Tekanan Facebook dari NYTimes; Peringatan Apple di China; Podcast dan Subscription

Selamat datang kembali di mana aku membahas para keluarga dari FAANG lagi, tahu kan FAANG?, para legendnya Silicon Valley sudah melahirkan tulisan opini di mana – mana, aku termasuk perwakilan dari Indonesia, ga tahu bagaimana orang Jepang melihat Facebook, bagaimana orang Korea melihat Google, ketergantungan kuat kita terhadap konsumsi teknologi ini, membuat cemas, apakah United States bisa memberi contoh yang baik untuk kehidupan inovasinya?

Sedangkan kata – kata buatanmu, seperti Artificial Intelligence, Internet of Things, Smart City, Cyber Security, Machine Learning, seluruh negara sudah mulai mengikuti prinsipmu, aturan sama berarti idenya tak jauh sama. Letak perbedaannya kompetisi yang menentukan, siapa yang akan menang?, kalau lokal tak mampu terpaksa negeri luar masuk?

1. NYTimes bongkar Facebook Lagi

Aku tidak bisa baca artikel NYTimes ini *belum langganan, kabarnya memerlukan 6 bulan riset untuk mendapatkan kehidupan Facebook setelah pertanyaan, apa Facebook benar bertanggung jawab atas kesalahannya selama dua tahun ini, dari penjuru dunia merasakannya?

Dari reaksi Recode untuk artikel ini, siapa yang seharusnya dipecat sekarang?, daripada orang – orang tak bersalah keluar karena sadar diri, yang seharusnya bersalah memecat dirinya sendiri.

Ku ingatkan kembali, membahas masalah sosial media di jurnalisme ini, mengasumsikan teknologi terdepan, diskusi politik lingkungan kantor mengambil keputusan juga cara mereka menghadapi krisis, mencoreng kreativitas digital teknologi, tidak ada ide lagi selain putaran masalah tak berhenti – henti.

Sheryl Sandberg, dulu ngefans dengannya, salah satu wanita berkharisma di Silicon Valley, pembahasan NYTimes banyak menunjukkan temperamennya menghadapi masalah. Ya aku bisa merasakan ekspresi galahnya. Selagi Mark Zuckerberg jalan – jalan keliling dunia demi ambisi Facebook, Sheryl Sandberg lah yang sering di balik layar menyembuhkan luka Facebook, apalagi investigasinya terhadap Rusia.

Poin penting lainnya, Mark Zuckerberg menyuruh manajemennya hanya menggunakan Smartphone Android karena penggunanya banyak di situ dibandingkan Apple, padahal ini pelampiasan dia setelah CEO Apple mengkritiknya.

2. Google Berhasil di China?

Dari Wired, Tetangga sebelah Google, merasa sudah sukses duluan di China untuk mesin pencari versi sensornya, aku ingin tahu apa reaksi Badui?, Sundar Pichai tidak mau ketinggalan dari kesempatan populasi China 20% dari dunia. Kelihatannya keputusan ini tidak ada kaitannya dengan wajah kontroversialnya, karyawan Google sendiri saja sudah protes dengan proyek ini atas kelewatan etika moralnya.

Google termasuk agresif ingin melakukan apa saja, proyek cyber security, logistics dan transportasi, apalagi asosiasinya pemerintah, semua yang berhubungan dengan AI dan autonomous harus mereka meraupnya. Tatkala Sundar Pichai berkesimpulan “Ketika kamu terlalu awal dengan kekuatan teknologi, kamu harus melakukan regulasi sendiri”

3. Podcast dan langganan berbayar

Streaming film, TV, media sudah memasukkan langganan berbayar untuk fondasi produknya, sekarang maraknya Podcast dan kabarnya Hollywood juga tertarik mengembangkannya, apa juga sudah siap menuju langganan berbayar?

TechCrunch dan penulisnya tentang masa depan Podcast, Eric Peckham. Pelajaran di sini, langganan berbayar mendorong kamu mengutamakan kualitas lebih dari mencari – cari popularitas streaming.

Rata – rata pendengar podcast berpenghasilan $75,000 lebih dalam setahun, berarti ada potensi sekecil apapun lingkaran pendengarnya yang loyal, selagi Podcaster tahu obsesi industri mana untuk kontennya, ini tidak masalah untuk menjaga produk langganannya. Pendengar Podcast, opiniku, punya rasa penasaran dua kali dari minim bahan media mendengar cerita skenario, wawancara juga diskusi, daripada orang yang punya akses musik dari seluruh dunia, punya berperilaku terus belajar.

“Sayang satu kompetitor dan lainnya menawarkan konten sama dengan saling lempar harga murah”. Ini tidak akan mungkin berjalan lancar, ya mereka yang berada di pasar umum, siaran berita dan diskusi umum hanya rata – rata orang bicara, akan terasa berat untuk langganan berbayar, di luar sana Podcast umum banyak mengesampingkan sponsor untuk modal baliknya.

Inilah kesempatan Podcast akan datang bagi obsesi industri yang mereka jalankan terus – menerus, sama seperti format media lainnya, mencari niche.


Sisanya gitu – gitu saja

Apple merasa lambat di China, Goldman memperingatkan investor-nya, Business Insider – Index konsumsi ekonomi China turun 50.8 di bulan September dari 51.3 di Agustus, ini mempengaruhi penjualan iPhone di Q4 2018. Padahal akhir bulan menuju musim belanja liburan, peringatan tersebut bagi Investor samar dengan barisan baru iPhone XR dan iPhone XS “masih bisa mengambil growth lagi di akhir tahun”, menurut analyst Goldman Sachs.

Tim Wu dalam hukum persaingan bisa menghentikan raksasa Tech Companies, Intelligencer – Profesor hukum Columbia University merilis buku baru ‘The Curse of Bigness’. Pembahasan ini masalah Amerika yang sedang dihadapi, luka lama monopoli penguasa oli pindah takhta ke pemain teknologi, “Ketika Google membeli Waze, Facebook beli Instagram, bagaimana bisa itu legal?”

Mengundurkan diri dari Instagram, juga menghapus akunnya, liputan Washington Post, Bailey Richardson, mantan karyawan Instagram menceritakan pengalamannya salah satu dari 13 karyawan sebelum Facebook membelinya, mengikuti jejak sang Founders, kini dia merasa Instagram bukan lagi komunitas seni intimasi yang dulu pekerjaannya mengoleksi fotografi pilihan konten dari seluruh dunia, sekarang sudah “seperti adiksi obat yang kita rasakan yang tidak membawa kita merasa ke depan lagi”, tempat dulunya artistik, sekarang pasar media berlomba – lomba menjadi selebriti.

“iPhones are hard to use”, Weblog of Joe Clark – Apple memang suka sembunyikan fitur – fiturnya misterius, orang – orang tua yang kadang harus membutuhkannya justru paling sedikit menggunakan fiturnya, “Aku tidak pernah lihat penyandang cacat menggunakan AssistiveTouch, kecuali pengguna iPhone yang layarnya pecah rusak atau dan orang China lokal”.

Riset baru Facebook, Instagram dan Snapchat memicu depresi, Marketwatch – tidak ada mention Twitter, pelajaran ini sudah kesadaran lama, riset dari Univ. Pennsylvania membuktikannya dengan konsumsi sosmed 143 mahasiswa. Antara orang yang share betapa istimewa hidupnya melebih – lebihkan dan orang yang tambah depresi ketika melihatnya ‘hampa hidupku dibanding mereka’.

Murah bukan Prinsipku

Kenapa Singapore Airlines salah satu penerbangan termahal di dunia?

Bandingkan penerbangan lain Emirates, Korean Air, All Nippon Airways, mereka juga berasal dari negara hebat, standar kualitas akomodasi sama, standar keselamatan sama, sama – sama punya banyak pesawat raksasa, kenapa satu ini paling mahal?

Apa karena ini jembatan bisnis internasional?, penduduknya hanya keluar masuk luar negeri, standar hidup tinggi, Singapore Airlines menyesuaikannya?

Merah dan biru, kiri dan kanan, hitam putih, murah dan mahal, selalu ada pasangan.

Kedudukan atasnya, Singapore Airlines merasa kesepian penumpang kelas ekonomi, penerbangan lain punya lebih murah dari setiap negara menuju Singapura.

Bicara mahal, berarti ada alasan mahal?, bukan anggota pasar murah di depan dunia, siapa lagi mewakili pasar mahal selain Singapore Airlines?, bahkan rajanya.

Pasar mahal menunjukkan daya tarik sendiri, pasar murah identik mayoritas dan popularitas angka tinggi. Pasar mahal merasa bermain jangka panjang, merasa berbeda dari lain, merasa obsesi sesuatu ‘unik, kreatif, mewah, istimewa’, merasa “kalau ingin mewah dan paling nyaman naik pesawat, di sini tempatnya”. Pesawat lain juga tujuan sama, tapi siapa bangga kalau naiknya Singapore Airlines, inikah kekuatan mahal?

Eksis kekuasaannya di atas kawanan murah, hawa penumpang mahal lebih berkharisma menunjukkan kekuatan daripada penumpang pesawat murah.

Padahal logika mengatakan mayoritas akan memilih harga murah, kenapa lebih memilih harga mahal?, karena murah bukanlah prinsipku.

Permainan Matematika sedang Terjadi

Fondasi seorang kaya untuk membodohkan kalian dengan kepintarannya sendiri, matematika, nama Wall Street dan nafsu egois di mana – mana, Algoritma sudah menyesalimu sekarang jika tidak beli baju ini di Ecommerce ini, Youtube tidak sepenuhnya memberikan tutorial workout kamu, mereka hanya mau kamu tekan video workout tak sempurna selanjutnya.

The New Yorker ‘The Death of Kings’, kehidupan orang finansial bagaimana mereka produktif sehari – hari di depan angka merah dan hijau, serta hitungan – hitungan spekulatif mereka yang tak pernah ku dengar, pertama kali mendengar Ponzi Scheme oleh penipu terbesar Wall Street pernah menjabat tinggi di NASDAQ, Bernie Mandoff.

David Beim pensiunan Wall Street “Pertama kalinya Matematika melarang manusia untuk mengambil antisipasi. Ahli Math yang dulunya bekerja dengan fisikawan dan program luar angkasa, sekarang pindah ke Wall Street mengukur harga pasar dan model resiko.” Ini semakin kompleks

Jadi karena Math?, kita punya kelebihan menyatakan istilah sesuatu, menyatakan “aku mengatakan sistem kita gagal” gagalnya sendiri bukan gagalnya untuk orang publik, tidak ada getaran kecemasan masyarakat, anehnya “kukatakan sistem ini sukses, pasar global menerima hikmahnya”, justru hal itu terasa sakit untuk publik sana, ketidakseimbangan bersembunyi di keseimbangan.

Selain profesionalitas menyombongkan diri, Math teman kendali rasa pengorbanan untuk mengambil keputusan, lebih yakin dengan prinsip tumpukan rumus daripada rasa percaya dirimu sendiri. Sudah diambil naluri hati oleh firma finansial berbasis teknologi, mereka menganggap masa depan akan merasa berubah dengan adaptasi ‘perubahan cepat’, Investor harus percaya itu, apalagi currency, Math sudah menyuruhmu berhadapan dengan grafis resiko.

Warren Buffet seorang klasik, seandainya punya kesempatan bicara dengannya investasi apa inovasi Matematika di sana?, ku merasa dia tidak percaya metode technical yang biasanya orang kuantitatif bicarakan, tidak ada diskusi kualitas berbicara long game untuk revenue dua tiga tahun ke depan.

Manusia identik ingin mengubah zaman, agresif dan sensitif, terima kasih itu adalah kreativitas kepentingan bisnis sendirimu. Tulisan ini tidak merasa kasihan siapa yang kalah, permainan ini memang siapa yang merasa menang, siapa yang saling percaya, siapa yang merasa benar.

Quants, contohnya, guru terkenalnya Paul Wilmott walaupun mengajar Quants dia tidak mau pasar juga ikut terpengaruh Quants, ada permainan spekulatif yang publik tak perlu tahu masalah ini, yang perlu mereka ketahui ini berkah baru cash-out ini.

Industri finansial tidak punya insting soal nalar dan maksud tulisan literasimu, baru – baru ini aku lagi belajar proses menulis ‘pasar global’ se-legend, John Authers. Cuma itu inisiatifku di dunia finansial, bukan menggali uang, menggali tulisan.

Sehebat apapun sebuah transaksi, mereka selalu mencari celah untuk memanipulasi jalan tengahnya dengan muka corporate mereka dan keuntungan tak terbayar melihat pemandangan di tower tertinggi, Math teman paling polos daripada kepercayaan politik.

Anggap saja Matematika memang sebuah permainan dan yang tahu aturannya hanya sang legend, Paul Erdos.


Cerita Matematika bermasalah lain, etika Algoritma sekarang memengaruhi budaya di penjuru dunia. Ambisi Silicon Valley mencerminkan gampangnya menjadi pengusaha, bertanggung jawab kesalahannya bukan diskusi selain growth.

Menyimak diskusi editor Wired, Tristan Harris mantan desainer etik Google juga penasehat dunia tentang moral teknologi sekarang dan Yuval Noah Harari, seorang filsafat juga penulis buku memahami abad kemanusiaan lalu dan masa depan.

Math akan punya banyak teman dari psikolog dan filsafat hanya untuk menguasai otak manusia, jadilah hasil riset AI mendefinisikan kita terus menerus menuju masa depan baru di sini, ga lupa Biologi pelajaran paling lambat mengambil tindakan manusia akan membantu Math, dari sirkulasi darah, aktivitas otakmu hingga matamu bermain, komputer akan tahu tindakan bohongmu.

Tristan Harris berseru semua punya kemungkinan di sini, semakin cepat semakin berbahaya yang seharusnya kita semakin lambat semakin aman dan Yuval Noah Harari juga menyebut ini hanya ide klasik abad ke-18 yang sedang berlangsung.

Orang – orang komputer sains yang baru lulus, pemerintah dan peran bisnis, mereka hanya bicara teknik dan potensi ekonomi baru ke depan, kegagalan yang sudah terlanjur dan krisis kemanusiaan masih jauh dari prinsip mereka, selagi inovasi akan datang terus – menerus, di situlah diskusi model bisnis yang sebenarnya.

Yuval Noah Harari “Sekarang keseluruhan negara sudah berbeda pembicaraan dari 5 atau dua tahun yang lalu, semua berlomba – lomba menuju AI dan ketika kamu berada di lomba tersebut, itu hanya membuatmu berada di titik terbawah, walaupun ide buruk, ya terpaksa melakukannya, setidaknya tidak ketinggalan zaman dari lain”

Tristan Harris “Kita berada di kompetisi sedang siapa yang bisa membesarkan gunung dan membuat transaksi semakin cepat, ketika sistem itu terjadi yang mengatur manusia untuk bergerak cepat dan memanipulasi budaya dari seluruh dunia.. Kita harus belajar lambat mengambil keputusan, teknologi harus membanting stirnya ke situ ”

Memancing Kalah dari Naluri

Kenapa orang memancing bersama temannya selalu sedikit egois, tidak terima kalah ketika temannya lebih baik mendapatkan ikan?

Di antara kita, entah itu posisi kita berada di kiri atau kanan, di satu danau, sama – sama punya alat pancing sama, sama – sama berbagi bait-nya, akhirnya si ‘dia’ yang dapat paling banyak ikan besar. Kenapa demikian?, apa mancing selalu tergantung dengan keberuntungan dan melihat teman telah kalah secara tidak sadar.

Siap – siap tidak yakin terhadap diri sendiri, merasa ego, lupa maju dan fokus, tak mau terima hasil apa adanya.

Eksistensi baru muncul, besoknya, yang merasa kalah sedikit egois dengan alat pemanggil ikan secara instan di pasang di pancingnya, teman yang kemarin menang tidak tahu masalah ini, dia merasa agar hari ini baik baginya ataupun temannya.

Tentu saja teman tersebut akan menang karena inovasinya, tak lama lima menit kemudian alat itu berhasil menangkap ikan besar, tiga menit kemudian temannya pun juga mendapatkannya ikan sama.

Sang pemancing tidak biasa merasa aneh?, kenapa dia juga mendapatkan sama?

Ternyata alat itu tak hanya memanggil suara saja, tapi mengumpulkan kawanan ikan dalam satu lingkaran, sama – sama menang, mereka pun senang pulang tangkapan masing – masing.

Besoknya mereka mancing lagi dan terus mendapatkan kenikmatan terus – menerus ini, hingga temannya berkata ‘Kenapa kita benar – benar tak pernah merasakan ini sebelumnya?, daripada exciting begini terus, kita lupa rasa bosan dan sabar lagi’

Khawatir dengarnya ‘Iya ya, ini mungkin keuntungan kita laut telah menerimanya’. Temannya memilih berhenti ‘Pulang duluan ya, kelihatan basi, ga ada cerita2 di depan pemandangan lagi’.

‘Oke lah, silakan’ teman tak biasa ini merasa ga enak dan tetap lanjut saja, ‘daripada berbuat kesalahan dan gagal kenapa aku harus bersikap egois seperti ini?’ tiba – tiba pemancing ketiga datang curiga ‘Kenapa ikan – ikannya selalu datang ke tempat kalian di alat Scanning, apa kalian ada yang menggunakan pemanggil suara ikan?’

‘Ga ada’ dua – duanya menjawab, ‘Jelas ini ada yang ga beres’, boleh saya cek alat mancingnya masing – masing, ‘Ini kamu’. Jadi selama ini kamu pakai alat itu?, terkejut dia, pantes aja kita dapat enak – enak terus dari kemarin’.

Pemancing ketiga berseru, ‘Maaf ya untuk kalian berdua, tidak ada salahnya kalian pakai alat ini, ini daerah baru, masih sepi, belum ada turis seperti kalian memanfaatkannya, berhasil tidak selamanya enak, justru pahit akan di hadapan orang lain, pikirkan turis baru exciting datang untuk mancing dan orang desa sekitar, mereka pun ingin jadi pemenang juga, lagian kalian sudah menang bisa ketemu pemandangan ini’.

Menjadi pemenang memang gampang, lagian siapa yang mampu nahan naluri kekalahan?

Masa Depan Ecommerce Punya Bakat Craftsmanship

Apa arti Craftsmanship?, penjual atau retail yang menjual barang mementingkan kualitas daripada kuantitas, dengan kemampuan dirimu yang tak bisa diikuti oleh orang lain, termasuk kerajinan tangan dan barang – barang obsesi yang satu – satunya ada di tempat kamu.

Sayangnya Ecommerce sekarang hanya bicara growth dan cerita instant sukses, hingga kebanyakan orang harus buka toko di tempat mereka, ujung – ujungnya jejeran pasar hanya jualan Case Smartphone dengan aksesoris kamera.

Craftsmanship enaknya bicara ke Fashion, isi dengan packaging indah, mereka lebih jual kepercayaan gaya lokal, punya nilai keindahan, desainer dari spesialis grafis hingga web, UX ikut senang berkontribusi visi mereka, sama – sama saling berinvestasi antara aset dan human capital.

Kalau mau bicara bisnis Ecommerce tanpa Craftsmanship, ciri – cirinya mereka lebih mementingkan perhatian kamu selama di Internet serta data kebiasaan kamu, daripada mementingkan ‘Kita perlu mencari penjahit berbakat untuk desain produk terbaru ini?’

Yang sudah punya Craftsmanship, Ecommerce adalah teman bisnis onlinemu. Yang punya kemampuan Ecommerce belum tentu punya ide istimewa seperti kamu.

Pemain Blibli, Tokopedia, Bukalapak dan lainnya cukup mereka berperang satu sama lain karena kategori mereka sudah terlalu umum seperti belanja di Supermarket sedang mencari perhatian – perhatian harga murahmu dan cashback. Karena kalau sudah bicara kualitas, realitasnya memang mahal.

Kemampuan bertangan bersenimu akan membedakan Ecommerce lain daripada yang lain, inilah masa depannya. Ketika kamu ingin memulai, hasil kerajinan tanganmu lebih menjual berjangka panjang daripada rusuh hanya melihat target bulanan selanjutnya di jangka pendek.

Ketika hasil Craftsmanship mu siap komersial,

  1. Temukan bahwa orang sekitar kita selalu punya berbakat bisnis online, minta bantu mereka bahwa kamu yakin dengan hasil tanganmu perlihatkan ke publik. Selalu ada keseimbangan antara orang ‘berbakat’ dan orang pandai ‘menjual’.
  2. Atau kamu orang punya bakat bisnis sebagai Ecommerce antara mengambil supply barang berseni atau Niche dengan menemukan pasarnya.
  3. Desainer lokal berbakat di mana – mana, ternyata mereka juga sedang mencari orang seperti kamu, sebuah harmoni pertemanan untuk saling memberikan ide untuk konsep brandnya juga media visualnya, cari referensi contoh di butik Fashion seperti Visvim atau liputan orang – orang Monocle.
  4. Bisnis ini punya aroma kreativitas retail, di sinilah apa yang kamu cintai akan dicintai oleh calon pembeli baru dan lama kelamaan akan membentuk pasar baru.
  5. Developer Web lokal juga berbakat di mana – mana, ini tugas sang desainer untuk mengoperasikan dari konsep belanja produk hingga halaman utama.

Jangan bicara soal masa depan Ecommerce, kalau komunitas rakyat saja belum tahu di mana resep sebenarnya untuk menjalankan kemewahan bisnis ini.

Contoh bagus, Ecommerce tas ini bernama Bembien oleh mantan orang Vogue Yi-Mei Truxes dan kecantikan brandnya memanfaatkan bambu.

Bembien

BEMBIEN

Bruce Sterling Ilusi Internet of Things Corporate

Pertama kalinya mendengar ada yang berargumen masa depan Internet of Things, berarti selama ini aku kurang sumber referensi

Perkenalan dulu siapa dia yang mengkritiknya, dia ahli kritik desain, jurnalis teknologi dan idealisme futurist dari tulisan – tulisan sains fiksi-nya, Bruce Sterling. Di lecture terbarunya, ‘Internet of Things’ hanyalah semua objek switch on/off yang ingin dimasukkan oleh Internet dari pembahasannya dia yakin industri ini tidak akan jadi jaminan tertarikan publik untuk menggunakannya, keberhasilan para perusahaan raksasa teknologi dan anak – anak Startup Internet of Things telah melebih – lebihkan ini adalah masa depan internet.

Karena pandangan desainnya, lingkaran perusahaan teknologi yang ku tidak tahu dari gambar presentasinya, seperti gumpalan pengaruh kisaran legend dari Intel, Cisco dan IBM yang tak tahu sebenarnya apa permintaan orang sana? dan aku perlu menonton berapa kali lecture ini agar mengerti topiknya?

Betul juga kalau memang Internet of Things adalah Chapter selanjutnya, budaya korporasi dan pemegang capital tidak boleh terus menerus mengambil alih perjalanan ini, tidak ada bagian komunitas atau lokal sebenarnya tahu di mana talent tersebut harus terjadi, akan ada ketidakseimbangan. Kalau pernah menonton film Jepang salah satu produksi Ghibli Studio, setidaknya di satu film ada tokoh penyamping tahu cara membetulkan mesin, sihir tinggal di underground, hanya orang pilihan tahu koneksinya untuk ciptakan inovasi dari tokoh utama, orang – orang besar punya kekuasaan selalu antagonist-nya juga punya kemampuan sama, tapi penonton selalu memihak orang kecil dari peran utama happy ending.

Ingat juga dengan beliau Bruce Sterling dengan istilah ‘Dead Technology’ dan ‘Digital Politics’, ‘Siapa yang senang dengan dead technology selain aku?’, statik dan mengerikan dari ambisi – ambisi para raksasa ini, menjadikan semua objek berkomunikasi dalam media apapun. Manajeman yang bisa mempengaruhi negara – negara, apalagi berkembang dan kotanya untuk saatnya baru Internet of Things, visi ‘Smart City’, sangat mudahnya percaya hingga menjadi sebutan ‘Digital Politics’

Apa ya penjelasan paling nyaman ‘Dead Technology’?, Objek komplikasi yang hanya bisa digunakan oleh orang – orang obsesinya dan merekalah yang mengerti kenapa ‘itu’ cantik, kalau bukan dead technology, objek sekarang ingin sederhana kaya fitur, semua orang bisa menikmatinya, semua orang bisa membelinya di kalangan umum, tanpa buku manual.

Pertanyaan, apakah komunitas kita memang membutuhkan Internet of Things?, tapi ini keputusan pilihan , katanya Smartphone remote control sentuhan pertama bangun pagi dan sentuhan terakhir untuk tidur adalah Internet of Things paling sukses di abad ini, ya ini Internet of Things apa saja yang ingin kamu lakukan sudah di genggaman tanganmu dari intenet.

Sudah lama aku tidak diskusi Internet of Things, sebelumnya menyampingkan taman anak – anak untuk inspirasinya.

Catatan Era Baru Facebook; Apple dan Komputer iPad Pro

Facebook adalah contoh inovasi sebuah sistem demokrasi kebebasan berpendapat memang berhasil, dari tontonan PBS Frontline ‘The Facebook Dilemma’, bahkan setiap orang punya kewenangan berpendapat berargumen dengan puluhan identitas palsu berhasil mempengaruhi untuk menegakkan sesuatu, istilah ‘Fake News’,  bukan istilah tersentuh bagi prinsip Facebook, siapa yang menang, siapa kalah, yang terpenting bagi Facebook adalah tumpukan ‘growth’ semakin tinggi.

Ini era baru bagi Facebook setelah masalah globalisasi sebagai user basenya sudah menjatuhkan pihak tak terima di sejumlah negara, laporan earnings Q3 terbarunya Facebook mengalami jatuh growth revenue hingga 42% dari kuarter sebelumnya, user growth naik 9%. Ambisi Mark Zuckerberg kelihatannya akan fokus terhadap momen Stories dan sisi komersial, daripada News Feed, penyakit informasi yang perusahaannya sendiri belum tahu cara mengendalikannya.

Jika aku mengaitkan visi apa arti makna menulis di blog sendiri KICIKKU, aku tidak tahan lagi menulis Facebook lagi, tidak ada boost kreativitas lagi dari perusahaan ini, memprediksi apa yang sudah terjadi dari masalahnya, justru hanya menempel di masalah itu. Sayangnya menulis teknologi hanya terus menempel ke masalah ini, daripada apa yang sedang terjadi ketika arsitek bisa memvariasi bangunan berubah di setiap musim?

Pengkritik favorit baruku, Shira Ovide dari Bloomberg Opinion, janji terus membuat sesuatu selagi membetulkan sesuatu Mark Zuckerberg kelihatannya tidak menjanjikan bagi Investors memberikan prospek finansial untuk ladang revenue baru, Stories di Instagram, dilema WhatsApp, streaming video Facebook, ambisi – ambisi ini kelihatan menyenangkan bagi Millennial, ini bisa berada berada di jalan berbahaya untuk tujuan salah.

Bagaimana dengan budaya Instagram sekarang?, salah satu anak berkontribusi banyak untuk bapaknya Facebook, pertanyaan ini membuatku menghapus akun Instagram. Informasi dari berisi teks sudah menjadi grafis untuk pos visual Instagram, misinformasi dan Fake News pun juga sudah tersebar di sana, tidak ada lagi apresiasi kreativitas seni fotografi atau desainer lagi di lingkaran sosial media tersebut, sudah terlalu ‘umum’ bicaranya, apalagi panduan Freelancer sekarang hanya menumpukkan karya demi promosi sosial media, rela habiskan waktu untuk menarik perhatian, ini salah, lebih baik cari kepercayaan dari luar dulu, berteman menghampiri orang luar daripada bersaing cara sama.

Baca juga dari Bloomberg Opinion lainnya , ketika Facebook tahu pengguna loyalnya tidak akan lepas darinya dan tetap ‘move fast and break things’, Apple juga lebih memilih tetap berada di lingkaran network effectsnya daripada men-disrupt semua inovasi untuk brandnya, dua perusahaan ini bukan termasuk supplier ide original kalau soal berinovasi, mereka ahli menyampaikan narasi berbeda dari ide sudah eksis.


Menunggu momen Macbook Air paling menantikan, iPad Pro terbaru paling menjanjikan. Minggu ini Apple memberikan kejutan kategori Mac, seharusnya kita bicara apa kesan dari hawa peluncuran iPad Pro tanpa home button ini, memberikan tanda bahwa mereka berada di tengah antara kategori mobile dan computing, this is iPad. Ini langkah selanjutnya iOS menuju mobile advanced desktop.

Adobe Photoshop CC untuk iPad

Adobe Photoshop CC untuk iPad

Kebetulan aku seorang iOS Developer, ketika melihat aplikasi iPad sekarang, ini sudah pengembangan kelas tinggi, sudah menghampiri kapasitas platform Dekstop. Adobe berhasil mengadaptasi keseluruhan Photoshop untuk iPad, Apple memang berkomitmen untuk kecintaannya untuk pengembang App iOS, ‘Like a computer, Unlike any Computer’, sesungguhnya iPad Pro akan menjadi perjalanan panjang bagi Apple dan yang memanfaatkan framework-nya untuk media kreatif selanjutnya.

Sederhana, Apple hanya menyelesaikan apa yang sudah dimulainya dan mengobsesinya, Poin penting Apple Event kemarin, Macbook Air terbaru menggunakan Alumunium daur ulang 100%, mungkin sudah jalan panjangnya sambil merilis standar ‘Macbook’ dan ‘Macbook Pro’.


Silakan kritik dan suggesti atas jurnal pendek ini, firasraf@kicikku.com

Pasar Seni Retail; Entrepreneur mengutamakan Konsep Brand

Aku ingin membawa kalian ke Korea Selatan dan Jepang, ada tiga retail menjadi pembahasan pokok isu hari ini, mereka kecil, spesial hanya menjual yang sering dilewatkan orang, sering diremehkan orang.

The Book Society, Seoul — Toko buku spesialis seni, kritik dan desain mungkin hanya sejagat komunitasnya tahu, mereka juga interest dengan grafis desain ditambah Typography-nya. Retail indie ini pun menjual buku dari penerbit seni internasional.

Kamu bisa melihat koleksi terbarunya di Online Store-nya, tapi tidak tahu juga apakah ini juga tersedia pengiriman Internasional.

Pelajaran dari sini adalah, mungkin bisnis ‘kecil’ tetaplah menjadi kecil di lingkarannya, karena mereka akan besar di kalangan obsesi pasarnya, sebuah minimum yang tak bisa diikuti oleh orang lain, bersembunyi di antara dominan, bisnis ‘kecil’ spesial karena orang – orang tertentu hanya mengikutinya, cukup dari mulut ke mulut mensukseskannya.

The Book Society

The Book Society

Satunya dari Jepang

Jazzy Sport — Bisnis retail yang memoderisasi budaya Jazz terutama di Jepang, kalangan muda menikmatinya. Aku sempat mencicipi koleksi musiknya di SoundCloud juga Blognya, aku iri dengan orang – orang yang menikmati musik Jazz, mereka kelihatan ber-kelas. Jazzy Sport juga membudidayakan dengan kategori musik sekarang, Hip-Hop dan Electronic. Ini terasa bisnis yang menghilangkan ‘stress’ dari kamusnya. Biasanya, ada jadwal kawanannya mengumpul DJ lokal meramaikannya.

Tak perlu hirau jika ingin berbisnis di industri kreatif, daripada mengejar menjadi nomor satu ke atas, memilihlah untuk menggali dalam ke bawah apa yang kita kerjakan daripada mengikuti gaya prinsip orang lain. Aku pernah mendengar motivasi Lebron James di mana ‘Aku lebih baik gagal menjadi diri sendiri daripada gagal menjadi orang lain’. Sesuai dengan sloganku ‘Hanya untuk jangka panjang’.


Brand Mengutamakan Dirinya, Inikah kemudahan Entrepeneur?

Ini kesempatan emas untuk desainer branding

Startup, generasi bisnis sekarang mengutamakan gaya imej brandnya terlebih dahulu, apalagi orang – orang online sekarang belum tahu apa soal merealisasikan kebutuhan bisnisnya, tapi jika komunikasi brand terlebih dahulu bermain, ada getaran motivasi eksekusi.

Agensi desain branding Red Antler membantu branding dari Casper dan Brandless, kedua perusahaan ini tidak memiliki originalitas untuk merintis, kompetisi melihatnya pemain istimewa ketika mereka punya aset istimewa branding untuk mengembangkan ide bisnisnya.

Satu brand untuk seluruh kategori kebutuhan sehari – hari, ada alasan kenapa grosir online ini namanya Brandless. Challenge Studio Red Antler hanya butuh satu kalimat untuk misi perusahaan klien-nya demi brand autentik, kelihatan palsu dan tidak berprinsip jika ada yang akan mengikutinya.

Desainer punya kesempatan mengutamakan imajinasi antara dua pihak untuk merealisasikan prosesnya. Sebuah atanomi di sini, antara kamu menyampaikan pesan dari platformnya, Brandless punya tiga empat anatomi, desain kemasan, desain web dan rumusan desain identitas. Jika desainer sukses menyusun anatomi tersebut, apakah sudah saatnya bisnis terealisasikan?, ketika realitas imej brand sudah di depan mata tidak ada yang tidak bisa terhindar lagi untuk bermain jangka panjang, masalah dan kebutuhan sudah terdaftar di jajaran komponen atonominya menuju protiftable businesss.

Generasi konsep visual Instagram, pengusaha yang langsung tumpah ke publik mengutamakan tahap ini menjadi awal operasi bisnisnya, sayangnya ini hanya sekian ratusan jalan untuk memulai bisnis, sebuah narasi selalu mulai dengan pemandangan indah tapi drama tak pernah lepas dari kewalahan masalah drama, tinggal akhirnya ingin seperti apa?

Screen Shot 2018-10-23 at 06.11.56

Brandless via Red Antler


Jutaan Smartphone Android terpasang Track untuk Skema Penipuan Iklan

Skenario bisnis mobile App yang menghasilkan 75 juta US dollar per tahun dan tidak butuh sumber manusia konsumen untuk mendapatkannya, kasus ini sudah beroperasi setiap hari tanpa kelihatan dari dulu.

Kolumn Buzzfeed News mengungkapkan gelap industri ini terbuka dan rapi, seperti riset paper.

Jadi ada perusahaan yang akan menghubungimu sebagai developer dengan traffic penjualan bagus, seperti game anak – anak menggunakan basis iklan sebagai ganti ‘gratis’nya, setelah berhasil mengakusisi pengembang baru akan memasang Tool penipuan iklan tersebut. 125 app Android sudah terjangkit dengan asosiasi Shell Companies dan 23% industri iklan digital berasal dari pengaruh indikasi penipuan bot tersebut dan perkiraan menghasilkan 700 – 800 juta US dollar.

Developer yang berpengalaman dibeli App oleh jaringan ini, mengaku perusahaan ‘We Purchase Apps’, menggunakan Bitcoin sebagai transaksi untuk hak kepemilikan. BuzzFeed News menelusuri kepemilikan sebagian puluhan App tersebut dan hanya satu nama perusahaan pemegangnya, Fly Apps.

Cerita BuzzFeed mulai menarik sejak mengungkap status perusahaan Fly Apps ini, cara mereka beroperasi, hingga app mana berasosiasi dan kepemilikan.

Fly Apps tidak setuju dengan argumen BuzzFeed News dari responnya, kepercayaan atas Adsense tidak ada masalah indikasi trafik nakal dari pernyataan Google, namun Buzzfeed News menemukan kepemilikan aplikasi Fly Apps dihapus dari Play Store.

Shell Companies: Perusahaan yang hanya eksis di atas kertas, tidak ada karyawan dan kantor tapi memiliki bank akun atau pemegang suatu aset.

Jaringan Shell Companies berstatus agensi ini tidak mengembangkan App-nya sendiri, mereka berburu dan membeli developer punya ulasan positif manusiawi dan real pengguna, terus dapat menambah Tool Bot untuk membaca kebiasaan pengguna sebenarnya dan melahirkan Bot tersebut beranak – anak untuk impression Iklan pihak ketiga agar kelipatan Revenue terus naik

Adaptasi internet uang instan dengan kemampuan kriminal jauh dari radar hukum, memalsukan dirinya sebagai firma profesional untuk jenis Mobile Web App Agensi, memalsukan testimoni Klien, suasana kantornya, begitu BuzzFeed News membuktikan layanan mereka tidak sebayang kita kunjungi websitenya, rata – rata langsung menutup diri.

Sebenarnya ini bukan penipuan secara langsung, tapi teknik untuk membodohi suatu sistem iklan adalah jalan keuntungannya dan yang kena penyakitnya adalah pemasok iklan digital ini.


Kabar CEO Apple Tim Cook di Brussels

Dia lebih tegas memanfaatkan Apple sebagai kubu suaranya untuk menegakkan privasi publik dan argumennya terhadap bisnis yang memanfaatkan data orang lain, tracking dan surveillance untuk mengganti posisi Free Market.

“Platform dan Algoritma Free sudah menjanjikan untuk kualitas hidup kita yang sebenarnya memperbesar kecenderungan manusia terburuk”

‘Data-industrial Complex’ katanya, tidak sebanding apa yang kamu bayangkan, ‘crazy’ ‘The Crisis is Real. Wawancaranya bersama Amanpour CNN, Tim Cook tegaskan ‘Permainan data privasi sudah lebih dari sekedar industri teknologi’. Gaya bahasanya hanya menyinggung Facebook dan Google tentang model bisnisnya, ingat juga Google dan Facebook juga banyak berperan untuk mengeluarkan aset untuk mendefinisikan privasi sebenarnya, walaupun Apple bukan berada bisnis menyangkut privasi, tapi mereka sensitif tidak membiarkan raksasa dua sana bermain seenaknya.

Laporan Pemegang Tripoly Iklan Dunia

Google tidak mencapai ekspetasi Revenue, walaupun melompat 21% dari tahun sebelumnya, saham turun 4%.

Bisnis iklan Amazon boleh kita fokuskan di sini, walaupun pemain baru, sudah hampir bernilai 3 milliar US Dollar, naik 123% di Q3, 32% revenue brand jualan di Amazon rata – rata mengambil langkah dari aset iklannya.

Revenue Facebook minggu depan, kita bisa mengambil kesimpulan dari apa yang sebenarnya Facebook pelajari dari kegagalannya, tidak ada, dari Sarah Frier, Bloomberg.


Kolumn Mading

Facebook terlalu membesarkan janji konten video, Bloomberg Opinion — Facebook membohongi orang iklan atas angka kunjungan video konten?, angka sengaja ditinggikan agar pengiklan percaya atas interaksi kontennya di Facebook false metrics , sebuah manipulasi data yang menyesatkan riset orang iklan. Perusahaan kecil periklanan menggugatnya atas Error yang sengaja dibiarkan selama setahun. Opini ini juga membahas pertumbuhan video jurnalisme perbandingannya dengan menulis ‘kata – kata’, apa benar orang cenderung lebih suka nonton daripada membaca?, ini yang membuat media sedikit mengambil keputusan berat untuk investasi konten video.

YouTube is closing the gap with Twitch on live streaming, report finds, TechCrunch — Twitch kembali mendominasi live streaming dan Youtube Live sudah mendekati dominasi Twitch, mengambil 25% dari penonton streaming September 2018. Growth Twitch akan konsisten naik berkat konten sudah berdatangan tidak hanya dari pengaruh game.

NYTimes serius penyakit misinformasi Facebook dan Twitter — Pesan dari Editorial Board-nya, industri jurnalisme sudah kehilangan kredibilitas atas apa yang sosial media lakukan terhadapnya dan jurnalisme pula yang bukan bertanggung jawab atas fenomena online tidak seharusnya terjadi sosial media terus menerus dan jurnalisme juga yang terpaksa ikut campur, jelasnya sosial media sesungguhnya industri media.

The Devil Instagrams Prada, Bloomberg Businessweek — Prada merasa ketinggalan dengan pasar Luxury Fashion sudah ketergantungan budaya Internet, tapi Sang pemilik Suami Istri kurang percaya benar dengan revolusi digital pengaruh banyak ke Fashion, soal sosial media anaknya Lorenzo yang menjalankan, sang ibu juga desainer Miuccia Prada menolak menspesialkan pasar Millennial untuk pertumbuhan bisnisnya dari para rivalnya seperti brand muda Miu Miu. Data bicara positif untuk pertumbuhan digital Prada, penjualan onlinenya mengambil 5% dari revenue Prada di awal 2018.

Miuccia Prada ‘Jika aku berada di depan beautiul dress yang merasa ada sesuatu di diriku, aku tidak betah melihatnya, harus ku hancurkan’.

In Praise of Mediocrity, NYTimes — Setelah membaca ini, aku merasa meluangkan waktu untuk selalu menjadi amatir, mengerjakan hobi untuk kebebasan berkarya, jauh dari istilah ‘pekerjaan’. Penulis Tim Wu, professor hukum Columbia University khawatir kita berada dalam kependudukan krisis hobi, kehidupan pasif terlalu memikirkan cara menyelamatkan dari krisis ekspetasi sendiri. Antusiasme untuk ‘waktu luang’, passion untuk mempelajari sesuatu dan menguasainya bukan bakat keajaiban sejak lahir.

Membangun Website Ramah Lingkungan, Low Tech Magazine — Kita tidak menyangka konsumsi Internet juga pengaruh konsumsi energi dan website ini peduli membangunnya sendiri dengan ramah lingkungan beserta properti hardwarenya, Solar PV 50W dan kapasitas baterai 12V 7Ah, web servernya mengonsumsi kekuatan 1 hingga 2.5 watts. Agar ramah, tidak melibatkan typeface, logo dan grafis ukuran kecil. Kalau cuaca buruk berawan tidak ada sinar matahari bersalju, rata – rata per tahun 35 hari akan offline.

Matchmaking Dating Online, The New Inquiry —  App jodoh online bukan untuk membuka hubungan, nafsu menjual diri untuk membuka dirimu menjadi prospek, kalau kamu buka akun berarti dirimu asumsiku ‘kesepian, nganggur’, apalagi perempuan yang mengesampingkan laki – laki untuk mesin uangnya, serta memberi balik kepuasan, ini bisa menjadi bisnis terselubung. ‘Platform jenis ini memanfaatkan rasa hasrat nafsu dari dirimu menjadi abstrak profit’. ‘Kamu tidak akan dapat saling jatuh cinta, hanya jatuh cinta terhadap layanan servisnya’. Harus mengenal penulisnya, Ana Cecila.

‘Delete your Account’ Jaron Lanier, LA Review of Books – Buku terbarunya, ‘Ten Arguments of Delete Social Media Now’ belum terbeli, sebelumnya bisa mulai dari wawancara ini, mulailah memberanikan bisnis internet tidak ada pasar untuk gratis, ‘ketika kamu punya efek koneksi sosial dan adiktif, kamu akan susah melepasnya’, Jaron Lanier sudah membayangkan kritik bisnis data dan sosial media sebanding dengan kronologis sosial media akhir – akhir ini. Mention dia hanya dua, keluar dari dunia Facebook dan Google.

Escape from Fantasy, Martin Weigel — Sakitnya, beresikonya, tidak ada panduannya untuk menjadi kreatif di bisnis periklanan, ini pembahasan luas bagaimana industri ini sudah mengalami krisis untuk bernarasi?, ‘kita harus melihat cara baru melihat sesuatu’, tidak berbicara satu sama lain, keluar sana apa realitas sebenarnya, lari dari fantasi.

The Information Doesn’t Want To Be Free, Traffic Magazine — Mengenai pasar tidak gratis, Jessica Lessin pemilik jurnalisme bisnis teknologi terdepan, The Information berani kasih harga 4 juta per tahun, lebih memilih pasar spesifik dari ‘general’, tidak mengikuti cara media mainstream bermain, konsisten dan fokus untuk pembaca B2B. Dan yang aku suka dari prinsipnya, ‘tidak percaya sistem Venture Capital bisa membentuk bisnis berkelanjutan jangka panjang, terlalu fokus growth yang menghilangkan selera pembaca’.

100 Websites berpengaruh di Internet versi Gizmodo — Daftar ini berdasarkan website mana serius mengubah dunia,  yang pandai mencuri ide orang lain, menjadikannya monopoli, merusak budaya atau mengangkat suara kemanusiaan dan juga mendefinisikan baru kata ‘kekuatan’ atau tempat terbaik untuk belajar.


Silakan kritik, suggesti dan cerita atau secangkir kopi -> firasraf@kicikku.com

Arab Saudi untuk SoftBank Vision Fund dan NEOM Mega-City; AI Tanpa Instropeksi Diri

Arab Saudi tidak ingin kehilangan bisnis di depan dunia dan kenapa merasa aman memilih dengan SoftBank?

Sang pangeran merasa dekat hubungan harmonis pemain besar teknologi ini, dan mendedikasi hubungan tersebut untuk pembangunan proyek mega-city Arab Saudi — Neom bernilai $500 Milliar US Dollar. Proyek ini memiliki jajaran nama kebanyakan dari kubu barat sebagai penasehat tinggi, mantan CEO Uber, Travis Kalanick — Presiden Y Combinator — CEO desain firma IDEO — penemu Boston Dynamics, CEO Softbank, Mayashi Son,

Apa ini terlalu berlebihan?, Arab Saudi berprasangka baik terhadap ambisi teknologi, terlalu mengambil resiko untuk fondasinya, sedangkan si pangeran ini setelah sejak mengatur kedudukannya, tak main prioritasnya hanya mengambil seluruh universal teknologi apa yang telah terjadi di Silicon Valley menjadi kertas baru copy-paste di tanah Arab Saudi.

Bagaimana menafsirkan infrastruktur teknologi untuk Arab Saudi?, negara kaya di antara timur tengah lainnya tidak seheboh apa yang sang pangeran Salman lakukan, terlalu banyak pertanyaan selain melihat secara spesifik visi dan misi ini. Dan Arab Saudi dengan mudahnya memanfaatkan globalisasi ini untuk keterbukaan budaya. Lainnya, pemilik tanah suci muslim ini sedikit khawatir untuk mengganti generasi bisnis minyak mentah dan mereka percaya aset produktivitasnya berasal dari kolonial teknologi?

Terus sumber daya manusia-nya siap?, ini terasa tidak seimbang, seperti memindahkan aset dari kota maju langsung tumpukkan di tanah padang pasir kosong, merasa ingin tiba – tiba sudah ada, merasa belum ada pembelajaran kedisiplinan cara Arab Saudi menafsirkan masa depan teknologi untuk negaranya, hingga tidak ada gerakan batasan selain keserakahan.

Sang pangeran tidak lambat mengambil tindakan, beliau sudah banyak mengambil hati para pebisnis wilayah barat di antara raksasa lainnya, mengambil keputusan drastis di SoftBank apa tingkat kematangan pemerintah Saudi mengambil langkah ini?, mengenai bisnis SoftBank mereka punya puluhan aset performa bisnis tekno dari seluruh dunia dan itu termasuk kunci penting menambahkan lagi aset sebesar $45 Milliar US Dollar, untuk kedua kalinya.

Sayangnya Arab Saudi juga sedang berusaha menetralisir, atas kejadian tragedi jurnalis Jamal Khasoggi.

Menjelang Investment Forum ‘Davos in the Dessert’ tahun kedua di tanggal 23 – 25 Oktober 2018 nanti, pemain utama bisnis dunia kehilangan kepercayaan atas kasus Jamal, kecuali salah satunya teman akrab CEO SoftBank sendiri, soal SoftBank pun juga terpaksa kena pengaruh berita ini, saham jatuh hingga 8% dan kehilangan 22 miliar US Dollar.

Berarti mulai sekarang apa yang terjadi di Arab Saudi buruk atau baik di hadapan hubungan internasional, ini juga melekat dengan SoftBank dari konglomerat Jepang. Jawaban pertanyaan di atas mungkin ada di NYTimes.


Kita beralih ke artikel Henry A. Kissinger The Atlantic tentang Artifical Intelligence

Jika Infrastruktur kota merasa dinamis dengan Artificial Intelligence contohnya ambisi Arab Saudi NEOM Mega-City, kita pelajari teori kolumn ini

Penulis mengingatkan sifat digital sendiri, ‘selalu merasa cepat tapi tak pernah menginstropeksi diri’, ‘tidak punya pengalaman keseimbangan antara budaya dan politik, dari apa yang monumen diraihnya harus mengambil resiko tanpa batasan.’

Lanjut ke tahap kecerdasan buatan, ini sudah melewati batas ide – ide automation, ‘Artificial Intelligence sangat tidak stabil’. Secara garis luas, mungkin kamu harus mengerti dulu siapa penulis ini, berhenti sejenak yang AI tidak bisa lakukan, merelaksasikan diri, AI hanya menggangap apa yang mereka kerjakan harus berakhir kemenangan dan jika manusia terpaksa hilang jati dirinya saat masa depan seperti ini, kita akan tambah malas berpikir dan membuat AI mengembangkan industrinya sendiri jauh dari peradaban kita.

Tujuannya di mana letak konsistensi ini akan terjadi?, menguasai seluruh informasi apa yang ada di dunia ini?, ketergantungan kebiasaan kita untuk data per individual sebagai bahan analisis mereka untuk mengambil keputusan?, satu per satu sudah mewabah untuk generasi industri selanjutnya, karena tidak bisa dihindari, penulis mengkhawatirkan lupa atas sisi kemanusiaan kita untuk menjeda, etika dan rasa empati akan hilang, cakupan ini sangat luas, beliau berharap negara lain jangan terlalu mengambil langkah utama untuk ambisi AI, termasuk rumahnya sendiri, Amerika


Setiap tulisan akan ku kemas membahas dua atau tiga topik agar pembaca bisa fokus untuk Letters of Idea, silakan kritik, suggesti atau perkenalan dengan ngopi -> firasraf@kicikku.com

Kisah Penulis Kritik Jazz dalam Keterbatasan

Sore hari, suasana ramai toko elektronik di pusat kota kecil, radio masih mewah di waktu itu, membuat seorang ini bersama kerumunan wajah kenal dan salah satu pendengar kelihatan terinspirasi membelinya, kebetulan dia punya usaha Cafe untuk properti menarik pelanggan.

Besoknya Cafe pembeli ini ramai, kumpulan anak muda bergaya rapi meluangkan waktunya menikmati kopi, selagi acara radio favorit belum mulai, walaupun sudah mulai playlist acak sudah diputar dengan pelengkap speaker booth besar sambil mengontrol suaranya, pelanggan menikmati pembicaraan, yang sebelumnya pemilik ini tidak pernah senang seperti ini sejak radio ini terbeli, tak semuanya tahu tentang Cafe ini, toko barang elektronik jauh dari seberang jalan masih ramai, karena masih di pusat kota.

Tiba – tiba penyiar radio berseru ‘Hari ini kami kedatangan lagu baru dari artis rekomendasi baru untuk pendengar semuanya, kalian akan menyukainya’, lagu ini menyentuhnya apa yang anak muda ini lakukan berkumpul di jajaran di dinding sambil menari tak sengaja, tidak ada salahnya Cafe ini merasakan momen kegembiraan dari orang – orang lokal sebelumnya belum kenal, sekarang laki perempuan saling memandang mata ‘Jika kamu yakin aku bisa berdansa, ayo maju!’, siapa yang mengajarkan insting seperti ini. Musik Jazz menggema, merasa ada yang ingin memberanikan diri, yang berhasil lah menjadi pusat perhatian di antara anak muda masih yang ingin menunggu giliran, mungkin waktu hanya menunjukkan sore.

Dan di antara keramaian ini , seorang penulis kritik Jazz sambil menikmati Espresso dan menulis beberapa lembar dengan ekspresi berpikir, ya gayanya sedikit tua, menggunakan kemeja polos dan celana kain, menutup ekspresi sebenarnya menginginkan tulisan berikutnya, tak semua seniman baru menjadi perhatiannya, jika mayoritas anak muda ini berhasil mengambil karya musisi ini, “kenapa tidak ikut menyuarakan?”

Berakhir menjelang malam, Siaran musik sudah melewati jam batasnya, penulis ini keluar dari Cafe sendiri langsung kembali ke rumah, langsung menelpon ke phone booth, memasukkan berapa koin, ‘Ya mungkin aku dapat tulisan selanjutnya, artis baru Jazz ini baru menggetarkan hati Cafe langgananku, malam ini akan ku tulis nuansa lagunya, besok aku akan mencari tahu musisi ini, gimana?’ ‘Oke, cari tahu bagaimana gaya musisi ini dan buat tulisan terdengar lagunya’ kawan editor menyetujuinya.

Setelah kembali ke rumah, penulis Jazz ini hanya memanfaatkan apa adanya selain terlalu berharap alat pemutar piring hitam, flat apartemen sempit dipenuhi dengan buku dan lembaran kertas menumpuk serta bagian rapinya, koleksi piring hitam di jajaran raknya pemberian dari editor dan Label. Menyempatkan duku ke dapur untuk memanggang ikan Makarel, hampa ruangan bersisa suara teriakan orang entah darimana, suara kumpulan anak muda saling menyalahkan.

Keterbatasan dia hanya fokus dengan ambiens pertama kali mendengar musisi perdana ini, alangkah indahnya jika mendengarnya lagi, alangkah indahnya jika kenangan sekali dalam sehari ini bisa menuliskan harmoni untuk kritiknya, alangkah indahnya kesepian yang dianutnya terbiasa untuk menulis. Jadi perlahan – lahan dia mempekerjakan tulisannya lewat suara mesin tik yang ditekannya, sambil menunggu rasa penasaran artis ini dengan musik berulangnya kembali besok, tak lupa minuman soda.

Mengisahkan diri paginya, menuju Cafe langganannya kembali dengan koran harian sepasang secangkir kopi, kesepian dirinya juga mengefek kesepian Cafe ini, bukan suatu saat untuk memberontak sebuah ide, tapi pandangannya merasa musisi ini sudah cukup memuaskan komunitas muda di sini, apakah kritik harus mencari sensasi ketertarikan, atau inilah suasana literasi mendengar lagunya, ‘namun Jazz tidak istimewa di lingkaran siaran radio, hanya sesi khusus untuk orang – orang malam menikmati kegairahannya’, anggap saja dia demikian berpikir seperti ini.

Bisakah orang seni lebih suka menyusahkan suasananya daripada menerima inovasi untuk memperpendek waktu, semua orang suka serba instan, bagaimana jika penulis Jazz ini lebih suka terdengar kompleks untuk tulisannya daripada tergantung dengan orang lain?, kebebasan berseni tidak berpihak kemanapun, apalagi ketergantungan kita dengan ‘popularitas dan viral’ adalah hal tak terhindari di masa modern sekarang, seolah ide ambisi semakin tumpul dan sempit kesempatannya.

Sehingga yakin, penulis akhirnya menyerahkan tulisan ke editornya, editor ini percaya setiap gaya masing – masing penulis, ruangan emosi sang kreator. Hari sudah sore, penulis Jazz mengulas kembali memasang telinganya di waktu musik Radio terdengar, lagu ini pun terulang, kali ini komunitas anak muda tidak agresif dibandingkan dengan kemarin, penulis ini berkesimpulan

“Bukankah permintaan mereka ingin mengulang, ternyata serapan mereka penasaran di antara antara calon musik monumental lain yang sedang menunggu, jika tulisan ini pun berasal dari kegairahan sehari, ujung – ujungnya berakhir menjadi daun di antara daun terlupakan.”

Besoknya artikel sang penulis terbit di media koran harian kerjaannya, tanpa harus mengetahui sang musisi, tidak ada ledakan reaksi di mana – mana, bacaan tersebut hanya narasi halus untuk menghibur diri penulis juga pandangan kritik untuk musisi, tidak mengharapkan banyak, selain kritik tersebut hanya untuk menulis.

Mencukupi apa yang sudah terjadi, durasi lagu berakhir, berakhirlah situ ceritanya. Jeda sehari, seminggu atau sebulan, terlalu sering mengambil langkah akan memicu keserakahan. ‘Cari – cari perhatian’ ketika egois menjadi musuh.

Apa seni atau produksi, komersial manapun mengerti sebuah keterbatasan?, seandainya Twitter tidak memiliki komentar dan Retweet, apa kita perlu pengakuan dari orang lain, sedangkan penulis Jazz ini hanya ingin menulis, hanya pengawasan dari Editornya, tidak ada yang membahasnya di bagian kantornya, tidak ada yang mengunjungi meja kerjanya, bahkan tak terpikir apa suatu saat mungkin ada orang luar sana tak diketahui menyukai tulisannya, tapi penulis lebih memilih cukup untuk fokus dengan eksplorasi musik berikutnya.

Batasan apa Jazz sepiring melodi piano bolak balik dan suara drum disiplin merendahkan posisinya tanpa henti hingga piano, sang pemimpin hanya menggairahkan kebebasannya. Tidak melihat di mana letak ‘sukses’ dan ‘gagal’, sang penulis mengerti ini jalannya, biarkan orang yang tertarik mengikutinya, Jazz bukan mencari apa yang orang butuhkan, yang ingin pemirsa dengarkan apa.

Daripada berprasangka atau iri, lebih percaya diri sendiri main sederhana.

Seandainya saja di rumah penulis kritik Jazz ini sudah ada pemutar musik, mungkin dia tidak percaya dengan apa yang ditulisnya, tidak akan sesuai gaya tulisannya sendiri, karena lagunya akan diputar terus sampai tak memiliki kenangan terlama, dia akan lebih egois tanpa berinteraksi kawanan di toko elektronik atau langganan pinjaman dan Cafe tempat dia nongkrong sebagai observasi. Mengerti keterbatasan adalah hal istimewa untuk menemukan alternatif tak terduga, bahkan tak tersadari.