Indonesia

You are currently browsing articles tagged Indonesia.

“Memang begini ya uang digital…, harus cerewet dulu baru bisa” salah satu review pengguna LinkAja iOS app

Aku ingat adegan film John Wick, saat dia mempersiapkan kebutuhan sebelum eksekusi-nya, dia melakukan transaksi dengan koin emas besar, koin itu bisa menutup mulut orang, hanya berlaku jual beli di antara sindikat-nya, uang digital tidak akan bisa mengikuti intimasi emosi kemewahan transaksi tersebut.

Uang digital hanya melengkapi ruang masa depan, saat masa depan mengenang perubahan digital, merasa tak terhindari, sistem akan selalu berubah dari tuntutan mereka *Corporate. Kembali ke naluri manusia, kebutuhan atau paksaan? Opini-ku, ini paksaan, uang digital telah terlanjur berdiri di atas institusi yang mengelola-nya, masing – masing perusahaan besar berusaha memaksa aturan manusia tersebut, memasuki nilai uang-mu ke dompet digital mereka, yang tak mengira diam – diam jadi profit mereka.

Bagaimana cara mereka memaksa aturan ini agar manusia berubah? uang digital terasa tidak biasa, saat kamu lebih senang buka dompet depan kasir daripada lama nunggu buka app di Smartphone, mana yang lebih cepat? – Senjata uang digital, pasang iklan di mana – mana, pakai blablabla di tempat blabla dapat diskon/cashback/hadiah blablabla.

Kenapa uang kertas juga tidak bisa begitu?, pakai uang kertas dua lembar Rp 50.000 beli satu gratis satu, karena uang kertas pasar terbuka tidak dibawah naungan siapa pun, kecuali regulasi seperti Bank Indonesia, itulah kenapa uang digital memasang pancingan, sehingga publik terasa lebih diuntungkan, walaupun perusahaan yang pegang jaminan harus rugi berbulan – bulan dulu. 

Ini yang ku permasalahkan, canggihnya sistem inovasi, sebagian publik tidak akan peduli, sampai harus manja dulu

Apa kita bicara definisi inovasi aja sudah salah, atau harus mengikuti peradaban digital di mana – mana?, aku ingat istilah “karena kita bisa, belum tentu harus”.

Yang mengembangkan inovasi berdasarkan masalah letak publik di mana, belum tentu bisa sebesar punya gedung tinggi di Jakarta. Yang bikin inovasi serta merta ikut – ikutan perubahan, tak tersentuh apa realitas manusia, justru mereka yang pandai bakar – bakaran agar memaksa publik masuk ke aturan mereka dan mereka selalu terpampang di atas gedung mewah.

Saat inilah perubahan lebih mendominasi daripada memperbaiki diri sekecil – kecilnya. Perubahan nampak menyombongkan, jauh di atas rata – rata di antara lain.

Uang digital asal mula-nya dari wabah Smartphone. Aku pikir, tulisan nilai uang-nya di atas layar, belum tentu memang tersimpan di gedung nasabah-nya. Bergaya memilih dompet dengan brand mahal, bangga punya uang tebal, kartu kredit debit bersusun rapi. Atau uang digital hanya di atas tulisan layar, belum tentu jaminan-nya bisa ku gunakan tiap hari tiba – tiba gangguan, listrik mati.

Mungkin ini konsep kenapa Apple lebih memilih memfasilitasi kartu kredit bahan titanium, Apple Card, daripada dompet uang digital seperti Facebook, Libra.

Ketika semua berkecimpung ke sini, mula – mula pemain bisnis terutama finansial juga tertarik ingin membuat satu, kadang peradaban ide seperti ini datang dari pemegang bisnis besar.

Semua yang sudah nampak sukses app-nya, satu dari lain juga ingin punya, titik di mana kompetisi semakin agresif berperang, titik juga tidak lagi ada istilah perusahaan mengikuti insting-nya untuk berkorban. Hanya nyaman melihat yang bisa duplikasi, saat meeting mereka bicara seperti bernilai miliaran, realitas tidak peduli apa daya mereka, hingga menjebakmu

Kalau semua pemasok Internet hanya berada di lingkungan Ecommerce, websites jual beli, apps berbasis iklan, diskon besar – besaran, jual pulsa dan lainnya. Mereka terlena obsesi potensial di atas kertas, dulu ini kelihatan jangka panjang, sekarang berlebih jangka pendek. Siapa tahu kena dampak bubble-nya?

Aku kurang tahu teori ekonomi. Jika ketidakseimbangan lebih agresif menonjol seperti uang digital, abstrak sebagai potensi, lupa gerakan nilai ekonomi sebenarnya, budaya produksi.

Sumber Daya Manusia, yang Indonesia lagi tingkatkan, aku pertanyaan untuk satu, apa kalian harus bicara menjadi nomor satu juga?, menang terus menang?, keuntungan besar? Aku pikir jika SDM penting di sini, masyarakat harus punya kerajinan di tangannya, entah itu dia tukang kayu, ahli software, pengrajin makanan, desainer produk, pengrajin buku. Keberagaman ini menurutku faktor penting, saling menghormati karya sesama dan terutama mau bayar mahal untuk satu sama lain, atas kelebihan tangan mereka.

Banding dengan perjanjian Internet sekarang, budaya Internet jauh dari peningkatan SDM, selalu mengenang cara cepat dapat uang, timbul rasa ego untuk diri masing – masing. Lebih suka ambil barang impor China atau dropshipper, menarik dan unik, jual online. Atau banyak Youtubers bisa menghasilkan uang, semua ingin jadi Youtubers.

Uang digital sama – sama rupiah, ko saling ribet – ribetkan?

Tulisan ini rasa penasaran ku untuk mengkritik, selama ini masih proses kematangan tulisan-ku dan belajar dalam industri, silakan komentar atas ketidakjelasan-ku, tidak mengerti atau feedback.

Tags: , ,

Penulis dari Jepang, salah satu karyanya terinspirasi dari keseharian dirinya pergi ke sebuah toko Retail kecil, seperti Minimarket, untuk membeli kebutuhan makan dan minumnya, dia takjub dengan penjaga toko tersebut, bertahun tahun dia menjaga toko tersebut, hingga realitas nasibnya akan terancam berakhir, karena kebanyakan orang sudah serba online kebutuhan grosirnya. Cari tahu nama dia, tulis di Internet “Convenience Store Woman”

“Sebuah intimasi terjadi, ketika satu bertemu satu lainnya di satu tempat”, pernah dengar istilah ini di belahan Internet mana, mempelajari Internet, semakin ingin menghindari ambisi Internet. Efektivitas semakin cepat, semakin juga orang malas. Semakin orang menghindari emosi dari emosi orang lain, semakin orang memalsukan emosi-nya.

Artikel dari NYTimes membuktikan krisis “Intimasi”, kebiasaan pemilik Cocktail atau Cafe akan tahu siapa pelanggan biasa yang datang setiap hari, setiap minggu, “Baru kelihatan kamu, dari mana kamu” “Dinas pekerjaan, pesanan biasa ya!”. Bayangkan saja film – film America, diri tokoh utama-nya selalu merefleksikan apa yang terjadi di tempat nongkrong langganan-nya, “Messy man, you looks noisy in your problem” “Just give me my scootch”.

Aku iri dengan orang – orang klasik di atas, karena kebetulan bisnisku banyak ke digital, sangat langka bagiku untuk menikmati momen tersebut, setidaknya tahu mana yang seharusnya “inovasi” datang, di mana seharusnya inovasi digital ga perlu datang.

Internet ga bisa berikan apa itu “Intimasi”, mereka bicara skala, di tengah tengah universal, yang tidak ada batasannya, apalagi Startup yang mengesampingkan ide untuk kebutuhan kita, aku tidak menyadari juga orang yang berada di kalangan “teknologi informasi”, mungkin digital sendiri bisa membawa komunitas menuju “intimasi”, namun intimasi butuh batasan, bukan universal, ada partisipasi manusia empat mata atau lebih.

Daripada mutar balik mutar balik ide potensi bisnis kota, ada kalanya lebih baik tidak melakukan apa apa. Atau karena satu perusahaan bisa, karena yang lain juga melakukannya, apa berarti kita mesti juga melakukannya.

Mungkin “diam”, tidak melebihkan “agresif”, kembali naluri manusia-nya, kembali di mana dia seharusnya, dimana Intimasi seharusnya. Jika lebih memilih tidak “diam” karena “Semua-nya harus digital”, naluri manusia tidak bisa diprediksi, ego merasa benar, atau memikirkan diri sendiri.

Seiring perkembangan, bukankah ini semestinya jalan berdarah darah untuk membuka erat erat ide original kualitas yang kamu miliki, memperjuangkannya dengan pakaian kotor, bergerak cacat sampai orang terkejut. Daripada berjalan sempurna membawa jadian, bikin publik manja terikut – ikut arus.

Tags: , ,

Seorang laki – laki ingin mencari jodoh, demi menghilangkan kesepian, dia berharap ada wanita cantik yang akan akrab dengannya, wanita yang bisa diajak jalan berdua sambil kenalan, wanita berkualitas yang punya karir dan sibuk dalam sehari harinya. Setelah daftar di Tinder, ga sesuai harapannya, dia berjodoh dengan wanita cantik yang kerjaannya minta uang dan pulsa, perempuan perempuan ga punya kerjaan, selain tidur tiduran hanya selfie, ga berani mengajaknya jalan.

Sehari – hari apa yang kamu bosankan sekarang lebih berarti banding melampiaskan ‘cari jodoh di Tinder’, saat inovasi tidak sebanding dengan harapan culture-nya.

Kehidupan ini lebih baik tanpa ‘sosial media’, tidak menjadi bagian dari masalah orang lain, tidak ada bahan tawaan kritik pelecehan bagi teman atau orang asing, yang menemukan ku di sosial media. Betul kata penulis Zadie Smith “Aku ingin punya perasaan, walaupun itu salah, tapi itu cukup tersimpan di privasi hati dan pikiranku”

Kembali pertanyaan lebih umum lagi, sebenarnya kita butuh tidak teknologi baru lagi? – Terutama dalam industri konsumen sekarang. Beranjak ke negeri Jepang, seharusnya kalian tahu Jepang sebagai pusat perhatian untuk kalangan berlibur, karena tidak mungkin tanpa keberagaman kreativitas-nya, jalan – jalannya dipenuhi orang – orang ramai bersantai, bersusun retail – retail kecil para pengusaha kreatif, menjual dedikasi obsesi-nya terhadap sesuatu, ada penjual pisau yang benar benar tahu bagaimana istilah ‘pisau’ bukan sekedar pisau, ada pengrajin Payung menjual yang tidak hanya melindungi dari deras hujan, Payung bisa menaikkan status simbol dari tampaknya.

Ini adalah Culture Jepang yang tidak bisa ditemui oleh Internet Culture. Berbeda konsep rasional di dunia bisnis dan karir yang diperhatikan oleh kalangan kalangan mereka saja, mengutamakan perkembangan Internet Culture ini, barang kali rakyat biasa yang berjalan alur di arah konvensional bisa saja sudah cukup sukses terbiasa dengan jalannya sekarang, ketika Internet Culture masuk ke sehari – harinya, justru aktivitas tambah ribet.

Sekarang di tengah tengah perubahan semakin cepat semakin efektif. Semakin cepat pula, semakin hilang seni cerita-nya. Internet Culture bisa menemukan Cafe paling nomor satu di Jakarta, lewat prediksi A.I.-nya, mengumpulkan input input data yang diulas para pengguna-nya, gara – gara ini Cafe yang terikut bagian harus merasa bersaing di platform tersebut, sekali mengunjungi-nya ternyata pengunjungnya hanya itu itu saja orangnya “Sekumpulan anak muda, membawa laptop, karyawan karyawan kantoran, rata – rata sosialita”. Internet Culture berhasil membawa orang – orang tersebut dari sikap logika-nya.


Bagaimana Culture Cafe tetap di atas pendiriannya tanpa pengaruh perubahan, tanya ke teman “Ku tahu kamu lama di Jakarta, masa kamu ga pernah ngajak ngopi padahal kita udah teman lama” “Ya seandainya aku tahu, tempat favoritmu gimana, ya sudah aku ajak lah” Besoknya pergi, pilihannya pasti selalu kelihatan alternatif, Cafe-nya selalu ramai, kelihatan tua, sajian kopi-nya tidak berstandar, yang datang “Para pejabat pejabat dan istri – istrinya saling melempar opini ketawa, orang orang akrab yang sudah lama kenal dengan pemilik Cafe”

Cafe ini selalu ramai karena ekspresi para pengunjungnya, bukan musik Jazz berirama, sang teman berkata “Ku ga mengira, ada Cafe suasana ini” “Ini Cafe orang tahu dari mulut ke mulut, sejarahnya perintis Cafe ini, pernah tinggal di Inggris, pemilik kedai Kopi sana, balik ke Indonesia, dibawa culture-nya ke sini. Belum ada media mainstream bahas ni Cafe, jurnal Inggris pernah berkunjung…” terus hingga cerita dia berbelit – belit.

Setelah ku tahu Internet Culture tidak bisa seperti ini, berarti selama ini orang yang pengaruh di industri tech consuming *istilahnya, perusahaan perusahaan besar atas keyakinannya, selalu berusaha membujuk kita tentang ini? – Teknologi tahu semua akan diadaptasi dengan konsep A.I. Big Data dan Machine Learning, tapi rakyat memang merasa ini kebutuhan? Di antara tekanan tekanan sekitarnya

Lanjut ke Jepang, Jepang terkenal dari legenda paling kecil-nya, penduduknya hingga modern terbiasa jalan kaki, makanya perusahaan mobil Toyota Honda lebih demen di Indonesia, daripada di negaranya sendiri, kebiasaan kebiasaan jalan kakinya, budaya retail lokal ekonomi-nya tetap hidup walaupun hantu hantu Ecommerce berdatangan, selain penduduk lokal menghidupkan alur bisnis ini, para turis tidak ada habisnya ikut mengambil inspirasi ini, bukan alasan kecil lagi, kalau Jepang memang negara terkenal karena retail commerce-nya.

Sama kasusnya di Singapore, Internet Culture Ecommerce tidak diterima di sini, negaranya kecil, penduduknya suka jalan jalan, kota dimana – mana sangat menarik, makanya Ecommerce tidak laku di Singapore, emosi culture kota-nya sudah lebih maju. Sayangnya Singapore, negara Asia tenggara menjadi pusat riset terkemuka dan ketika jadi siap komersial, siap harga murah, tempat perang jual belinya di kita kita, Indonesia, India, mereka penggerak produksi-nya, kita yang jatuh di tangan konsumennya.

Kenapa Indonesia termasuk Investasi Asing termasuk China di sektor ini, Internet Culture bekerja efisien di negara ini, karena negara ekspansi ini kepulauan, penduduknya tidak berjalan kaki, jalanan macet di mana mana. Solusi betul mengubah kebiasaan kebiasaan negara berkembang untuk potensi Internet Culture, kenapa Ecommerce beserta Delivery-nya yakin di ladang permainan ini, pertanyaan mereka adalah, di antara kompetisi-nya, bagaimana mengambil perhatian di seluruh indonesia?, cerita cerita basis konten dan manipulasi harga-nya, ekspansi kemana kemana, imajinasi dalam Mall besar yang bikin pengunjung bingung cari pintu keluar.

Karena Indonesia tidak akan seperti Jepang, ketika pengusaha awam tidak merasa langka di contoh keberagaman retail Jepang, pengusaha Indonesia cenderung ke kuantitas produksi dalam harga murah, daripada obsesi spesial langka berjangka panjang kualitas tinggi harga pantas.

Sakitnya lagi berada di bisnis Internet Culture, mereka memposisikan di dalam lingkaran tengah, untuk mengajak orang – orang masuk ke lingkaran tengah buatan mereka, cara pikir corporate mereka akan melakukan apapun menurut analisis riset kelebihan mereka sendiri dari tawaran promosi mereka hanya untuk menimbun pengguna di lingkaran Internet Culture.

Saat kembali di Jepang, orang – orang tersebar tadi tidak ada niat untuk mengumpul di lingkaran tengah, mereka di antara antara lingkaran kecil Retail, saat pemilik lingkaran kenal siapa orang – orang senang mengunjungi-nya, mungkin memperlakukan beda banding yang baru pertama kali.

Apapun itu pembahasan riset dalam industri Internet dalam Big Data, Artificial Intelligence, kalau culture masyarakat tidak menerima, tidak ada guna selain sampah yang nganggur di antara Internet Internet lainnya, satu satunya cara di mana kamu menemukan lubang yang harus diisi untuk mengolah ide internet culture menjadi culture sesungguhnya bagi mereka.

Kembali ke Tinder, potensi tinggi di sosial media, kenalan wanita cantik tanpa menghampirinya, instan, tidak ada resiko ketemu bermodal dulu, tidak ada konsekuensi gagal selain “memulai chat dulu”, karena Internet Culture ini, semuanya bermain aman, ide Tinder bisa berkembang, ala aplikasi streaming sekarang, tak ada maksud terkenal bagi user, tinggal menyiarkan dirinya, bicara curhat curhat, menarik para lelaki yang haus karena nafsunya, sehingga mereka rela mengeluarkan uang banyak atas aplikasi adiktif ini, karena para penyiar-nya wanita cantik yang hanya asik asik baring di tempat tidur, coba cari perhatian dan meraup keuntungan dari penonton penontonnya. Secara tidak langsung, aplikasi jenis ini menunjukkan kebutuhan gairah pengguna dalam instan, irasional justru penghasil uangnya.

Berinovasi atau memanfaatkan kepuasaan manusia, inilah makna dari bisnis Internet Culture, terinspirasi dari legenda cara perusahaan rokok mengambil hati para pemakai-nya.

Tags: , , ,

Seniman dan Fotografernya berasal dari Swiss, Billy Buhler & Dominique Frey

Read the rest of this entry »

Tags: , ,

Akhirnya ketemu apa itu Fashion Influencer, Margaret Zhang, multi-talenta Fotografer, fashion konsultan dan penulis, salah satu artikelnya membolak balikkan kata ‘books, exhibition, books, exhibition’,

Read the rest of this entry »

Tags: , , ,

Terima kasih telah membaca salah satu artikel cukup populer ini, membuat toko online Dropshipping dengan Shopify, ku bertanggung jawab atas teknik – teknik yang ku tulis dini, sedangkan diriku sendiri tidak menjamin ini bisa membawa ratusan juta per bulan, tidak akan?

Read the rest of this entry »

Tags: , ,

Lagi enak mood-ku, surat kabar hari ini gratis, terkadang harus mendinginkan kembali kenapa budaya teknologi ‘efektif’ tidak selalu efektif, tidak semua Algorithma menyelesaikan masalah, tidak semua finansial menerima Quants, kemampuan memilah untuk memilih suatu harga mahal di budaya internet sekarang, apalagi tarifnya main gratis.

Read the rest of this entry »

Tags: , , , , , ,

Aku masih meyakinkan Indonesia, surat kabar KICIKKU adalah petualangan jurnal bisnis dalam cover internasional, langganan berbayar mendorongku untuk menulis disiplin, tak terkecuali ‘berjangka panjang’,

Read the rest of this entry »

Tags: , , , , , , ,

KICIKKU_3304

Bukannya sudah jelas jawabannya?, Rata – rata orang inginnya sebuah hadiah, harus disebarkan ‘kalau aku dapat hadiah besar!’. Sebenarnya VSCO juga berbalas budi dengan hadiahnya, cuma bedanya tidak disebarkan.

Read the rest of this entry »

Tags: , , ,

Aku berterima kasih sebelumnya telah membaca salah satu artikel populer KICIKKU, mengenai membuat toko dropshipping dengan Shopify dan Oberlo. Semoga yang membaca sudah menemukan kunci suksesnya, aku pun sendiri belum tentu bisa menjanjikan apa dropshipping benar menghasilkan puluhan juta, apa yang dikatakan expert – expert lainnya.

Read the rest of this entry »

Tags: , ,

« Older entries