasang WeChat, keluarga iOS lebih mahal pandangannya, asalkan WeChat masih berjalan lancar, pengguna iPhone belum mau ganti baru. Beberapa pernyataan dari essay dari Ben Thompson, analisa Apple di Pasar China, artikel ini terbit 2017.

Bagaimana dengan CEO sendiri?

Ada dua masalah mengkhawatirkan Tim Cook, pasar negara berkembang dan iPhone

Pembahasan Pasar Negara Berkembang

“Kami percaya lingkungan ekonomi di China kena dampak dari rising trade tensions dengan Amerika Serikat, efek ini kena cara kami meraih konsumen, ada penurunan trafik dari toko retail kami dan partner kami di China di kuarter dalam progress ini”, sebenarnya aku ga tahu apa itu trade tensions, ini penting mengingat Donald Trump dan Xi Jinping selalu membuka cerita masalah trade.

Tentang iPhone

“Ketika Negara China dan pasar berkembang lainnya sebab dari tahun ke tahun revenue turun, di negara berkembang, iPhone upgrades tidak menguat yang kami kira. Tantangan Macroeconomic berkontribusi di trend, kami percaya ada faktor lain kena di performa iPhone ini, termasuk pelanggan mengadopsi sedikit subsidi operator, US Dollar semakin menguat dengan harga lain dan pelanggan lebih mengambil layanan ganti baterai iPhone”

Apple melihat potensi di Negara Berkembang seperti Mexico, Polandia, Malaysia dan Vietnam, dari sisi positifnya. Dari kesimpulan di kuarter desember ini, Apple merasa sedang ada loyalty dan kepuasan semakin tinggi di antara pelanggannya, tumbuh lebih dari 100 juta units selama 12 bulan.

Pandangan dari jurnalis lain?

Lima cara melihat berita mengecewakan dari Apple, salah satunya Apple itu perusahaan iPhone, dari The Atlantic, Ini bisa jadi kaitan publik dari lambat penjualan iPhone di satu negara bisa berpengaruh turun 20 persen growth di produk kategori lainnya. Ini relatif di skala bisnis seperti ini. Selain itu, kebanyakan perusahaan tech, growth perusahaan dan profitnya tergantung dari pasar luar negeri, cara sistem ekonomi US jalan.

Hebatnya, pemicu kelemahan Apple juga mempengaruhi lambat ekonomi global, titik mulanya Wall Street – Reuters.

Kesimpulanku, Apple tidak boleh kelihatan sama di tahun 2019, ini tantangan Tim Cook yang berani mengatakan “tidak ada perusahaan lain di bumi ini yang berinovasi selain kami”, Apple sudah berhasil menjadi satuan konsumen teknologi yang menjadi diskusi dunia, jika saja iPhone terus menerus menjadi ketergantungannya, karena Steve Jobs sejarah mengingat, memang paling berkenang sebagai idealis inovasi untuk konsumen.

Ini peringatan besar untuk Apple tidak terlalu positif dengan trend Apple, padahal sebelumnya bukti mengatakan Supplier Apple sudah mengalami kelambatan di manufacturing. Kita tunggu performa selanjutnya di tahun pendek ini.

Pesan dari “Not Jony Ive” untuk @tim_cook

Tidak lagi tergantung Apple

Netflix ingin pengguna iOS langganan bayar lewat Web Browser – TechCrunch

Sebelumnya, Apple ga lakukan apa – apa lumayan dari potongan langganan Netflix, 700 ribu US Dollar di App Store.

Kabar Inovasi Google

Dari surat kabar SURFACE, aku ga tahu kalau Google lagi kembangkan motion Interface baru, Project Soli, sejak 2015. Kabar barunya, Proyek ini sudah dapat setuju dari FCC dan kemungkinan tidak ada indikasi bahaya untuk industri penerbangan. Ambisi-nya, gerakan sense tanpa menyentuhnya, menggunakan motion tracking, dalam satu chip jajaran sensor antena dalam ukuran objek lebih kecil sebanding koin.

Memang menarik pandangan desain, akan menggantikan layar sentuh?

Kolumn Mading

Untung Bisnis Mensensor Internet China – New York Times

Peraturannya sama, mengikuti cara pemerintah China, sambil bantu juga, justru menguntungkan. Cerita pekerja pensensor Internet dan salah satu firma yang mengaturnya, cara mereka mengaudit setiap konten, sosial media, pornografi dan berita harian di China. Selama tidak ada perlawanan kebijakan politik di setiap konten, meme, semua berjalan lancar. Rata – rata pekerja baru lulus kuliah dan memperhatikan juga jam kerja-nya, agar tetap akurasi, buat kesalahan maklum, asal ga menyinggung pemimpin sana.

China Menguasai Ekosistem App India – Factor Daily

China sudah mengerti di mana negara untuk memanfaatkan growth, India. Aplikasi seperti TikTok saingan Youtube, PUBG Mobile game online saat ini, BIGO LIVE, rata – rata ini berasal dari bisnis China. Tapi yang ku lihat ga hanya di India sebenarnya, negara berkembang lainnya pun juga ikut menikmatinya, termasuk Indonesia. Gampang aja mereka berbisnis, sekali itu hiburan tak terhingga, perhatian akan terus menerus datang.

Vietnam Mengangkat Hukum Siber Kontroversial, Mengurangi Kebebasan Pendapat – NPR

Menyakitkan ekonomi Vietnam dan menguntungkan satu sisi partai komunis, “Badan hukum Siber Vietnam tidak ada kaitannya melindungi hak pengguna Internet sana, justru membatasi dan mensensor kebebasan berpendapat pengguna”.

Catatan terbuka untuk CEO Google dan Facebook untuk tidak ikuti persetujuan Socialist Republic of Vietnam, dari 17 anggota kongres Vietnam tidak setuju atas kebijakan baru cybersecurity ini. Berita bagusnya, Google dan Facebook kemungkinan tidak menyetujui-nya, mengingat komitmen Mark Zuckerberg untuk “Membantu produktivitas Vietnam”

Bagaimana Toko Skate Tetap Hidup? – Jenkem Magazine

“Skate masih jauh dari untuk mati”, ini pelajaran retail dari skate untuk retail lainnya, mereka kuat karena komunitas sekelilingnya, salah satu owner di Seattle, mengatakan konsistennya bikin acara, “grow their scene”, agar orang lokal menghidupkan sekitarnya.

“Pembeli pun bukan orang sembarang, skate bukan tempat cari sumbangan, orang – orang ini juga perlu kerja keras agar komunitas ini kuat”, dari owner di San Mateo

Dari pemilik Barcelona “Ketika suasana lokal hidup, di situlah toko skate selalu ada.“

“Jangan beli papan online, nak!, Pergi keluar belanja, lihat jalanan dan bicara dengan orang. Ada kehidupan luar dari hapemu, Tambah tidak ada yang lebih baik masang papan dari orang yang ada di toko skate sambil bicara omong kosong tentang video terbaru.”

“Dari skate, menghidupkan potensi acara lain, pameran seni, kontes, premiere video dan pesta. Membuat tempat yang mengklaim dirinya.” Lagi – lagi pelajaran bahagia berbisnis kadang datang tak terduga, tidak tergantung bisnis dari corporate dan kebiasaan Mall. Sambil menguatkan culture, realistis perlu di bisnis model-nya

“Kami minta maaf papan skate memang harus naik harganya. Kami harus jual 13 papan setiap hari hanya untuk menutupi gaji karyawan harian”, jawab owner dari Seattle.

Retail memang naik daun, badan kita sendiri memang ingin merasakannya, bukan mata dan tangan yang scroll.

Masa Depan Cerah Retail yang Mengejutkan – Fast Company

Kenyataannya, manusia sudah mulai lepaskan Smartphone-nya, bangkit dari sofanya dan pergi ke toko asli untuk membeli. Di 2018, kami melihat plot twist, banyak retail fisik terlahir kembali, dengan Startups sudah bangun tokonya sendiri dan pengembang properti sedang mendesain ulang Mall. Masalahnya bukan orang malas untuk pergi belanja, tapi brand sekarang sudah membuat belanja pengalaman yang puas.

Cerita retail lainnya

Restoran Sushi terakhir di Tokyo tak tampak  – Reuters

“Orang lebih memilih bayar 100 yen untuk sepiring sushi di tempat paling murah atau mereka akan hamburkan ribuan yen untuk ke restoran sushi terkenal in Ginza yang mereka lihat di TV, tempat seperti kita kelihatannya tidak akan selamat”, Cerita suami Istri selama 35 tahun jualan Sushi, Eiraku, nama Sushi Bar-nya yang tak akan ditemukan mayoritas map turis Tokyo.

Expert -Ecommerce membodohkan pengusaha wanna-be demi cepat kaya – The Atlantic

Dimana – mana ga ada istilah instan di dunia bisnis, kecuali kamu termasuk dari korban ini.

Ini cerita sepasang kekasih menyalahkan duo expert cara mempelajari mengambil barang dari China dan memasukkannya di toko jualan di Amazon, katanya Amazon tinggal mengurus logistik dan pengiriman, biayanya lewat Amazon Program.

Ketika sepasang kekasih frustrasi dengan masalah berdatangan dari finansial Amazon, program yang mereka sewa sebesar 3000 dollar lebih untuk coaching, tidak sesuai dengan kontraknya respon cepat 24 jam.

Kehilangan 40,000 dollar dan hampir tidak ada balik modal, bukan maksud sebagai pasif income, justru ini pekerjaan merugikan bagi mereka. Dari sisi mantan klien duo expert ini “mereka benar punya scam sempurna, semakin kita ingin dapetin nasehat dari mereka setelah tiga bulan masih susah merintis, kita harus tambah bayaran dulu” bahkan dibuat semakin pesimis “Sayang ya udah lebih dari tiga bulan”.

Klien lain bilang “Sebenarnya ilmu mereka jual bisa kita cari sendiri gampang online, tapi mereka paketkan dan pasarkan seolah – olah rahasia yang hanya diketahui untuk kamu, ini pengaruh sesatnya”

Ageism of Advertising, Alex Murrell – Medium

Industri perikalan adiktif dengan kaum muda, realitisnya kaum tua yang sebenarnya bermodal, berdasarkan pemirsa. Juga membuktikan belum tentu kamu muda dengan kreativitasnya, tidak sebanding kaum tua yang sebenarnya berhak mendapat achievement atas pengalamannya.

Smartphone Dilemma

Mendeteksi depresi: App smartphone bisa monitor temperamen remaja – Associated Press

Riset perusahaan, Universitas atau grup non-profit punya berbagai metode membenarkan apa Smartphone mempengaruhi psikolog manusia, terutama kalangan remaja. Dari suara remaja pun juga ada sisi baik buruk bagi mereka “Orang harus melihat sisi terbaikku, namun membandingkan lain selama online, membuatnya drop”, kata Lizzaraga berumur 19 tahun.

Metode antara teknik dan etika, UCLA mengembangkan app sendiri eksperimental dengan screening test, terus data akan dikoleksi melihat indikasi depresi-nya. Stanford University mengembangkan app mensurvei tiga kali sehari tentang mood mereka dari anak remaja terdaftar.


Sekian untuk memulai hari ini dan besok, kritik, suggesti dan feedback -> firasraf@kicikku.com

Ilusi Influencer dan Suara Jurnalisme untuk Privasi

Kenapa bisnis sekarang sudah tergantung dengan istilah Influencer?

Influencer identik cewe cantik pamerkan gaya hidupnya dan selfie dirinya, ketika bisnis tertarik, Influencer akan menemani produk mereka untuk berfoto bersamanya. Dengan menunjukkan ribuan followers-nya, sebuah perusahaan percaya Influencer ini akan menguntungkan bisnisnya.

Kita ke ahlinya, Mark Ritson, Profesor Marketing dari Inggris mencoba hasil karyanya demi dampak Influencer – Influencer Marketing tidak hanya susah dari followers hoax dan siapa yang lihat, juga kredibilitasnya.

Omong kosong pertama, Benar Followers-nya asli punya mata?

Di luar angkasa, tidak ada yang bisa mendengar teriakanmu. Di sosial media, tidak ada yang tahu pemirsamu benar setengah juta punya sepasang mata atau segudang komputer di utara Shenzen dijalankan oleh pria bernama Abdul.

Omong kosong kedua, Benar Influencers itu terpercaya?

Di ladang sosmed kamu harus mengerti jika seseorang itu manusia dan ini sedikit trik, work out jika benar pesan yang dipesankan genuine untuk menghasilkan kepercayaan. Berapa banyak followers percaya yang Influencer sampaikan produk atau jasa tersebut?

Aku mempelajari komunikasi periklanan itu tahap pertamanya, impact *dampak

Omong kosong ketiga, Benar Influencer punya pengaruh?

“Boleh kah ku bertanya kita tidak boleh terus – terusan gunakan kata ‘Influencer’?, jadi Influencer itu, kamu harus memengaruhi sesuatu, aku rasa ini ga nyentuh kebanyakan Influencer sekarang”, kata – kata dari agensi Singapore, Neil Stewart

Aku bangga kalau para followers Influencer ku sewa bisa mengklik karyaku dan menikmatinya di antara kerumunan matanya, walaupun dapatnya 20 orang, ga masalah. Kata Mark Ritson “Yang nyesal orang Marketing-nya kalau dapat segitu”

Buktinya mana dulu kalau dia memang Influencer, benar ga Followersnya berubah kebiasaan dari makan daging ke makan sayur, dari sabun A ke sabun B, masalahnya pokok referensi ini hanya senang dengan angka likes dan followers. Jadi ga ada yang bisa jelaskan balik apa untung dari mereka?

Pengaruh Mark Ritson sendiri, tidak bisa menjamin jika Influencer bisa berharap followers membeli produk endorse dan respon mendalam pasar. Influencer Marketing saja masih bertanya – tanya, apa ini Editorial atau pesan promosi?, memang ampuh selfie jadi bawaan bahasa iklan sekarang?, hanya tren baru sosial media?, apalagi ini standar bawah di antara marketing sekarang. Belum ada teori dambaan perkumpulan orang iklan sendiri, kecuali orang Influencer Marketing sendiri.

Kabar terbaru, Influencer yang gagal untuk influence bisa jadi ide gugatan hukum, The Fashion Law

Kolumn Mading

Apa Machine Learning kekuatan perusahaan teknologi? – Ben Evans

membangun perusahaan berbasis sistem Machine Learning – pertanyaan : Data apa yang harus kamu dapat untuk melatih resep model-nya demi pelanggan pertama?, berapa banyak yang dibutuhkan?, pertanyaan dua pasti ditanyakan lagi, terus apa suatu produk lebih menguntungkan karena data?, atau lebih dinamis untuk mengambil data mentah banyak, agar kelihatan pemenang?


Jurnalisme teknologi kini memikirkan di mana kemanusiaan perusahaan teknologi yang bebas menelusuri privasi orang tanpa pengawasan regulasi, jurnalisme sekali lagi yang mengingatkan ke publik, budaya corporate ini demi kepentingan profit dan memanfaatkan data pengguna, tanpa sepengetahuannya.

2. Facebook hanya fokus growth dari pemerintah terlalu lama – Financial Times

Janji selalu ingkar, itulah Facebook membawa – bawa pesan pelindung privasi pengguna, realitasnya “Engineer dan atasan FB prihatin privasi yang justru menghalangi growth dan inovasi-nya”.

Opininya, cara Facebook lebih merhatikan growth daripada regulasi, itu mengerikan, pertama perusahaan besar yang kerjanya mau kelihatan kecil – kecilan, Mark dan Sheryl Sandberg lebih dominan atas ketentuan Facebook, atasan sana ga ada efeknya, ketiga motto “Move fast and break things” maksudnya setuju kontrak data-sharing dengan perusahaan lain yang sebenarnya ga ngerti dengan kerjaan Facebook.

Kolumn ini mengingatkan lagi, “Para atasan Corporate sudah punya sejarah panjang untuk memaksimalkan profit perusahaannya hingga dipaksa memikirkan batas mereka”, di era ini.

Berita terkini, beberapa aplikasi populer Android bagi – bagi data dengan Facebook, salah satunya TripAdvisor, KAYAK dan SkyScanner.

3. The death of Don Draper – New Statesman

Ga tahu Don Draper ga apa – apa, artikel ini menjelaskan peruabahan zaman cara orang mengonsumsi iklan, merek dahulu dan sekarang. “Ga mengira sekarang kemana – mana bawa media, berkat Smartphone dan bisnis periklanan sebelumnya tidak pernah menguasai era modern, malah sudah pakai cara jahat.” Kamu tahu siapa peran – peran yang tidak perlu memprediksi kematian advertising, siapaberpikir rasional, siapa logis, di sini ditempatkan paling lengkap.

Misalnya, kenapa Mark Zuckerberg masang iklan satu halaman di koran, di tengah – tengah skandal Cambridge Analytica, karena periklanan itu lebih komitmen.


Menulis, karena kamu membacanya. Suggesti, kritik dan ide untuk ke depannya -> firasraf@kicikku.com

Ajaran Anti Paradox dari Fashion

Kontroversial, pola berantakan dan suka mengejutkan

Desainer Alexander McQueen selalu ciptakan anti-paradox, satu sisi mengekspresikan seni dan sisi lain urusan bisnis, siapa yang menggunakan gaun buatannya?, gamengira museum Met Gala yang mengenang sejarahnya, bukan kebanyakan orang umum pikirkan tentang Fashion.

Apa itu Paradox?, suatu yang diajarkan kalau memang benar ya itulah benar di hadapanmu. Kreativitas suatu saat ingin mengatakan ini salah dan salah ada saatnya akan menjadi benar, sudah benar orang lain akan mengikuti benar itu lagi. Anti Paradox selalu berbuat salah hingga menjadi benar, Paradox.

Fashion lebih punya kewenangan untuk melakukan ini dan entah kenapa industri kreatif lain tidak bisa mengikutinya, belum bicara makanan.

Fashion punya kebebasan berkarya, sedangkan yang lain harus tergantung dengan atasan, pasar dan briefing, demi komunikasi.

Karena anti paradox fashion, penulis kritik pun punya pengolahan kata bagus untuk menyampaikan narasi karya setiap musiman, desainer tahu ini bisa kontroversial dan beranggapan melawan pendapat mayoritas di industrinya, sedangkan desainer merasa paradoks ya mereka tidak perlu lagi mengundang jurnalis, sudah merasa pedas di sebelum tempat.

Kita bisa ambil pelajaran ini untuk membuat karya di tempat lain, apalagi berdasarkan pengalamanku.

Aku sendiri tinggal di kota Pontianak, Kalimantan Barat, kecil dari kota – kota lainnya di Jawa dan Sumatera.

Tantanganku sekarang aku harus hunting foto untuk aset KICIKKU, tidak bisa pergi ke luar kota atau luar negeri belum ada modal waktu finansial untuk mencukupi.

Malam minggu kemarin di Ayani Mega Mall, entah ini gagal atau komitmenku kurang, keramaian sana memang datang untuk ke berbelanja sana, ditambah sudah ga asing lingkungannya membuat sedikit malu.

Pertama kalinya juga motret di halaman Indoor,

Menjadi fotografer jalanan memang susah apalagi di kampung halaman sendiri, cuma aku satu – satunya bersikap aneh membawa kamera, beberapa aku minta foto siapa aja waktu itu, banyak menolak walaupun gaya fashion mereka menarik, konsep biasanya Portrait.

Ini lebih susah dari motret di kota besar lainnya, Bandung atau Jakarta.

Anti-Paradox mengajarkanku menerima gagal, selanjutnya gimana cara bangkit, apa aku harus tetap motret di Pontianak demi kuantitas atau sabar menunggu kualitas ada kalanya rencana motret di lokasi baru?

Penduduk Internet Palsu dan Pengusaha Tua Tech Sukses

Belum terbiasa Podcast?, biasakan sekarang, tahan dulu semangat ingin mendengar musik, mulai dari aplikasi ini

Wilson.FM, mengumpulkan beberapa episode Podcast sesuai tema setiap minggu, kelihatannya sang pembuat memang mengerti industri ini, tanpa algoritma, tanpa mesin pencari, tanpa registrasi, sesuai dirinya Allan Yu, tak perlu banyak langkah, langsung dengar, biarkan pengguna mendengar sesuai editorial-nya, hanya berlaku di app iOS.

Wilson

Digital tidak perlu agresif, biarkan dirinya seperti kura – kura daripada kelinci yang tak tahu arah kemana. Tahunan Nieman Lab, organisasi jurnalisme eksis di Amerika, mengatakan “This is the long game, there is no magic way”

Aku pernah mengatakan berkali – kali bisnis digital tidak bisa kemana – mana lagi selain cari mangsa dengan rakus, sekali berhenti mungkin orang sudah jatuh ke hati lain. Mengajak kita berinovasi digital itu salah, berasumsi memanfaatkan digital juga salah dan parahnya semua orang melakukan hal sama. Bayangkan, semua ingin instan sukses karena digital dan kita lupa kakek buyut berjuang untuk mencapai bahagia, melakukan hal sama dan jam panjang sama.


Atau orang baru sadar apapun itu programmer-nya hebat, ya mereka hanya pekerja biasa, ini ulasan tahunan WIRED mengingatkannya.

“2018 adalah tahun di mana para karyawan sadar produk mereka telah merusak dunia dan manajemen mereka tidak akan mendengar, hingga akhirnya mereka turun ke publik. Salesforce dan Microsoft, menjual Cloud Services ke agensi yang memisahkan keluarga di perbatasan, Google dan Amazon berlomba demi kontrak Artificial Intelligence di Pentagon”

Sistem lama kapitalisme berjangkit di Silicon Valley, kena-nya kesenjangan pekerja


Seberapa besar internet palsu kehidupannya, jauh dari yang kamu bayangkan, essay dari NYMag Intelligencer, trafik pengunjungnya palsu, kontennya palsu, bisnis online nya juga palsu, yang asli cuma pemasang iklan dengan iklannya. Pembahasan ini fokus sirkulasi bisnis berbasis iklan online.

“Pemasok iklan berharap sesuatu: Pertama, pengunjung harus melihat iklan di konten premium di media mapan. Sayangnya ini masalah, Hucksters menginfeksi 1.7 juta komputer dengan malware untuk memalsukan kunjungan trafik website.

Bahkan ada website yang kosongan khusus dirancang untuk pengunjung palsu, website palsu + pengunjung palsu + iklan asli = untung asli. Membodohkan para pengiklan yang mereka kira akan tampil di premium seperti Vogue dan The Economist.”


Orang punya keahlian lebih memilih Freelancer daripada karyawan, ya mereka memprioritaskan kualitas hidup daripada uang bulanan. Dari Fast Company, ini berita anak muda yang selalu mendominasi.

“Teknologi memudahkan mencari Client. Tiga dari empat Freelancer mengakui gampang mencari kerjaan freelance. 64% freelancer menemukannya online, naik 21 poin sejak 2014. Dan kerjaan freelance terbuka online naik 67% untuk freelancer tahun ini.”

Sumber data dari tenaga kerja Amerika.


Bagaimana yang tua sukses menjadi pengusaha teknologi? – Kellogg Insight

Tunggu dulu berasumsi bahwa anak muda yang akan mengambil alih dunia Entrepreneur, profesor artikel ini berkomentar ‘berdasarkan umur kita lihat penghargaan terbesar seorang ahli sains tidak di antara dua puluh-an’. Ada alasan kenapa pengusaha muda lebih talenta terutama di bidang teknologi, karena pemikiran inovasi mereka bisa ketemu prinsip konsumen. Orang berumur tua mereka punya prinsip proses bagus menciptakan manajemen startup. Dan yang tua tau lama di industri, tahu prinsip peluangnya di mana.

Data artikel ini mengatakan dari 27 juta Founder bisnis yang sudah masuk IPO atau asetnya terbeli, rata – rata berumur 40 tahun, kesimpulannya umur 40-an cenderung akan membuka bisnis baru daripada kalangan 20-an.

Score Tinggi, Bayaran Rendah: Gig Economy Seperti Tantangan Main Game – The Guardian

Yang ngerti hitung – hitungan supir Grab atau Gojek berpengaruh hasil untung dan permainannya. Artikel ini sama bahasnya. Perusahaan jenis Sharing ini menganggap supir yang daftar adalah partner mereka, ketika mulai sang partner tinggal memilih waktu bermain game-nya, kalau sudah main, seluruh peran berlaku di setiap tingkatan, semakin susah, semakin tinggi bayarannya, malas berarti rendah. Misal misi-nya “Cari 10 rides hanya berlaku sore dari jam 4 sampai 5 dapat bonus 300 ribu”

“Streambait Pop”, Aransemen Musik demi Perhatian Streamer Spotify – The Baffler

Musik sudah masuk ekonomi cari perhatian

Sebutan Spotify Style salah satu beberapa pop trendtelah berkembang di era streaming. Apa yang para musisi jurnalis tunjukkan, “sekarang kita dengar musik lagu suara hit sebelumnya, sering kali tepat di awal lagu”, sering tambah2 EDM Drop untuk mayoritas konsumsi. Kita juga sering mendengar musik yang ga asing dengan musik lainnya, Youtuber dan Influencer mencicipi karir pop musik masang clickbait kolaborasi. Dan lagu Pop semakin pendek dan pendek.

Para produser musik sudah berorientasi cari perhatian bersama pop artist lainnya, sistem replikasi diri yang terus menerus memberikan gaya sama. Mereka ingin para pendengar terus mendengarnya lagi dan lagi, apa mereka memperhatikan atau tidak.

Masa depan buku di sini, tapi bukan yang kita harapkan – WIRED

Yet ini kejutan: Kita melihat masa depan buku di tempat yang salah – “Aku pikir kita setuju di zaman distraction tak terhingga, buku adalah aset terkuat sebagai buku yang tunggal, berkelanjutan dan anti gangguan.

Tidak mengira juga, apa yang menghidupkan sebuah buku, teknologi juga mengubahnya, dari cari modal, printing hingga membangun komunitasnya, seluruh proses ini mendukung “buku” dengan bermakna. Tapi buku hari ini, apa yang ada di tangan kita, entah itu digital atau cetak adalah “masa depan buku”, unfuturistic dan lembam dari yang kita lihat.

Penulis essay ini, Craig Mod, desainer fotografer tinggal di Jepang juga menjanjikan ‘email’ untuk penulis “Setahuku penulis dan seniman yang ku tahu rata – rata punya newsletter email”. Satu cara yang harus kita ketahui dari sosial media, menghisap perhatian kita, energi yang dulunya blogging sekarang pindah ke email.

Paling menginspirasi Ben Thompson, dengan surat kabarnya Stratechery dan lebih dari 1000 pelanggan sudah bayar $100 per tahun.


Kembali menggairahkan menulis jurnal, karena permainan ini hanya baru permulaan, tidak ada istilah selesai dan berhenti. Silakan kritik, suggesti dan secangkir kopi -> firasraf@kicikku.com

Merasa Tetap Kopi Panas

Tidak semua orang tahu apa itu Americano, tapi semua orang tahu cara memesan kopi panas.

Americano itu standar panggilan kopi internasional, campuran Espresso dengan air panas.

Belum tau Espresso? tanya internet sebelah

Keberagaman kopi budaya modern tergantung dengan budaya Americano, orang awam tahunya kopi panas ya kopi panas, bukan lagi Americano.

Di Vietnam, orang panggilnya kopi Vietnam, itu khas budayanya, cara penyajiannya beda.

Rata – rata Cafe, memang memanggilnya Americano, tertera di bagian menunya. Di mana pun Cafe yang punya suasana vibe, chilling panggilnya “Americano”

Kalau tulisnya “Hot Coffee”, pembeli memang mengerti apa yang dipesan, kalau saja tulisnya “Americano” dan teman lainnya, “Macchiato, Espresso”, Sengaja bikin misterius atau sengaja alasan profesional?

Penasaran juga, kenapa Cafe yang merasa tahu standar Cafe, bukan sekedar membuat Cafe sembarangan, pilihan menu-nya merasa tidak memiliki gambar. Kenalan di Balikpapan punya Cafe bilang “Ini sengaja, agar ada diskusi antara pelayan dan pelanggan”. Mungkin juga ada hubungannya dengan panggilan Americano, agar pembuat kopi *barista menjelaskannya juga. “Inilah dunia kopi, orang awam harus tahu bahwa ini istilah – istilah kopi?, tugas kami untuk menjelaskannya”

Pasar obsesi kopi merasa mereka punya kekuatan untuk memperlihatkan “ini bukan sekedar minum kopi”.

“Kopi Vietnam”, “Kopi tiam”, kopi jahe” ada juga, kenapa hanya istilah Americano yang mendunia?