Coming Soon.. App Terbaruku, Mood Contents

Aku membuat app ini sudah tiga bulan lalu dan akan rilis bulan September dan, untuk versi ke depannya pertama kali ku kembangkan untuk iPad. Ini app untuk referensi para orang kreatif, seperti Pinterest, Tumblr, uniknya ini tidak ada registrasi akun, seperti majalah, sudah dipilih – pilih yang bagus. Jadi kamu tidak perlu menggali gali lagi.

Belum bisa ku beritahu nama app-nya, Coming soon on iOS

Startup Memberi Makan Startup

Apa yang kamu cari di era orientasi pengusaha teknologi? Mengembangkan platform untuk pebisnis yang ingin menghasilkan uang dengan platform kita.

Dan sekarang, kita berada di tengah waktu tersebut. Waktu sudah mempersembahkan budaya baru “No-Code”, bagi siapa yang ingin menciptakan bisnis online apa saja orientasi startup-nya, pengusaha tinggal mengeluarkan kelas uang sewa-an, jadilah bisnis-mu.

“No-Code”, di mana pebisnis online tidak perlu khawatir soal teknik cara buat-nya, Startup kini sudah terlalu banyak menciptakan solusi di-jajarannya, solusi tersebut bukan untuk langsung ke publik menjual sesuatu, tapi menjual gudang, platform untuk pebisnis awam yang mengerti siapa pasar mereka. Ku istilah-kan, Startup Memberi Makan Startup.

Gelombang “No-Code” mengancam kreativitas nilai para pengembang generasi ke depan, sekarang mudahnya orang buka website sendiri hanya dikemas dalam sekali transaksi langganan, sudah bisa terpampang di Internet, hebatnya lagi menyusun konten dan halaman-nya sudah seperti majalah.

Sekarang kebutuhan pengusaha sekarang, apalagi dalam komunitas, mereka tidak butuh teknologi paling ke depan lagi, selain cara cepat untuk menjual barang toko mereka, belum lagi dengan marketplace lainnya.

Pemberi makan Startup, mereka tahu betul ilmu teknik-nya, yang menciptakan toko-nya, yang memfasilitasi sistem – sistem jualan-nya, pemberi makan tinggal memasang harga dalam bulanan atau tahunan sesuai fitur yang bisa disewakan.

Startup fase kedua, mereka menyewa toko dan fitur-fitur startup pertama, mereka yang menggunakan fasilitas toko tersebut, mereka yang menghiasi seluruh isi toko-nya, mereka juga yang membuka pintu untuk pengunjung, Mereka juga yang bertanggung jawab untuk promosi pemasaran.

Kedua – duanya saling membuka bisnis, tapi yang kedua belum tentu beri keuntungan setelah menyewa tempat pemberi makan Startup.

Ada satu contoh platform pemberi makan Startup, Sharetribe, slogan solusi-nya menakjubkan “Kamu ingin menjadi Airbnb and Etsy selanjutnya?”, dan solusi yang Sharetribe kembangkan persis sama dengan sistem-nya Airbnb, para pengguna mereka harus tahu Marketplace apa yang ditempatkan di website-nya, apa bisa jaringan menyewakan kos?, apa tempat para ibu – ibu ingin menjual aneka ragam seni buatan rumah?

Dari budaya “No-Code” seperti ini, Startup mungkin tidak bisa lagi di tingkat investasi angka langit tinggi, mereka mulai seperti aujukan modal finansial ke Bank untuk buka toko usaha di tengah tengah kota, saat kebanyakan orang tahu nilai platform sudah efisien dan murah.

Amazon belum tentu di jalan jangka panjang sebagai raksasa Ecommerce, kita pelajari dari saingan secara tidak langsung besar bisnis-nya dari menjual gudang platform, Shopify.

Shopify tidak menjual baju diskon-an, mereka menjual gudang toko online untuk kandidat pengusaha, tidak hanya untuk penjual buka toko online, mereka juga buka potensi para pengembang membuat tampilan website, solusi pihak ketiga dan akses supplier partner.

Pemasok barang Amazon belum tentu punya kualitas di barang-nya, karena hanya mengikuti standarisasi Amazon. Shopify memberikan seluruh kewenangan fitur bagi pengusaha online untuk memodifikasi toko-nya, cenderung lebih komitmen dan keberagaman.

Milton Glaser “Konsumsi tak Terhingga”

Desainer legend Milton Glaser berulang tahun yang ke-90, dia memberikan pelajaran ke kita semua bagaimana merayakannya. Tidak ada yang spesial baginya, dia lebih menikmati di depan meja gambarnya, bekerja seperti sehari – hari.

“Cara apa lagi merayakan 90 tahun selain bikin otak tanpa istirahat ini bekerja?”

Di sini aku tidak mau merayakan ulang tahunnya, betul Milton Glaser tidak punya kata ‘Pensiun’ di kamus-nya, dia ingin lebih terus belajar hal baru, walaupun tak bisa sebesar ambisi kalangan muda katanya. Menurutnya, Pensiun itu naluri bagi orang – orang kalangan industri perusahaan, bukan untuk seniman dan pelukis.

Aku ingin membahas salah satu essaynya, tentang pengaruh pekerjaan dia sebagai Illustrator dan realitas budaya sekarang, judulnya Dark and Light  – The Strange Case of the Decline of Illustration.

Sedihnya pelajaran dari datangnya era TV ada di satu prinsip, endless consumption.

Dia khawatir orang – orang Amerika sana, tidak bisa membedakan mana realitas, sudah dipengaruh kuat oleh adiksi virtual reality dari televisi, dunia hiburan dan advertising. Aku juga mengkhawatirkan anak muda Indonesia, berjam – jam di warung kopi, sambil pegang hape melintang. 

Milton Glaser menulis essay ini sebelum datang Internet dan Smartphone,

Sel – sel yang ada di badan kita sudah diprogram untuk merespon cahaya. Aku menganggap kebiasaan otak seperti ini akan mematikan natural reseptors kita.

Maksudnya Otak ini tidak responsif lagi

Dia juga mengkritik bagaimana publik sudah kehilangan idealisme-nya, muncul era Fotografi lebih berkesan, karena bisa menangkap realitas. Kebetulan Milton Glaser juga seorang Illustrator, dia merasa industri fantasi menggambar sudah kehilangan minat.

Milton Glaser berpikir panjang, untuk generasi depan termasuk aku. Kita kehilangan sensasi untuk bergerak produktif, terpengaruh konten dunia hiburan di mana – mana, ini pelajaran bagiku. 

Kalau kamu merasa ego, biarkan anak – anak muda itu jatuh di lubang buaya-nya sendiri, terlalu asik sensasi viral, hiburan di depan layar sangat gampang, menghambur uang kemana – kemana. Kamu sendiri ber-ide seperti orang Eropa, bekerja seperti orang China.

Ini termasuk motivasi ku. Jiwa muda ku seharusnya tidak bisa mengeluh karena hanya pekerjaan, tapi kakek tua 90 tahun mencari – cari waktu ingin terus bergambar dan bekerja, “Ini soal tujuan-mu kemana, bagiku mengajar yang telah memperkaya kehidupan-ku”

Selamat Bekerja di Apple

Ada pekerjaan dan pekerjaan kehidupan kamu.

Ada jenis kerjaan jejak jarimu ada di mana – mana. Sejenis kerjaan yang tidak akan kamu kompromi. Sejenis kerjaan yang akan kamu korbankan akhir minggu. Kamu bisa lakukan sejenis kerjaan begitu di Apple. Orang datang ke sini bukan untuk main aman. Mereka ke sini untuk berenang ke paling bawah.

Mereka ingin kerjaan mereka menaikkan sesuatu.

Sesuatu besar. Sesuatu yang tidak terjadi di tempat lain.

Selamat datang di Apple

Paul Arden, Saat Fashion Mengancam Kreatif

Fashion adalah prediksi, mengikuti apa yang nampak menarik ke kita, yang memancing emosi, melempar kepercayaan satu sama lain.

Jika kamu mengikuti era Fashion, berarti kamu belum kreatif, tidak berani resiko untuk menciptakan sendiri, selama ini Fashion memang tren, Fashion adalah panduan bergaya hidup di atas panduan orang lain.

Setelah membaca buku dari Paul Arden, It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be.

The Villain is not always the client. It is the fashion of the day that usually dictates the layout. Be unfashionable. Take risks

Paul Arden, seorang genius di era emas Advertising Saatchi & Saatchi, dalam proses bernarasi iklan untuk orang – orang ego bisnis, aku mulai terinspirasi kenangan orang tua ini, buku digital-nya gratis di Archive.

Dari sini aku bisa menilai, aku belajar cara kreatif bukan dari orang seni, penulis atau desain. Tapi dari orang advertising dulu, karena dari cara mereka menghasilkan karya, setiap karya-nya dari titik terawam semua orang bisa menikmatinya, entah itu kesan-nya baik atau buruk, semua orang mengerti.

Tokoh terkenal seperti Paul Arden, selalu berdebat dengan client-nya, di pernyataan buku tersebut, “Client ingin brand-nya terpampang, produk dan manfaatnya – Orang kreatif ingin menampilkan diri-nya – Client senang ada logo perusahaan-nya, tapi butuh lain juga – Si kreatif perlu seseorang yang membayar skill-nya – Si Client tahu juga ide kreatif bisa menaikkan bisnisnya”

Karena koneksi seperti ini, kreativitas di tengah – tengah menikmati perdebatan, kritik hingga hasil yang tak mengira akan berhasil atau gagal di jalanan. Bandingkan dengan seni, di era modern ini, seni abstrak tak punya makna, kita yang berharap kritik, tidak tahu cara-nya, bahkan ahli-nya mengkritik belum tentu mengerti oleh orang lain, ujung – ujungnya apresiasi kalangan tertentu.

Saat inilah Fashion selalu berada di jalan yang sama dan menyuruh orang mengikuti gaya hidup-nya, menganggap seni kenikmatan berkelas. Di sinilah kreatif terancam, tidak berani beresiko suatu reaksi baru.

Mulai sekarang, cari orang Fashion yang menciptakan Fashion-nya sendiri.

Atau ciptakan sendiri.

Membeli Waktu Kosong

Bertani di pagi hari, bersajak sambil nikmati bekal istri di pendopo tengah tengah sawah, waktu tidak perlu menganggap kami, hanya khawatir hasil panen kami akan terjual di kebutuhan orang pasar sana, mau beli ini itu ujung – ujungnya tidak berguna. Pulang dari Sawah, sebentar duduk bersandar di depan rumah, nikmati matahari terbenam, saat begini manusia belah sana ikut juga ga menikmati teater alam ini?

Artikel dari NYTimes “Kamu melakukan sesuatu yang penting saat kamu tidak melakukan apapun”, Opini seorang penulis, tentang prinsip kerja. Ketika semua orang ingin membahas mengaku kreativitas, ternyata kreativitas berasal jauh dari kata – kata “produktivitas”, hal – hal yang ku pelajari, “Menjadi bosan, istirahat, membaca, dan kembali ke realitas manusia”

Ini memang tidak kebetulan saat kita berlomba lomba mencari bahasa lebih baik dalam produktif (bukti saksi dari para maniac untuk menjadi lebih baik Marie Kondo, teknologi, bebas dari teknologi). Kita semua kesusahan seimbangkan antara bermain dan kerja, kedua – keduanya kunci untuk kehidupan lebih baik. Waktu kosong, ketika dibiasakan benar, bisa saja menyadari kita kenapa pekerjaan selalu di prioritas pertama.

Aku perlu mengerti dulu membosankan diri, waktu lagi stress-nya pekerjaan, tinggalkan saja, waktu kelamaan santai di tengah tengah bosan, kembali ke kerjaan. Kalau bosannya ke Internet terus, belum tentu bisa fokus ke kerjaan lagi. Maknaku mengerti “Waktu kosong”

Sedangkan asumsi manusia sekarang apalagi budaya Corporate, kamu harus lahir untuk memproduksi sesuatu agar kelihatan orang lain, jika tidak, kamu ga berguna. Berarti kita dalam krisis, bekerja penuh. Krisis memikirkan orang lain, empathy, apalagi waktu bermain. Krisis, kreativitas selalu identik dengan bekerja dan produktif.

“Waktu kosong” sangat luas, zaman-nya banyak pilihan sekarang, dari aktivitas nonton hingga streaming Youtube untuk santai, itu bukan termasuk “waktu kosong”. Kalau kamu pergi ke taman, bawa buku dan pen, menulis jurnal tidak jelas, sambil nikmati “Espresso”, lupakan pekerjaan, ini baru “waktu kosong”. Kembali ke zaman di mana Leonardo da Vinci hanya punya kayu, buku, pen dan pemandangan sekitar.

Apa yang kita tidak punya sekarang, justru awal bagus untuk membosankan diri. Tak lama lagi, tangan-mu ingin membuat sesuatu.

Siapa yang santai dalam pekerjaannya banding kamu, bagaimana jika ternyata dia lebih kreatif ? – Pikir dua kali, mungkin dia bangga jadi Petani.

Lebih baik ga lakukan apa apa

Penulis dari Jepang, salah satu karyanya terinspirasi dari keseharian dirinya pergi ke sebuah toko Retail kecil, seperti Minimarket, untuk membeli kebutuhan makan dan minumnya, dia takjub dengan penjaga toko tersebut, bertahun tahun dia menjaga toko tersebut, hingga realitas nasibnya akan terancam berakhir, karena kebanyakan orang sudah serba online kebutuhan grosirnya. Cari tahu nama dia, tulis di Internet “Convenience Store Woman”

“Sebuah intimasi terjadi, ketika satu bertemu satu lainnya di satu tempat”, pernah dengar istilah ini di belahan Internet mana, mempelajari Internet, semakin ingin menghindari ambisi Internet. Efektivitas semakin cepat, semakin juga orang malas. Semakin orang menghindari emosi dari emosi orang lain, semakin orang memalsukan emosi-nya.

Artikel dari NYTimes membuktikan krisis “Intimasi”, kebiasaan pemilik Cocktail atau Cafe akan tahu siapa pelanggan biasa yang datang setiap hari, setiap minggu, “Baru kelihatan kamu, dari mana kamu” “Dinas pekerjaan, pesanan biasa ya!”. Bayangkan saja film – film America, diri tokoh utama-nya selalu merefleksikan apa yang terjadi di tempat nongkrong langganan-nya, “Messy man, you looks noisy in your problem” “Just give me my scootch”.

Aku iri dengan orang – orang klasik di atas, karena kebetulan bisnisku banyak ke digital, sangat langka bagiku untuk menikmati momen tersebut, setidaknya tahu mana yang seharusnya “inovasi” datang, di mana seharusnya inovasi digital ga perlu datang.

Internet ga bisa berikan apa itu “Intimasi”, mereka bicara skala, di tengah tengah universal, yang tidak ada batasannya, apalagi Startup yang mengesampingkan ide untuk kebutuhan kita, aku tidak menyadari juga orang yang berada di kalangan “teknologi informasi”, mungkin digital sendiri bisa membawa komunitas menuju “intimasi”, namun intimasi butuh batasan, bukan universal, ada partisipasi manusia empat mata atau lebih.

Daripada mutar balik mutar balik ide potensi bisnis kota, ada kalanya lebih baik tidak melakukan apa apa. Atau karena satu perusahaan bisa, karena yang lain juga melakukannya, apa berarti kita mesti juga melakukannya.

Mungkin “diam”, tidak melebihkan “agresif”, kembali naluri manusia-nya, kembali di mana dia seharusnya, dimana Intimasi seharusnya. Jika lebih memilih tidak “diam” karena “Semua-nya harus digital”, naluri manusia tidak bisa diprediksi, ego merasa benar, atau memikirkan diri sendiri.

Seiring perkembangan, bukankah ini semestinya jalan berdarah darah untuk membuka erat erat ide original kualitas yang kamu miliki, memperjuangkannya dengan pakaian kotor, bergerak cacat sampai orang terkejut. Daripada berjalan sempurna membawa jadian, bikin publik manja terikut – ikut arus.