Internet Culture tidak Sebanding Culture-nya

Seorang laki – laki ingin mencari jodoh, demi menghilangkan kesepian, dia berharap ada wanita cantik yang akan akrab dengannya, wanita yang bisa diajak jalan berdua sambil kenalan, wanita berkualitas yang punya karir dan sibuk dalam sehari harinya. Setelah daftar di Tinder, ga sesuai harapannya, dia berjodoh dengan wanita cantik yang kerjaannya minta uang dan pulsa, perempuan perempuan ga punya kerjaan, selain tidur tiduran hanya selfie, ga berani mengajaknya jalan.

Sehari – hari apa yang kamu bosankan sekarang lebih berarti banding melampiaskan ‘cari jodoh di Tinder’, saat inovasi tidak sebanding dengan harapan culture-nya.

Kehidupan ini lebih baik tanpa ‘sosial media’, tidak menjadi bagian dari masalah orang lain, tidak ada bahan tawaan kritik pelecehan bagi teman atau orang asing, yang menemukan ku di sosial media. Betul kata penulis Zadie Smith “Aku ingin punya perasaan, walaupun itu salah, tapi itu cukup tersimpan di privasi hati dan pikiranku”

Kembali pertanyaan lebih umum lagi, sebenarnya kita butuh tidak teknologi baru lagi? – Terutama dalam industri konsumen sekarang. Beranjak ke negeri Jepang, seharusnya kalian tahu Jepang sebagai pusat perhatian untuk kalangan berlibur, karena tidak mungkin tanpa keberagaman kreativitas-nya, jalan – jalannya dipenuhi orang – orang ramai bersantai, bersusun retail – retail kecil para pengusaha kreatif, menjual dedikasi obsesi-nya terhadap sesuatu, ada penjual pisau yang benar benar tahu bagaimana istilah ‘pisau’ bukan sekedar pisau, ada pengrajin Payung menjual yang tidak hanya melindungi dari deras hujan, Payung bisa menaikkan status simbol dari tampaknya.

Ini adalah Culture Jepang yang tidak bisa ditemui oleh Internet Culture. Berbeda konsep rasional di dunia bisnis dan karir yang diperhatikan oleh kalangan kalangan mereka saja, mengutamakan perkembangan Internet Culture ini, barang kali rakyat biasa yang berjalan alur di arah konvensional bisa saja sudah cukup sukses terbiasa dengan jalannya sekarang, ketika Internet Culture masuk ke sehari – harinya, justru aktivitas tambah ribet.

Sekarang di tengah tengah perubahan semakin cepat semakin efektif. Semakin cepat pula, semakin hilang seni cerita-nya. Internet Culture bisa menemukan Cafe paling nomor satu di Jakarta, lewat prediksi A.I.-nya, mengumpulkan input input data yang diulas para pengguna-nya, gara – gara ini Cafe yang terikut bagian harus merasa bersaing di platform tersebut, sekali mengunjungi-nya ternyata pengunjungnya hanya itu itu saja orangnya “Sekumpulan anak muda, membawa laptop, karyawan karyawan kantoran, rata – rata sosialita”. Internet Culture berhasil membawa orang – orang tersebut dari sikap logika-nya.


Bagaimana Culture Cafe tetap di atas pendiriannya tanpa pengaruh perubahan, tanya ke teman “Ku tahu kamu lama di Jakarta, masa kamu ga pernah ngajak ngopi padahal kita udah teman lama” “Ya seandainya aku tahu, tempat favoritmu gimana, ya sudah aku ajak lah” Besoknya pergi, pilihannya pasti selalu kelihatan alternatif, Cafe-nya selalu ramai, kelihatan tua, sajian kopi-nya tidak berstandar, yang datang “Para pejabat pejabat dan istri – istrinya saling melempar opini ketawa, orang orang akrab yang sudah lama kenal dengan pemilik Cafe”

Cafe ini selalu ramai karena ekspresi para pengunjungnya, bukan musik Jazz berirama, sang teman berkata “Ku ga mengira, ada Cafe suasana ini” “Ini Cafe orang tahu dari mulut ke mulut, sejarahnya perintis Cafe ini, pernah tinggal di Inggris, pemilik kedai Kopi sana, balik ke Indonesia, dibawa culture-nya ke sini. Belum ada media mainstream bahas ni Cafe, jurnal Inggris pernah berkunjung…” terus hingga cerita dia berbelit – belit.

Setelah ku tahu Internet Culture tidak bisa seperti ini, berarti selama ini orang yang pengaruh di industri tech consuming *istilahnya, perusahaan perusahaan besar atas keyakinannya, selalu berusaha membujuk kita tentang ini? – Teknologi tahu semua akan diadaptasi dengan konsep A.I. Big Data dan Machine Learning, tapi rakyat memang merasa ini kebutuhan? Di antara tekanan tekanan sekitarnya

Lanjut ke Jepang, Jepang terkenal dari legenda paling kecil-nya, penduduknya hingga modern terbiasa jalan kaki, makanya perusahaan mobil Toyota Honda lebih demen di Indonesia, daripada di negaranya sendiri, kebiasaan kebiasaan jalan kakinya, budaya retail lokal ekonomi-nya tetap hidup walaupun hantu hantu Ecommerce berdatangan, selain penduduk lokal menghidupkan alur bisnis ini, para turis tidak ada habisnya ikut mengambil inspirasi ini, bukan alasan kecil lagi, kalau Jepang memang negara terkenal karena retail commerce-nya.

Sama kasusnya di Singapore, Internet Culture Ecommerce tidak diterima di sini, negaranya kecil, penduduknya suka jalan jalan, kota dimana – mana sangat menarik, makanya Ecommerce tidak laku di Singapore, emosi culture kota-nya sudah lebih maju. Sayangnya Singapore, negara Asia tenggara menjadi pusat riset terkemuka dan ketika jadi siap komersial, siap harga murah, tempat perang jual belinya di kita kita, Indonesia, India, mereka penggerak produksi-nya, kita yang jatuh di tangan konsumennya.

Kenapa Indonesia termasuk Investasi Asing termasuk China di sektor ini, Internet Culture bekerja efisien di negara ini, karena negara ekspansi ini kepulauan, penduduknya tidak berjalan kaki, jalanan macet di mana mana. Solusi betul mengubah kebiasaan kebiasaan negara berkembang untuk potensi Internet Culture, kenapa Ecommerce beserta Delivery-nya yakin di ladang permainan ini, pertanyaan mereka adalah, di antara kompetisi-nya, bagaimana mengambil perhatian di seluruh indonesia?, cerita cerita basis konten dan manipulasi harga-nya, ekspansi kemana kemana, imajinasi dalam Mall besar yang bikin pengunjung bingung cari pintu keluar.

Karena Indonesia tidak akan seperti Jepang, ketika pengusaha awam tidak merasa langka di contoh keberagaman retail Jepang, pengusaha Indonesia cenderung ke kuantitas produksi dalam harga murah, daripada obsesi spesial langka berjangka panjang kualitas tinggi harga pantas.

Sakitnya lagi berada di bisnis Internet Culture, mereka memposisikan di dalam lingkaran tengah, untuk mengajak orang – orang masuk ke lingkaran tengah buatan mereka, cara pikir corporate mereka akan melakukan apapun menurut analisis riset kelebihan mereka sendiri dari tawaran promosi mereka hanya untuk menimbun pengguna di lingkaran Internet Culture.

Saat kembali di Jepang, orang – orang tersebar tadi tidak ada niat untuk mengumpul di lingkaran tengah, mereka di antara antara lingkaran kecil Retail, saat pemilik lingkaran kenal siapa orang – orang senang mengunjungi-nya, mungkin memperlakukan beda banding yang baru pertama kali.

Apapun itu pembahasan riset dalam industri Internet dalam Big Data, Artificial Intelligence, kalau culture masyarakat tidak menerima, tidak ada guna selain sampah yang nganggur di antara Internet Internet lainnya, satu satunya cara di mana kamu menemukan lubang yang harus diisi untuk mengolah ide internet culture menjadi culture sesungguhnya bagi mereka.

Kembali ke Tinder, potensi tinggi di sosial media, kenalan wanita cantik tanpa menghampirinya, instan, tidak ada resiko ketemu bermodal dulu, tidak ada konsekuensi gagal selain “memulai chat dulu”, karena Internet Culture ini, semuanya bermain aman, ide Tinder bisa berkembang, ala aplikasi streaming sekarang, tak ada maksud terkenal bagi user, tinggal menyiarkan dirinya, bicara curhat curhat, menarik para lelaki yang haus karena nafsunya, sehingga mereka rela mengeluarkan uang banyak atas aplikasi adiktif ini, karena para penyiar-nya wanita cantik yang hanya asik asik baring di tempat tidur, coba cari perhatian dan meraup keuntungan dari penonton penontonnya. Secara tidak langsung, aplikasi jenis ini menunjukkan kebutuhan gairah pengguna dalam instan, irasional justru penghasil uangnya.

Berinovasi atau memanfaatkan kepuasaan manusia, inilah makna dari bisnis Internet Culture, terinspirasi dari legenda cara perusahaan rokok mengambil hati para pemakai-nya.

Saat Desainer Buka Peluang Bisnis Baru

Ada kalanya, desainer tidak hanya mencari – cari client untuk membutuhi finansial mereka, desainer bikin poster setiap minggu sehari membagikannya ke Internet, memperlihatkan ini style mereka, mengesampingkan juga hasil karyanya dijual dengan poster. Secara terbuka, desainer ingin membuka peluang bisnis sendiri.

Read More

Young as Commentary

Whose read your cultural commentary?, from fashion, design, architecture until literatures, everyone owns opinions in the era of limitless screen. That’s it, What’s the matter today on commentary?, or we can respect it with critique.

Read More

Hanya Facebook 15 Tahun ga Berubah

Facebook, pengalaman terindah masa – masa sekolah, ingin kenalan dengan cewe tanpa ketemu langsung, melihat kumpulan foto cantiknya, sudah merasa kenal sendiri, zaman SMA masih tergantung Facebook, tidak ada kekhawatiran privasi, justru ingin nunjukkan kalau aku cowo begini yang cari – cari perhatian dari kamu, zaman SMA masih belajar romansa.

Read More